ecclesia reformata semper reformanda

WELCOME

Selamat datang
All of you are invited!!!

blog ini berisikan tentang renungan saya dalam kehidupan sehari-hari
selain itu ada beberapa karya ilmiah saya pada saat saya studi di sekolah teologi.

Semoga mendapatkan berkat melalui blog ini
Tuhan memberkati
HI FRIENDS, WELCOME TO MY BLOG.. I HOPE YOU LIKE IT..GBU ALWAYS

Jumat, 07 Desember 2012

Bekal Makan Siangku

Hari ini aku diajak oleh keluargaku ke sebuah tempat yang luas. Pagi-pagi hari mereka sudah membangunkanku untuk mempersiapkan diri. Ibuku sibuk untuk menyiapkan bekal untuk kami makan nanti. Lalu, aku pun melangkahkan kakiku untuk mandi membersihkan diri. Setelah membersihkan diri, akupun mengambil pakaian yang akan kupakai nanti. “Ayo sarapan dulu nak”, terdengar panggilan ibuku untuk mengajakku makan. Kemudian kami pun menikmati makanan dan tentu tidak lupa kami memulainya dalam doa untuk memanjatkan syukur kepada Tuhan Sang Pencipta.

“Ayo nak kita berangkat,” ujar ayahku kepadaku.
“Memangnya kita mau kemana ayah?” tanyaku.
“Ya nanti kamu akan tahu, kita harus cepat karena pasti akan banyak orang,” ujar ayahku sambil memegang tanganku.
“Baik ayah ...,” kataku.
“Bu, ayo cepat ...,”panggilan ayah kepada ibu yang sedang menutup pintu rumah.

Perjalanan kami cukup jauh dan matahari pun bersinar dengan teriknya. “fyuhh panasnya ...,” ujarku dalam hati. Dalam perjalanan itu aku melihat raut wajah ayahku sungguh bersemangat, entah apa yang ada di benaknya sehingga wajahnya seperti itu.

“Ayah, sebenarnya kita mau kemana sih?” kembali tanyaku dengan penasaran.
“Kita akan melihat seseorang yang luar biasa,” ujar ayahku.
“Orang ini dapat melakukan perbuatan yang besar,” tambah ibuku.
“Wow ...,” ujarku kepada mereka.

Kemudian tibalah kami di hamparan padang rumput yang luas, dan aku melihat banyak sekali orang-orang yang berbondong-bondong untuk datang ke tempat itu. “Ayo kita ke depan bu,” kata ayah kepada Ibu sambil menarik tanganku untuk mengikuti mereka berdua. Matahari yang sangat terik tidak menghalangi orang-orang untuk datang ke tempat ini. Aku pun melihat orang-orang yang buta juga datang ke tempat ini, ada seseorang yang membawa orang yang lumpuh mungkin sanak saudaranya, aku pun melihat anak-anak sebayaku yang juga diajak oleh orang tuanya. Aku melihat padang rumput ini menjadi seperti lautan manusia. Timbullah pertanyaanku kembali “memangnya siapa yang mereka cari sehingga banyak orang yang hadir disini?”
“Ayo bu, di sini tempat yang tepat untuk melihat dan mendengarnya,” kata ayahku kepada Ibuku.
“Baik ayah, semoga kita bisa melihatnya dengan jelas,” kata ibuku.

“Guru, apa yang harus kita lakukan? Banyak orang disini,” kata seorang laki-laki kepada seorang yang raut wajahnya menunjukkan ketenangan.
“Roti seharga dua ratus dinar tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka,” timpal orang yang kedua.

Memang pada saat itu matahari bersinar terik, dan memang waktu itu bertepatan dengan jam makan siang. Akupun melihat banyak orang yang tidak membawa bekal untuk memenuhi kebutuhan mereka, ada juga seorang yang membawa bekal tapi tidak mau membagikannya kepada sesamanya. “Guru, apa yang harus kita lakukan???” seseorang berteriak karena panik.

“Ayah, mereka sedang apa?”tanyaku kepada ayahku.
“Sepertinya mereka sedang kebingungan karena tidak bisa menyediakan makanan yang cukup untuk orang banyak, beruntung kita menyiapkan bekal,” kata ayahku kepadaku.
“Iya, salah mereka tidak mau menyiapkan bekal ...,” kata ibuku sambil menunjuk orang banyak.
Lalu akupun teringat akan kata-kata seorang ahli Taurat saat membacakan kitab Taurat di sebuah Sinagoge. “Kasihilah sesamamu manusia ...,” kira-kira seperti itulah kata-kata yang aku ingat saat aku belajar kitab Taurat di Sinagoge.
“Ayah kita harus menolong mereka,” ujarku kepada ayah.
“Menolong? Maksudmu bagaimana?” tanya ayahku kepadaku.
“Saya mau menyerahkan bekal kita kepada mereka ...”
“Ehhh, jangan ... nanti kita makan apa lagipula apa gunanya lima roti dan dua ikan untuk diberikan kepada orang banyak ini?” kata ibuku sambil menghalangiku.
“Lhoo, tadi ibu berkata kepada saya bahwa orang ini dapat melakukan perbuatan besar? Mengapa sekarang tidak yakin lagi?” Kataku kepada ibuku.
“Iya memang dia dapat melakukan perbuatan besar, tapi nanti kita bisa kelaparan,” tambah ayahku.
“Ayah dan ibu, bukankah di dalam ajaran kita diajarkan untuk mengasihi manusia seperti diri sendiri? Oleh karena itu saya mau memberikan bantuan ...,” tegasku.

Akhirnya ayah dan ibu merelakan diriku untuk bangkit dan berdiri. “Bapak-bapak, saya punya lima roti dan dua ikan,” teriakku kepada seseorang murid dari orang itu. “Guru, ini ada seorang anak yang mau memberikan lima roti dan dua ikan,” kata seseorang kepada gurunya. “Kemarikanlah,” kata orang itu. Lalu aku melihatnya berdoa dan mulai memecah-mecah roti dan membagikan kedua ikan. “Luar biasa,” kataku dalam hati, orang itu terus menerus memecahkan roti dan akhirnya dapat dipenuhilah kebutuhan makanan orang banyak.

“Ayah, siapa orang itu?” tanyaku kepada ayah.
“Nama-Nya adalah Yesus ... Dia yang dapat melakukan perbuatan ajaib dan besar,” kata ayahku.
“Wow, sungguh luar biasa yang Dia lakukan,” kataku dengan penuh takjub.

Tiba-tiba Yesus memalingkan wajah-Nya dan berkata kepadaku, “Terima kasih akan kasihmu untuk memberikan bekalmu, rasa berbagi kepada sesama memang harus dari dipupuk sejak awal,” kata Yesus kepadaku. Perkataan itu membuatku semakin memuji Tuhan bahwa kuasa-Nya dinyatakan. Akhirnya aku dan keluargaku kembali pulang, dan aku pun tersenyum ceria karena pengalamanku melihat perbuatan yang ajaib dari Tuhan.

Sabtu, 27 Oktober 2012

DIM SUM UNTUK KELUARGA



Dim Sum Untuk Keluarga.  Pasti saat kita melihat kata dim sum yang pertama kali dipikirkan oleh kita adalah siomay, hakaw, ceker ayam, dsb.  Itu tidak salah bahkan memang benar kalau makanan yang disebutkan tadi adalah bagian dari menu dim sum.  Namun apakah kita mengetahui arti dim sum secara filosofis? 

Dim Sum (dalam dialek Cantonese) atau Dianxin (dalam bahasa Mandarin) secara harafiah berarti sedikit dari hati atau menyentuh hatimu. Kata ini disunting dan frasa yi dian xin yi yang artinya sedikit tanda mata. Kemudian secara umum kemudian digunakan sebagai istilah untuk menyebut camilan ringan. Dim sum sudah dikenai sebagai makanan popular sejak ribuan tahun lalu. Kebiasaan makan dim sum konon bermula pada periode Jalur Sutra (Asia Tengah ke Cina) dan Dinasti Han (206 SM) hingga Dinasti Yuan (Abad 14 M). Ketika itu para petani, buruh dan pedagang yang berbisnis di sepanjang jalur sutra kerap mampir di kedai teh pinggir jalan untuk minum teh di sore hari.

Sejak abad 10 telah dikenal sekitar 2.000 jenis macam dim sum. Di masa sekarang sebuah restoran besar dim sum biasanya menyajikan sekitar 100 jenis dim sum. Dim sum kemudian menjadi sarapan pagi khas Hong Kong (Hong Kong terletak tepat di seberang Propinsi Guangdong, Cina, sehingga masyarakatnya mengikuti kebiasaan di Guangdong). Dim sum sengaja dibuat kecil agar mudah disantap dalam satu kali suapan Bentuknya harus indah agar enak dinikmati bersama teh. Restoran biasa menghidangkan dim sum sejak pagi hingga siang hari. Di Hong Kong dan provinsi Cina lainnya seperti Guangdong, beberapa resto menyajikan dim sum sejak pukul 5 pagi.

Keluarga pun senang berkumpul untuk menikmati dim sum bersama di hari Minggu. Biasanya orangtua akan mengajak anak serta untuk berkumpul bersama kakek dan nenek.  Terutama di hari raya seperti Hari Ibu dan Imlek. Di Indonesia, dim sum mulai dikenal sebagai panganan dan makanan utama yang dihidangkan sepanjang hari

Mengapa Dim Sum untuk Keluarga?      
Jika kita berpergian ke restoran dim sum apakah kita pergi dengan teman-teman dan keluarga atau kita sendirian saja? sangatlah jarang seseorang pergi makan di restoran dim sum.  Di dalam restoran dim sum rasa kekeluargaan haruslah terjalin.  Mengapa? Karena pada saat makan dim sum berarti kita makan di satu meja dan komunikasi antar pribadi haruslah terjalin.  Pertanyaan berikutnya adalah “Seberapa sering kita makan bersama dengan keluarga kita?” 

Di dalam visi dan misi GKI Kebonjati Komunitas Kristen yang bersinergi, berbagi, dan ,membarui dalam mewujudkan Kerajaan Allah, untuk membentuk sebuah komunitas yang seperti itu haruslah dimulai dari keluarga.  Mengapa? Karena gereja pada dasarnya dibentuk oleh kumpulan-kumpulan keluarga yang mau melayani Tuhan.  jika di dalam komunitas kecil yaitu keluarga visi dan misi tersebut dapat dilakukan maka akan lebih mudah diejawantahkan dalam komunitas yang lebih besar yaitu gereja.

Masalah di dalam keluarga pada saat ini adalah karena kesibukan masing-masing pribadi dalam keluarga sehingga mengakibatkan kualitas pertemuan menjadi berkurang.  Di dalam pertemuan di meja makan, diharapkan komunikasi antara anggota keluarga dapat terjalin sehingga hubungan antar anggota keluarga menjadi lekat.  Bagaimana kita dapat bersinergi, berbagi, dan membarui jika kita tidak dapat menyentuh hati dengan suami atau istri , saudara sekandung, dan anak-anak?    Dim sum untuk keluarga adalah pada saat anggota keluarga dapat menyentuh hati setiap anggota keluarga dan memberikan yang terbaik dalam memuliakan Tuhan di dalam keluarga, gereja, dan masyarakat.
  
Tuhan memberkati kita semua


Sumber bacaan
John Ng, Dim Sum untuk Keluarga (Gloria Graffa:Yogyakarta, 2011)

INDOMIE ISTIMEWA



“Davidddddddd....makannnnn!!!!!”

Teringat memori saya ketika berusia sembilan tahun tentang kata-kata yang diucapkan oleh oma saya untuk makan bersama di meja makan. Padahal saat itu saya sedang menonton program televisi favorit saya ksatria baja hitam. 

“Daviddddddd, cepat kesiniii...makanan sudah disiapkan!!”

Kembali kata-kata itu diucapkan kedua kalinya, dan saya tahu jika sampai kata-kata itu diucapkan sampai ketiga kalinya maka saya tidak akan diberi makan.  Beranjaklah saya menuju ke tempat makan dan hendak mengambil makanan itu untuk makan di depan televisi lalu terjadilah dialog antara saya dengan oma saya

“Oma, saya mau makannya sambil nonton baja hitam” kataku kepada oma
“Tidak boleh, kamu harus makan bersama oma di meja makan ini” jawab oma
(dengan kesal)”saya tidak mau, saya mau makan bersama Ksatria Baja Hitam”
(menghela nafas)”baik jika kamu mau makan bersama baja hitam, kamu minta dimasaki saja sama baja hitam sana, ini masakan oma” dengan lembut oma menjawabku
“ga mungkin dong oma, kan baja hitam di televisi mana bisa disuruh masak”
“kalau begitu ayo makan bersama oma di sini sekalian temani oma ngobrol”
“Ga mau, saya mau nonton baja hitam!!!...”
“baik kalau kamu mau menonton baja hitam, kamu tidak dapat makan hari ini” Tegas oma kepadaku
“oma jahattt...baja hitamnya kan sebentar lagi”
“kamu belum makan dari pulang sekolah, nanti kamu sakit...ayo makan dulu nanti nontonnya dilanjutkan” nasehat oma kepadaku
“iya, iyaa....” kataku kepada oma

Hampir enambelas tahun silam oma telah meninggalkan dunia ini di usianya yang ke 74 tahun.  Namun kenangan bersamanya masih terasa dalam ingatan saya.  Memang masakan yang dibuat oleh oma saya hanya berupa indomie.  Namun entah mengapa terasa berbeda jika beliau yang memasak indomie tersebut.  Saya tidak bisa lagi merasakan indomie istimewa tersebut dengan adanya telur yang spesial dan bawang goreng buatannya yang sangat gurih. 

Kenangan makan bersama dengan oma saya begitu terasa karena harus makan bersama dengannya di meja makan, dengan beliau bertanya bagaimana pelajaran saya di sekolah, sudah mengerjakan PR atau belum, sudah cuci tangan atau belum.  Hal-hal yang kecil yang seringkali saya jawab dengan kata-kata “oma bawel yaa” namun selalu ditanggapinya dengan senyuman sambil mencium pipi saya.  Hal-hal yang kecil yang begitu indah membuat saya tidak bisa melupakan hal tersebut.

Umat yang terkasih dalam Yesus Kristus, sebuah kenangan berharga menandakan bahwa orang tersebut telah mengikat hati kita sehingga kita selalu bersyukur Tuhan telah memberikan anugerah terindah kita dapat hidup bersama-sama dengan orang yang kita cintai.  Di dalam Kolose 3:14  “Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan”  Marilah kita mengikatkan hati kita dengan keluarga dan orang-orang yang kita sayangi dengan mengikatkan kasih satu dengan yang lain.  Hal-hal kecil begitu berharga, ciptakanlah kenangan indah dalam setiap waktu yang Tuhan berikan.

Tuhan Yesus berkati kita semua



                

Jumat, 05 Oktober 2012

The Strangers


Ini adalah kisah saya sekitar tahun 2006 dimana saya masih menjadi mahasiswa tingkat tiga di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta.  Pada Senin pagi yang cerah dimana saya akan pergi menuju ke kampus.   Saya seperti biasanya menunggu bis Patas 67 di halte Gunung Sahari.  Pada pagi hari itu, saya melihat banyak sekali orang-orang yang mulai beraktivitas untuk pergi ke kantor, sekolah, dan pedagang yang mulai menjajakan barang dagangannya.

“Rokok, rokok, aqua-aqua, mizone..mizone”  kata-kata yang sudah biasa saya dengar di pagi hari

Kemudian terdengarlah suara bis yang mendekat secara perlahan menuju halte di mana saya berada. Bis ini berwarna putih kusam, cat yang sudah mengelupas di mana-mana, dan kaca jendela yang sudah mulai hilang tidak berada di tempatnya

“Senen-Blok M, Senen Blok M”  teriak seorang kenek bis tersebut.

Itulah pertanda bis yang saya tunggu sudah tiba. Kemudian saya melangkahkan kaki saya untuk menaiki bis tersebut dan menuju kampus saya.
Saat itu kondisi bus dalam keadaan penuh dan hanya tersisa satu tempat saja di bagian depan.  Kemudian saya menuju ke tempat duduk yang saya tuju.  Saya melihat sekeliling saya, ada seorang pria yang duduk sambil menatap kosong ke luar jendela, ada seorang bapak yang sibuk dengan kertas-kertas kerjanya, dan ada anak-anak sekolah yang berbincang menegenai pelajaran sekolah pada hari ini.  Tepat di belakang tempat duduk saya duduklah seorang wanita yang cantik, bau parfumnya mungkin dapat dicium dari sepuluh
meter.

Tibalah saya di tempat duduk yang saya tuju.  Saya melihat di sebelah tempat duduk tersebut ada seorang ibu berjilbab.“Aduuhhhh...duduk deket ibu-ibu berjilbab lagi, seandainya di sebelah wanita cantik itu” gumam saya dalam hati.  Ibu itu tersenyum kepada saya dan saya tidak membalasnya.  Saya hanya duduk menatap ke depan sambil mendegarkan lagu dari mp3 player seakan ibu tersebut hanyalah angin lalu.
Sekitar setengah jam bus ini berjalan, naiklah seorang pengamen yang berbadan kurus, lusuh, rambutnya panjang tidak teratur, berjenggotan, dan bau.  Pengamen itu berdiri di dekat kursi saya dan saya mulai tidak menyukai keberadaan pengamen itu.  *jrennggg..jrengggg* suara gitar mulai dimainkan,
“Akulah arjunaaaaaa...aaaaa.” 
“Gilaaaa.....”kataku dalam hati.
 Saya terkejut dengan suara nyanyiannya. Terkejut bukan karena terkesima akan suaranya yang seperi Frank Sinatra melainkan suaranya laksana suara bajaj yang sedang dipacu kencang dan  meraung-raung yang luar biasa mengganggu pendengaran manusia.

“Hawa tercipta di duniaaaaaaaaaaa........” kembali dinyanyikan oleh pengamen tersebut.

Suara itu terus menerus saya dengar sehingga suara musik yang saya dengar di MP3 player kalah suaranya.  Sekitar limabelas menit kemudian pengamen itu turun setelah meminta uang kepada penumpang-penumpang dan tentu saja saya tidak memberikan uang kepada pengamen tersebut.   

Kemudian  saya bergumam kecil “masih muda saja sudah malas, dasar miskin.”
Gumaman kecil ini ternyata terdengar oleh ibu berjilbab di sebelah saya. 
Lalu dia menegur saya

“Mas, jika tidak mau memberi uang kepada pengamen tadi, lebih baik diam saja tanpa harus menghakiminya.”

Teguran ini membuat saya terkejut dan menunduk malu. 
Belum sempat untuk memikirkan maksud kata-kata dari ibu yang tidak saya kenal itu terdengarlah suara

“Proklamasi proklamasi....” teriak kenek bis,

Pada saat itu saya menyadari bahwa saya telah tiba di dekat kampus saya.  Setelah turun dari bis tersebut dan menuju ke kampus, akhirnya saya dapat merenungkan setiap teguran yang diberikan oleh ibu yang tidak saya kenal itu, dan anehnya saya tidak marah terhadap beliau melainkan mengucapkan syukur kepada Tuhan bahwa telah ditegur olehnya yang tadinya saya anggap remeh.  “Terima kasih Tuhan akan teguranMu kepadaku... saya harus menghargai setiap manusia dari ibu yang berjilbab sampai seorang pengamen”  ucapanku saat memasuki gerbang STT Jakarta.

Minggu, 05 Agustus 2012

"Gendong Aku Sampai Ajalku Tiba"


Suatu malam ketika aku kembali ke rumah, istriku menghidangkan makan malam untukku. Sambil memegang tangannya aku berkata, "Saya ingin mengatakan sesuatu kepadamu." Istriku lalu duduk di samping sambil menemaniku menikmati makan malam dengan tenang. Tiba-tiba aku tidak tahu harus memulai percakapan dari mana. Kata-kata rasanya berat keluar dari mulutku.

Aku ingin sebuah perceraian di antara kami, karena itu aku beranikan diriku. Nampaknya dia tidak terganggu sama sekali dengan pembicaraanku, dia malah balik bertanya kepadaku dengan tenang, "Mengapa?" Aku menolak menjawabnya, ini membuatnya sungguh marah kepadaku. Malam itu kami tidak saling bertegur sapa. Dia terus menangis dan menangis. Aku tahu bahwa dia ingin tahu alasan di balik keinginanku untuk bercerai.

Dengan sebuah rasa bersalah yang dalam, aku membuat sebuah pernyataan persetujuan untuk bercerai dan dia dapat memiliki rumah kami, mobil, dan 30% dari keuntungan perusahaan kami. Dia sungguh marah dan merobek kertas itu. Wanita yang telah menghabiskan 10 tahun hidupnya bersamaku itu telah menjadi orang yang asing di hatiku. Aku minta maaf kepadanya karena dia telah membuang waktunya 10 tahun bersamaku, untuk semua usaha dan energi yang diberikan kepadaku, tapi aku tidak dapat menarik kembali apa yang telah kukatakan kepada Jane, wanita simpananku, bahwa aku sungguh mencintainya. Istriku menangis lagi. Bagiku tangisannya sekarang tidak berarti apa-apa lagi. Keinginanku untuk bercerai telah bulat.

Hari berikutnya, ketika aku kembali ke rumah sedikit larut, kutemukan dia sedang menulis sesuatu di atas meja di ruang tidur kami. Aku tidak makan malam tapi langsung pergi tidur karena ngantuk yang tak tertahankan akibat rasa capai sesudah seharian bertemu dengan Jane. Ketika terbangun, kulihat dia masih duduk di samping meja itu sambil melanjutkan tulisannya. Aku tidak menghiraukannya dan kembali meneruskan tidurku.

Pagi harinya, dia menyerahkan syarat-syarat perceraian yang telah ditulisnya sejak semalam kepadaku. Dia tidak menginginkan sesuatupun dariku, tetapi hanya membutuhkan waktu sebulan sebelum perceraian. Dia memintaku dalam sebulan itu, kami berdua harus berjuang untuk hidup normal layaknya suami istri. Alasannya sangat sederhana. Putra kami akan menjalani ujian dalam bulan itu sehingga dia tidak ingin mengganggunya dengan rencana perceraian kami. Selain itu, dia juga meminta agar aku harus menggendongnya sambil mengenang kembali saat pesta pernikahan kami. Dia memintaku untuk menggendongnya selama sebulan itu dari kamar tidur sampai muka depan pintu setiap pagi.

Aku pikir dia sudah gila. Akan tetapi, biarlah kucoba untuk membuat hari-hari terakhir kami menjadi indah demi perceraian yang kuinginkan, aku pun menyetujui syarat-syarat yang dia berikan. Aku menceritakan kepada Jane tentang hal itu. Jane tertawa terbahak-bahak mendengarnya. "Terserah saja apa yang menjadi tuntutannya tapi yang pasti dia akan menghadapi perceraian yang telah kita rencanakan," kata Jane.

Ada rasa kaku saat menggendongnya untuk pertama kali, karena kami memang tak pernah lagi melakukan hubungan suami istri belakangan ini. Putra kami melihatnya dan bertepuk tangan di belakang kami. "Wow, papa sedang menggendong mama." Sambil memelukku dengan erat, istriku berkata, "Jangan beritahukan perceraian ini kepada putra kita." Aku menurunkannya di depan pintu. Dia lalu pergi ke depan rumah untuk menunggu bus yang akan membawanya ke tempat kerjanya, sedangkan aku mengendarai mobil sendirian ke kantorku.

Pada hari kedua, kami berdua melakukannya dengan lebih mudah. Dia merapat melekat erat di dadaku. Aku dapat mencium dan merasakan keharuman tubuhnya. Aku menyadari bahwa aku tidak memperhatikan wanita ini dengan seksama untuk waktu yang agak lama. Aku menyadari bahwa dia tidak muda seperti dulu lagi, ada bintik-bintik kecil di wajahnya, rambutnya pun sudah mulai beruban. Namun entah kenapa, hal itu membuatku mengingat bagaimana pernikahan kami dulu.

Pada hari keempat, ketika aku menggendongnya, aku mulai merasakan kedekatan. Inilah wanita yang telah memberi dan mengorbankan 10 tahun kehidupannya untukku. Pada hari keenam dan ketujuh, aku mulai menyadari bahwa kedekatan kami sebagai suami istri mulai tumbuh kembali di hatiku. Aku tentu tidak mengatakan perasaan ini kepada Jane.

Suatu hari, aku memperhatikan dia sedang memilih pakaian yang hendak dia kenakan. Dia mencoba beberapa darinya tapi tidak menemukan satu pun yang cocok untuknya. Dia sedikit mengeluh, "Semua pakaianku terasa terlalu besar untuk tubuhku sekarang." Aku mulai menyadari bahwa dia semakin kurus dan itulah sebabnya kenapa aku dapat dengan mudah menggendongnya. Aku menyadari bahwa dia telah memendam banyak luka dan kepahitan hidup di hatinya. Aku lalu mengulurkan tanganku dan menyentuh kepalanya.

Tiba-tiba putra kami muncul dan berkata," Papa, sekarang saatnya untuk menggendong dan membawa mama." Bagi putraku, melihatku menggendong dan membawa mamanya menjadi peristiwa yang penting dalam hidupnya. Istriku mendekati putra kami dan memeluk erat tubuhnya penuh keharuan. Aku memalingkan wajahku dari peristiwa yang bisa mempengaruhi dan mengubah keputusanku untuk bercerai.

Aku lalu mengangkatnya dengan kedua tanganku, berjalan dari kamar tidur kami, melalui ruang santai sampai ke pintu depan. Tangannya melingkar erat di leherku dengan lembut dan sangat romantis layaknya suami istri yang harmonis. Aku pun memeluk erat tubuhnya, seperti momen hari pernikahan kami 10 tahun yang lalu. Akan tetapi tubuhnya yang sekarang ringan membuatku sedih.

Pada hari terakhir, aku menggendongnya dengan kedua lenganku. Aku susah bergerak meski cuma selangkah ke depan. Putra kami telah pergi ke sekolah. Aku memeluknya erat sambil berkata, "Aku tidak pernah memperhatikan selama ini hidup pernikahan kita telah kehilangan keintiman satu dengan yang lain."

Aku mengendarai sendiri kendaraan ke kantorku, mampir ke tempat Jane. Melompat keluar dari mobilku tanpa mengunci pintunya. Begitu cepatnya karena aku takut jangan sampai ada sesuatu yang membuatku mengubah pikiranku. Aku naik ke lantai atas. Jane membuka pintu dan aku langsung berkata padanya. "Maaf Jane, aku tidak ingin menceraikan istriku."

Jane memandangku penuh tanda tanya bercampur keheranan dan kemudian menyentuh dahiku dengan jarinya. Aku mengelak dan berkata, "Maaf Jane, aku tidak akan bercerai. Hidup perkawinanku terasa membosankan karena dia dan aku tidak memaknai setiap momen kehidupan kami, bukan karena kami tidak saling mencintai satu sama lain. Sekarang aku menyadari sejak aku menggendongnya sebagai syaratnya itu, aku ingin terus menggendongnya sampai hari kematian kami."

Jane sangat kaget mendengar jawabanku. Dia menamparku dan kemudian membanting pintu dengan keras. Aku tidak menghiraukannya. Aku menuruni tangga dan mengendarai mobilku pergi menjauhinya. Aku singgah di sebuah toko bunga di sepanjang jalan itu, aku memesan bunga untuk istriku. Gadis penjual bunga bertanya apa yang harus kutulis di kartunya. Aku tersenyum dan menulis, "Aku akan menggendongmu setiap pagi sampai kematian menjemput."

Petang hari ketika aku tiba di rumah, dengan bunga di tanganku, sebuah senyum menghias wajahku. Aku berlari hanya untuk bertemu dengan istriku dan menyerahkan bunga itu sambil merangkulnya untuk memulai sesuatu yang baru dalam perkawinan kami. Tapi apa yang kutemukan? Istriku telah meninggal di atas tempat tidur yang telah kami tempati bersama 10 tahun pernikahan kami.

Aku baru tahu kalau istriku selama ini berjuang melawan kanker ganas yang telah menyerangnya berbulan-bulan tanpa pengetahuanku karena kesibukanku menjalin hubungan asmara dengan Jane. Istriku tahu bahwa dia akan meninggal dalam waktu yang relatif singkat. Meskipun begitu, dia ingin menyelamatkanku dari pandangan negatif yang mungkin lahir dari putra kami karena aku menginginkan perceraian, karena reaksi kebodohanku sebagai seorang suami dan ayah, untuk menceraikan wanita yang telah berkorban selama sepuluh tahun yang mempertahankan pernikahan kami dan demi putra kami.

Refleksi
Pasangan yang terkasih dalam Yesus Kristus, Tuhan memberkati pernikahan setiap manusia bukan untuk dihancurkan oleh keinginan ego kita masing-masing. Tuhan memberkati pernikahan untuk menjadikan kehidupan pernikahan sebagai tempat di mana pasangan memberi kasih satu dengan yang lain.  Kita belajar melalui kisah ini Betapa berharganya sebuah pernikahan saat kita bisa melihat atau mengingat apa yang membuatnya berharga. Ingat ketika dulu perjuangan yang harus dilakukan, ingat tentang kejadian-kejadian yang telah terjadi di antara kalian, ingat juga tentang janji pernikahan yang telah dikatakan. Semuanya itu harusnya hanya berakhir saat maut memisahkan.

Sekecil apapun dari peristiwa atau hal dalam hidup sangat mempengaruhi hubungan kita. Itu bukan tergantung pada uang di bank, mobil atau kekayaan apapun namanya. Semuanya ini bisa menciptakan peluang untuk menggapai kebahagiaan tapi sangat pasti bahwa mereka tidak bisa memberikan kebahagiaan itu dari diri mereka sendiri. Suami-istrilah yang harus saling memberi demi kebahagiaan itu. Amin


Minggu, 15 April 2012

Persepuluhan



Persepuluhan: Kewajiban atau Disiplin Rohani?

There are three conversions necessary:
the conversion of the heart, mind, and the purse.
- Martin Luther
Banyak anggota jemaat yang mengalami kebingungan dalam hal persepuluhan. Mereka kerap mendengar dari banyak orang Kristen dari denominasi lain bahwa persepuluhan merupakan sebuah kewajiban yang harus dipatuhi oleh semua orang Kristen, karena mereka sudah diberkati atau supaya mereka diberkati. Di lain pihak, GKI ternyata tidak mewajibkannya. Lalu, bagaimana harus menyikapinya?
Persepuluhan di dalam Perjanjian Lama
Mereka yang mendesakkan persepuluhan sebagai keharusan hampir selalu memakai Maleakhi 3:10 sebagai dasar alkitabiahnya: “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.” Sejak awal perlulah saya menegaskan bahwa pendekatan alkitabiah tidak sama dengan pendekatan ayatiah. Pendekatan ayatiah biasanya sekadar mencomot ayat-ayat favorit dan menarik darinya sebuah kesimpulan umum. Sedang pendekatan alkitabiah lebih peduli pada pesan utama keseluruhan Alkitab tentang sebuah subjek (persembahan, misalnya) dan merumuskan sikap kristiani masa kini berdasarkan prinsip-prinsip umum tersebut. Oleh karena itu, kita sungguh-sungguh perlu melihat, bagaimana Alkitab secara keseluruhan berbicara mengenai persembahan, khususnya persepuluhan. Kita mulai dari Perjanjian Lama.
Sebelum Hukum Taurat
Sebelum munculnya Hukum Taurat dan hukum-hukum turunan yang mengikutinya, catatan mengenai persepuluhan hanya muncul ketika Abraham memberikan sepersepuluh hasil rampasan perangnya kepada Melkisedek (Kej. 14:20, 22) dan ketika Yakub bernazar kepada Tuhan (Kej. 28:22). Tidak ada pengaturan legal sama sekali. Namun kita bisa menduga bahwa jumlah sepersepuluh yang diberikan oleh Abraham kepada Melkisedek dan oleh Yakub kepada Allah memang menjadi tradisi budaya di wilayah Timur Tengah. Selain itu, dalam peristiwa Yakub, ia memberikan persepuluhan kepada Allah sebagai ungkapan syukur dalam konteks perjanjian dengan Allah, bukan sebagai sebuah kewajiban.
Hukum Taurat
Kita akan segera tahu bahwa sebagian besar catatan mengenai persepuluhan terdapat dalam lima Kitab Taurat (Kejadian-Ulangan). Hal pertama yang harus ditekankan, sehubungan dengan banyaknya hukum dan peraturan dalam lima kitab pertama khususnya dan Perjanjian Lama umumnya, adalah bahwa semua hukum itu semata-mata mencerminkan tuntutan agar umat percaya tunduk dan patuh pada Allah sendiri. Persepuluhan dalam hal ini hanyalah menjadi sebuah contoh penerapannya. Yang dipentingkan, dengan kata lain, adalah gaya hidup menatalayani hidup dan semua yang melekat padanya, agar seluruh kehidupan diabdikan kepada Allah.
Mereka yang pada masa kini berusaha mematuhi perintah persepuluhan hanya dengan menggantungkan diri pada Maleakhi 3:10 ternyata akan mengalami kesulitan besar jika harus mempertimbangkan teks-teks khusus di dalam kelima kitab pertama. Sebab, di dalamnya kita akan menemui ketidakajegan penjelasan mengenai persepuluhan. Ada bermacam-macam versi persepuluhan.
Imamat 27 mencatat bahwa persembahan persepuluhan diberikan dalam bentuk hasil bumi atau ternak (Im. 27:30-32). Namun, jika hendak ditebus dan diberikan dalam bentuk uang, maka orang tersebut harus menambah seperlima (20%) dari harga persembahannya; jadi, total persepuluhan dalam bentuk uang adalah 12%. Jadi, berbeda dengan persembahan persepuluhan dalam bentuk uang yang berlaku pada masa kini.
Bilangan 18 secara khusus menjelaskan bahwa persembahan persepuluhan harus diberikan kepada suku Lewi sebagai ganti tidak diperolehnya tanah pusaka bagi suku ini. Namun suku Lewi ini juga harus mempersembahkan seperpuluh dari penghasilannya itu dan memberikannya kepada imam Harun.
Ulangan 12, secara mengejutkan, mengatur persembahan persepuluhan secara berbeda. Persembahan persepuluhan harus diberikan bersama dengan persembahan-persembahan lainnya ke tempat yang akan dipilih Tuhan. Setelah sampai di sana, umat Tuhan ternyata diharuskan untuk memakan persembahan persepuluhan mereka sendiri; mereka bersama seisi keluarga dan orang Lewi, dengan penuh kegembiraan. Persembahan persepuluhan, dengan demikian, diberikan kepada Allah, untuk dinikmati bersama dengan komunitas dalam perjamuan kasih. Hal yang sama ditegaskan lagi di Ulangan 14:23. Persepuluhan tidak diberikan kepada para imam Lewi saja, namun untuk dinikmati bersama-sama. Kalaupun orang-orang Lewi mendapat bagian dalam perayaan hasil persepuluhan, itu karena mereka merupakan anggota masyarakat yang lemah disebabkan karena mereka tidak memperoleh pembagian tanah Israel. Ulangan 14:27 menyatakan, “Juga orang Lewi yang diam di dalam tempatmu janganlah kauabaikan, sebab ia tidak mendapat bagian milik pusaka bersama-sama engkau.” Dengan demikian, orang-orang Lewi dikategorikan sebagai kelompok sosial yang lemah dalam komunitas yang perlu ditopang.
Juga, pada akhir tahun ketiga, persembahan persepuluhan dikhususkan bagi “orang Lewi, karena ia tidak mendapat bagian milik pusaka bersama-sama engkau, dan orang asing, anak yatim dan janda yang di dalam tempatmu” (Ul. 24:29). Tahun ketiga ini disebut sebagai “tahun persembahan persepuluhan” (Ul. 26:12). Tampak sangat jelas bahwa persembahan persepuluhan diberlakukan bukan semata-mata karena itu adalah perintah Allah, namun juga demi memelihara kehidupan sosial yang lebih adil. Pola pengaturan persepuluhan dalam konteks Kitab Ulangan ini menarik karena dimensi sosialnya. Apalagi jika kita meletakkannya di dalam konteks Tahun Yobel yang dirayakan setiap tahun ketujuh. Dengan demikian, siklus pengaturan sosialnya berlangsung demikian:
Tahun 1Persepuluhan biasa
Ul. 14:22-27
Tahun 2Persepuluhan biasa
Ul. 14:22-27
Tahun 3Tahun persepuluhan
Ul. 14:28
Tahun 4Persepuluhan biasa
Ul. 14:22-27
Tahun 5Persepuluhan biasa
Ul. 14:22-27
Tahun 6Tahun persepuluhan
Ul. 14:28
Tahun 7Penghapusan utang
Ul. 15:1-11
Pembebasan budak
Ul. 15:12-18
Secara umum kita bisa melihat bahwa pengaturan persembahan persepuluhan tidaklah “stabil.” Ada beragam model pengaturan. Ada yang diberikan kepada orang-orang Lewi, ada yang diberikan kepada orang-orang Lewi dan janda, anak yatim dan orang asing dan ada yang tidak menjelaskan sama sekali kepada siapa persepuluhan diberikan. Kita melihat pergeseran tempat persembahan persepuluhan, dari tempat-tempat ibadah lokal ke pusat ibadah utama. Ada pula tradisi yang menyarankan persembahan persepuluhan dimakan bersama secara komunal sebagai tanda kebersamaan persekutuan umat percaya. Soal apa yang dipersembahkan pun beragam. Kebanyakan adalah hasil alam dan ternak, namun tidak tertutup kemungkinan diberikan dalam bentuk uang, dengan menambah seperlima dari persepuluhan tersebut.
Kitab-Kitab Lain
Peraturan persepuluhan juga dimunculkan kembali di kitab-kitab sesudahnya, khususnya di dalam 2 Tawarikh 31 dan Nehemia 10, 12 & 13. Persepuluhan ini, dengan mengikuti tradisi Bilangan 18, diberikan kepada orang-orang Lewi, karena mereka tidak memperoleh bagian dari pembagian tanah Israel.
Di dalam kitab nabi-nabi, kita tidak menjumpai catatan yang memadai mengenai persepuluhan, kecuali di dalam Kitab Maleakhi yang akan kita bahas terpisah nanti. Hal ini menunjukkan bahwa persembahan persepuluhan lebih dekat dengan tradisi imamat atau ritual dan bukan dengan tradisi sosial atau kenabian. Amos 4 secara khusus berkomentar tentang persepuluhan, namun dengan nada kritis dan negatif. Kita dengan segera dapat mengetahui bahwa yang terjadi pada saat itu adalah kristalisasi hukum yang sudah membeku dan mengeras, sebab aturan hukum dilaksanakan secara legalistis dan malah kehilangan semangat sosialnya. Dengan sinis Amos menyuarakan pesan Tuhan,
“Datanglah ke Betel dan lakukanlah perbuatan jahat, ke Gilgal dan terhebatlah perbuatan jahat! Bawalah korban sembelihanmu pada waktu pagi, dan persembahan persepuluhanmu pada hari yang ketiga! Bakarlah korban syukur dari roti yang beragi dan maklumkanlah persembahan-persembahan sukarela; siarkanlah itu! Sebab bukankah yang demikian kamu sukai, hai orang Israel?” demikianlah firman Tuhan Allah.” (Am. 4:4)
Jelas di sini Amos mengajukan kritik tajam atas persembahan persepuluhan yang diberikan Israel, karena persepuluhan itu diberikan terlepas dari makna sosial dan iman. Makna sosial hilang ketika mereka malah melakukan “perbuatan jahat” (ay. 4) dan “memeras orang lemah …menginjak orang miskin” (ay. 1). Makna iman hilang ketika mereka memberi persembahan bukan dalam rangka ketaatan kepada Allah namun untuk menonjolkan diri dan mendapat pujian (ay.5). Persepuluhan yang tadinya dimaksudkan sebagai sebuah mekanisme penatalayanan hidup sosial, kini telah berubah makna menjadi sebentuk aturan kaku dan beku yang dimanipulasi untuk menutupi penindasan sosial.
Maleakhi 3
Maleakhi 3 perlu mendapat perhatian khusus, sebab ayat 10 secara khusus kerap dicabut dari konteksnya dan dimanfaatkan untuk membenarkan praktik persepuluhan pada masa kini. Kita harus mengakui secara jujur bahwa bahasa religius yang dipakai oleh Kitab Maleakhi sangat legalistis. Aturan agama ingin ditegakkan. Namun demikian, semangat legalisme ini bukanlah yang paling utama. Pesan Kitab Maleakhi bukan soal legalisme hidup iman, namun soal kesetiaan Allah yang direspons tidak sepantasnya oleh umat Israel.
Sejak semula ditegaskan bahwa Allah mengasihi Israel (1:2-5). Ini pengakuan iman yang mendasari hidup mereka. Namun demikian, sekalipun mereka sudah dikasihi Allah, namun mereka tetap melakukan tindakan yang menyedihkan dan penuh cemar; mereka memberi persembahan yang cemar dan tak layak (1:6-14), bahkan para imamnya terlibat dalam perusakan moral Israel (2:1-9), kemudian juga malah orang Israel yang dituntut memelihara kemurnian iman kawin-mawin dengan bangsa kafir (2:10-16). Jadi kalau mau dibuat skema dan bagannya, akan terlihat semacam ini:
Jadi perjanjian kasih Allah-manusia berlaku timpang: Allah mengasihi manusia namun manusia membalas-Nya dengan kejahatan. Semua tindak pencemaran itu seakan-akan menunjukkan ketidakpercayaan Israel bahwa Allah selalu memelihara dan setia. Itu sebabnya Allah menegaskan bahwa Tuhan tidak pernah berubah, Ia selalu setia (3:6).
Hal ini amat menyedihkan Allah. Yang dituntut dari pihak manusia sebenarnya hanyalah ketaatan yang terwujud dalam pemberlakuan hukum dan peraturan. Tapi mereka melanggarnya (termasuk persepuluhan). Itulah sebabnya dengan nada perih dan luka Allah “menantang” Israel untuk membuktikan kasih-setia Allah kembali. Lalu muncullah 3:10.
Ayat ini dengan demikian bukan bernuansa pengaturan/regulasi persepuluhan, namun sebuah tantangan dari Allah untuk membuktikan kesetiaan Allah. Seakan Allah ingin berkata, “Ujilah Aku! Kenapa engkau tak memercayai kesetiaan-Ku dengan cara menipu-Ku dan mencemari tugas ibadahmu? Kenapa engkau memanipulasi persepuluhan untuk kepentinganmu, seolah-olah kalau engkau memberi persembahan maka engkau akan berkekurangan? Bukankah Aku selalu membuktikan kesetiaan-Ku dengan membuka tingkap langit dan mencurahkan berkat atasmu?”
Jadi, Maleakhi 3:10 harus dilihat dalam kerangka “kita-memberi-karena-sudah-menerima” dan bukan sebaliknya, “kita-memberi-supaya-menerima”. Kerangka berpikir yang kedua sungguh berlawanan dengan prinsip utama keseluruhan Alkitab. Allah Alkitab tidak pernah menetapkan suatu cara berpikir “Hukum Bisnis Rohani.”
Persepuluhan di dalamPerjanjian BARU
Perjanjian Baru ternyata mencatat sedikit bagian yang berbicara langsung tentang persepuluhan: Matius 23:23 (paralel Luk. 11:42); Lukas 18:12; Ibrani 7:1-10.
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. (Mat. 23:23; par. Luk. 11:42)
Aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. (Luk. 18:12)
Kepadanya pun Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya. Menurut arti namanya Melkisedek adalah pertama-tama raja kebenaran, dan juga raja Salem, yaitu raja damai sejahtera… Camkanlah betapa besarnya orang itu, yang kepadanya Abraham, bapa leluhur kita, memberikan sepersepuluh dari segala rampasan yang paling baik. Dan mereka dari anak-anak Lewi, yang menerima jabatan imam, mendapat tugas, menurut hukum Taurat, untuk memungut persepuluhan dari umat Israel, yaitu dari saudara-saudara mereka, sekalipun mereka ini juga adalah keturunan Abraham. Tetapi Melkisedek, yang bukan keturunan mereka, memungut persepuluhan dari Abraham dan memberkati dia, walaupun ia adalah pemilik janji…  Dan di sini manusia-manusia fana menerima persepuluhan, dan di sana Ia, yang tentang Dia diberi kesaksian, bahwa Ia hidup. Maka dapatlah dikatakan, bahwa dengan perantaraan Abraham dipungut juga persepuluhan dari Lewi, yang berhak menerima persepuluhan, (Ibr. 7:2, 4-6, 8-19)
Teks-Teks Persepuluhan
Di dalam Injil, persepuluhan disebutkan dalam suasana yang sangat kritis dan profetis. Sayangnya, para pendukung hukum persepuluhan masa kini memanfaatkan Matius 23:23 dan paralelnya di dalam Lukas 11:42 justru sebagai bukti implisit bahwa Yesus mendorong persepuluhan. Penafsiran semacam ini, menurut Paul Leonard Stagg (“An Interpretation of Christian Stewardship,” dalam What is the Church?, 1958, h. 152), didasarkan pada sebuah “penafsiran yang meragukan yang melanggar konteksnya dan mengabaikan pesan utama ayat tersebut.” Yesus mengecam orang-orang Farisi yang terlalu mematuhi aturan persepuluhan namun kehilangan roh di baliknya, yaitu keadilan sosial dan belas kasihan. Dengan kata lain, Yesus justru ingin menunjukkan betapa tak berartinya persepuluhan dibandingkan solidaritas sosial di baliknya. Jadi, Yesus memang tidak menolak persepuluhan, namun Ia juga tidak menganjurkannya. Yang dilakukan Yesus adalah mengajarkan bahwa penatalayanan kristiani bukan didasarkan pada praktik persepuluhan, namun pada “keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan.”
Dengan sikap kritis yang sama, Yesus memaparkan kisah seorang Farisi (Luk. 18:12), yang dengan bangganya mematuhi aturan persepuluhan, namun memiliki sikap sombong rohani dan merendahkan orang lain. Di mata Yesus, orang semacam ini “akan direndahkan” (ay. 14). Kritik Yesus ini berada di dalam arus tradisi kenabian, khususnya Amos, terhadap kehidupan yang menekankan kesalehan ritual dan mengabaikan kesalehan sosial.
Catatan mengenai persepuluhan dalam Perjanjian Baru ternyata muncul paling banyak dalam Surat Ibrani, yaitu di dalam pasal 7 (sebanyak enam ayat), yaitu ketika dibicarakan kembali kisah pemberian persepuluhan oleh Abraham kepada Melkisedek; itu pun persepuluhan muncul bukan sebagai tema utama, karena yang dibicarakan sebenarnya adalah persiapan untuk membandingkan Imam Besar Melkisedek dengan Yesus sebagai Imam Besar Perjanjian Baru. Jadi, teks Ibrani 7 sangat-sangat berpusat pada Kristus (Kristosentris).
Sikap Yesus yang tidak menyarankan persepuluhan secara tersurat konsisten dengan surat-surat Paulus yang sama-sekali tidak berbicara mengenai persepuluhan. Ia berkali-kali berbicara mengenai uang dan tak satu kali pun berbicara mengenai persepuluhan. Bahkan di dalam perjalanan penginjilannya yang ketiga (Kis. 18:23-21:16), ia mengumpulkan uang bagi jemaat Yerusalem dan persembahan persepuluhan tak sekali pun disinggung, apalagi dipakai sebagai metode pengumpulan uang. Malah, metode yang dipakainya adalah meminta setiap anggota jemaat untuk mengumpulkan uang seperti menabung setiap hari Minggu, sebagaimana tercatat di dalam 1 Korintus 16:1-2:
Tentang pengumpulan uang bagi orang-orang kudus, hendaklah kamu berbuat sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang kuberikan kepada Jemaat-jemaat di Galatia. Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing–sesuai dengan apa yang kamu peroleh–menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu baru diadakan, kalau aku datang.
Prinsip yang diusung oleh Paulus sesungguhnya sama dengan semangat dari peraturan persepuluhan di dalam Perjanjian Lama, yaitu kepedulian pada mereka yang membutuhkan. Namun, keduanya berujung pada pengaturan teknis yang sama sekali berbeda. Yang satu mengajukan persepuluhan, yang lain penyisihan mingguan secara sukarela. Dari sini agaknya kita perlu memasuki konsep persembahan di dalam Perjanjian Baru, yang secara mendasar membuat setiap pengharusan persepuluhan tampil sebagai pengabaian terhadap konsep persembahan tersebut.
Konsep Perjanjian Baru tentang Persembahan
Konsep persembahan di dalam Perjanjian Baru sangat Kristosentris (berpusat pada Kristus), sebab Kristus diyakini sebagai pembaru seluruh hukum Taurat di dalam Perjanjian Lama. Surat Ibrani dengan amat tegas dan jelas menunjukkan pembaruan sistem persembahan yang selama ini dilakukan umat Israel. Pembaruan tersebut terjadi justru karena fokus iman yang bergeser pada Kristus sendiri. Dikatakan misalnya dalam Ibrani 9:9-10,
Itu adalah kiasan masa sekarang. Sesuai dengan itu dipersembahkan korban dan persembahan yang tidak dapat menyempurnakan mereka yang mempersembahkannya menurut hati nurani mereka, karena semuanya itu, di samping makanan minuman dan pelbagai macam pembasuhan, hanyalah peraturan-peraturan untuk hidup insani, yang hanya berlaku sampai tibanya waktu pembaharuan.
Jadi persembahan model Israel itu akan berlaku hanya “sampai tiba waktu pembaharuan”. Kapankah “waktu pembaharuan” itu tiba? Dijelaskan lebih lanjut, pembaharuan itu sudah terjadi di dalam Kristus (ay. 9-14),
Tetapi Kristus telah datang sebagai Imam Besar untuk hal-hal yang baik yang akan datang: Ia telah melintasi kemah yang lebih besar dan yang lebih sempurna, yang bukan dibuat oleh tangan manusia,–artinya yang tidak termasuk ciptaan ini,–dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal. Sebab, jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah, betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.
Ide dasar dari Kitab Ibrani ini adalah bahwa Kristus adalah Imam Besar sekaligus domba persembahan, yang dipersembahkan “satu kali untuk selama-lamanya” (once and for all). Dengan jalan itu model persembahan Israel yang lama telah dibarui dengan persembahan tubuh Kristus sendiri (Ibr. 10:8-10). Persepuluhan sebagai bagian dari persembahan Israel dengan demikian dan dengan sendirinya turut dihapuskan. Semua tuntutan persembahan–termasuk persembahan persepuluhan–telah dilunaskan “sekali untuk selamanya” di dalam korban Kristus!
Bersamaan dengan penggantian konsep Imam dan korban, konsep bait Allah sebagai rumah Tuhan diganti pula menjadi hidup tiap-tiap orang percaya sebagai bait Allah (1 Kor. 3:16-17; 6:19-20), konsep imam yang dipegang segelintir orang juga diganti menjadi setiap orang percaya yang menjadi imamat am (1 Ptr. 2:9).
Bersamaan dengan itu, Paulus secara khusus menegaskan sebuah prinsip persembahan yang lebih radikal daripada persembahan persepuluhan. Yang harus kita persembahkan adalah seluruh “tubuh” (soma: hidup dalam keutuhannya), “sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah” (Rm. 12:1). Dan itu berarti seluruh milik kita juga, termasuk uang kita. Jadi, 100% uang kita, bukan 10%, adalah milik Allah yang dipercayakan kepada kita dan harus kita persembahkan kepada-Nya.
Dalam perspektif itulah, maka persembahan diserahkan kepada kita untuk kita kelola atau tatalayani seluruhnya untuk kemuliaan Allah.  Amat menarik bahwa Paulus kemudian memberi petunjuk jelas mengenai makna persembahan seluruh hidup itu. Dalam 2 Korintus 8:1-15 ia menganjurkan jemaat Korintus untuk memberikan persembahan khusus kepada jemaat di Yerusalem. Ia menyebutnya sebagai “pelayanan kasih,” karena memang landasan utamanya adalah kasih (2Kor. 8:6, 7, 19-20, 9:12). Prinsipnya, persembahan kasih yang kita berikan kepada sesama itu adalah cerminan dari persembahan hidup kita untuk Allah sendiri.
Dan bukan itu saja! Ia juga telah ditunjuk oleh jemaat-jemaat untuk menemani kami dalam pelayanan kasih ini, yang kami lakukan untuk kemuliaan Tuhan dan sebagai bukti kerelaan kami. (2 Kor. 8:19)
Pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah. (2Kor. 9:12).
Di atas itu semua, persembahan persepuluhan yang disikapi secara legalistis ternyata berlawanan dengan prinsip penatalayanan Kristen. Hidup ini harus ditata sebagai sebentuk pelayanan kepada Allah yang diwujudkan menjadi karya bagi sesama. Dengan demikian, penatalayanan memiliki roh yang sama dengan prinsip di balik persepuluhan di dalam Perjanjian Lama. Marvin E. Tate menegaskan (“Tithing: Legalism or Benchmark?,” Review & Expositor 70 [Spring 1973], 161),
Mungkin, aspek yang paling mengenaskan dari promosi berlebihan atas persepuluhan adalah kerusakan yang dilakukan terhadap konsep penatalayanan yang total. Kapan pun gereja meningkatkan kewajiban persepuluhan pada level hukum ilahi, nyaris tak terhindarkan ia akan menjadi bentuk dominan dari penatalayanan… Teologi penatalayanan dikubur di bawah legalisme persepuluhan.
Kesimpulan dan sikap praktis
  1. Kita menolak pemahaman bahwa orang Kristen yang telah ditebus oleh darah Kristus masih terikat pada kewajiban persembahan persepuluhan.
  2. Persepuluhan kepada orang-orang Lewi dan imam-imam pada zaman Perjanjian Baru dilangsungkan karena mereka adalah kelompok umat yang mengabdikan sepenuhnya hidup mereka bagi komunitas dan mereka tidak memperoleh bagian atas tanah perjanjian. Kini, para pendeta dapat saja ditopang secara baik melalui sistem Jaminan Kebutuhan Hidup (JKH), sehingga persepuluhan untuk mereka tidak lagi dibutuhkan.
  3. Kita juga menolak pemahaman bahwa segala bentuk persembahan, baik persepuluhan maupun persembahan lain, perlu kita berikan demi mendapatkan berkat Allah. Karena justru sebaliknya, kita memberi karena Allah sudah terlebih dahulu memberkati kita.
  4. Pernyataan bahwa 10% penghasilan kita adalah hak Allah benar, namun hanya sebagian, karena kita memahami juga bahwa 100% milik kita adalah milik Allah, yang kemudian dipercayakan kepada kita untuk kita tatalayani secara bertanggung jawab.
  5. Dalam rangka itu, yang terpenting adalah bagaimana kita menjadi hamba atau penatalayan yang bertanggung jawab atas seluruh harta yang dipercayakan Tuhan kepada kita.
  6. Kita juga menegaskan kembali pentingnya keseimbangan antara ibadah formal dan ibadah sosial, antara persembahan kepada Tuhan dan pelayanan kepada sesama. Dalam hal ini maka apa yang kita lakukan kepada sesama kita, termasuk pertolongan finansial, perlu dilihat sebagai sebuah persembahan kepada Tuhan sendiri.
  7. Sekalipun kita meyakini bahwa hidup kita seluruhnya adalah persembahan yang hidup bagi Allah, namun kita tetap perlu mengungkapkan syukur kita melalui persembahan uang, baik melalui persembahan mingguan dalam ibadah, maupun pelayanan kasih kepada sesama, sejauh dilakukan dengan motivasi pengucapan syukur.
  8. Sekalipun kita menolak praktik persembahan persepuluhan sebagai kewajiban, namun tak berarti bahwa orang Kristen dilarang melakukannya. Kita tetap saja boleh memberikan persepuluhan, asal dengan tulus, sukarela dan disertai pemahaman yang benar, yaitu sebagai disiplin dan komitmen rohani dan pribadi, tanpa pemahaman bahwa semua itu adalah kewajiban.
Pdt. Joas Adiprasetya
Dikutip dari www.gkipi.org

Jumat, 09 Maret 2012

MEMBANGUN DI ATAS DASAR YANG BENAR


1 KORINTUS 3:10-23



Konteks Permasalahan
Korintus, sebuah kota kuno di Yunani, dalam banyak hal merupakan kota  metropolitan Yunani yang terkemuka pada zaman Paulus. Ciri khas dari kota Korintus ini adalah kebhinekaan masyarakatnya.  Kedudukannya sebagai pelabuhan laut yang penting pada salah satu rute yang paling ramai di laut Tengah.  Seperti halnya banyak kota yang makmur pada masa kini, Korintus menjadi kota yang angkuh secara intelek, kaya secara materi, dan bejat secara moral. Segala macam dosa merajalela di kota ini yang terkenal karena perbuatan cabul dan hawa nafsu.
Bersama dengan Priskila dan Akwila (1Kor 16:19) dan rombongan rasulinya sendiri (Kis 18:5), Paulus mendirikan jemaat Korintus itu selama delapan belas bulan pelayanannya di Korintus pada masa perjalanan misinya yang kedua (Kis 18:1-17). Jemaat di Korintus terdiri dari beberapa orang Yahudi tetapi kebanyakan adalah orang bukan Yahudi yang dahulu menyembah berhala. Jemaat di Korintus memiliki latar belakang rohani dan intelektual yang berbeda-beda, masing-masing membawa ide dan gagasan yang berlainan.  Sewaktu Paulus bersama mereka, keanekaragaman jemaat yang masih muda ini dapat dipersatukan.  Namun setelah Paulus meninggalkan Korintus, berbagai macam masalah timbul dalam gereja yang masih muda itu, yang memerlukan wewenang dan pengajaran rasulinya melalui surat-menyurat dan kunjungan pribadi.
Surat 1 Korintus ditulis selama tiga tahun pelayanannya di Efesus (Kis 20:31) pada waktu perjalanan misinya yang ketiga (Kis 18:23--21:16).  Berita mengenai masalah-masalah jemaat di Korintus terdengar oleh Paulus di Efesus (1Kor 1:11); setelah itu utusan dari jemaat Korintus (1Kor 16:17) menyampaikan sepucuk surat kepada Paulus yang memohon petunjuknya atas berbagai persoalan (1Kor 7:1; bd. 1Kor 8:1; 1Kor 12:1; 1Kor 16:1). Sebagai tanggapan atas berita dan surat yang diterimanya dari Korintus, Paulus menulis surat ini.

Latar Belakang Teks
Jemaat di Korintus pecah menjadi 4 kelompok
1.  kelompok Paulus/libertin
Kelompok ini mendengarkan khotbah Paulus tentang kemerdekaan Kristen dan menyimpulkan bahwa mereka dapat hidup sesuka mereka.  Padahal Paulus menekankan bahwa beritanya tidak melepaskan kewajiban moral melainkan harus menjalankannya.

2.  Kelompok Kefas/legalis
Merupakan kelompok legalistik.  Mereka berpendapat bahwa Hukum Taurat harus juga dijalankan secara ketat (berbeda dengan kelompok Paulus).  Kebanyakan mereka adalah orang Yahudi atau juga non-Yahudi yang menjalankan hukum Taurat.

3. Kelompok Apolos/filsuf
Kelompok yang mengikuti pandangan Yunani yang klasik. Apolos disebutkan dalam Kisah Para Rasul 18:24-28, dimana ia adalah orang Yahudi dari Alexandria, seorang yang fasih dan   mahir soal kitab suci.  Apolos fasih dalam menafsirkan kitab suci berdasarkan gagasan-gagasan filsafat Yunani klasik.  Dengan sendirinya ia dapat diterima oleh orang Kristen di Korintus yang mempunyai latar belakang filsafat Yunani.

4. Kelompok Kristus/mistik
Kelompok orang yang menganggap dirinya di atas kelompok-kelompok lain yang berpusat pada pribadi-pribadi orang biasa.  Mereka menghendaki hubungan langsung dengan Kristus sendiri, sama seperti hubungan mistik yang telah mereka alami secara langsung dengan dewa-dewa dalam agama timur.
               
Jemaat di Korintus mengalami perpecahan di dalam jemaat akibat perbedaan pandangan.  Perbedaan ini mengakibatkan suasana yang merusak dan tidak membangun iman setiap orang. 

Perbedaan pandangan ini misalkan:

  1. kaum libertin/Paulus menyatakan mereka mengikuti Paulus dan mengajak seluruh jemaat supaya jangan cemas terhadap terjadinya percabulan terang-terangan (1 Korintus 5:1-13)
  2. kaum legalis/kefas mempermasalahkan mengenai makanan-makanan yang telah dipersembahkan di kuil kafir sebelum dijual kepada umum (1 Korintus 8-9).
  3. Kaum filsuf/apolos menyatakan bahwa mereka memiliki hikmat yang lebih unggul dari apapun yang pernah disampaikan Paulus (1 Korintus 1:18-25)
  4. Kaum mistik menyatakan bahwa kebangkitan Kristus telah berlangsung dan mereka telah dibangkitkan secara mistis bersama Kristus sehingga tidak perlu cemas akan kegiatan-kegiatan cabul yang dilakukan (1 Korintus 15:12-19).

Oleh karena itu pada teks kali ini, Paulus hendak menegur setiap kelompok yang berkembang di Korintus.  Paulus menyatakan bahwa hanya Kristus sebuah jawaban, bukan Paulus, Apolos, dan Kefas. Paulus menyatakan bahwa salib Kristus dan kebangkitanNya adalah “paling utama” dalam usaha mengerti iman Kristen (1 Kor 15:3-7; 1:18-25).  Jadi Paulus mengulangi beritanya kembali “Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus” (1 Korintus 3:11).

DASAR DAN BANGUNAN
Ayat 10              
Kemasyhuran Paulus adalah hadiah yang bukan karena jasanya melainkan karena kasih karunia Allah (charis. Yunani) semata.  Cakap (sophos. Bijak Yunani) dipakai bagi pekerja yang membangun dan menghias Kemah Suci.  Di ayat ini Paulus menyatakan dia telah meletakkan dasar/fondasi.

Ayat 11              
sebuah penegasan bahwa dasar dari setiap jemaat adalah Yesus Kristus.

Ayat 12-13  
ada berbagai macam dasar misalkan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami.  Emas, perak, batu permata adalah dasar yang tidak mungkin terbakar oleh api dibandingkan yang lain.  api ini melambangkan ujian dan dibuktikan kualitas dasar sebuah bangunan.

Ayat 14                
teks ini tidak menjelaskan tentang keselamatan. Upah disini berarti sebuah kesempatan untuk dapat melakukan pelayanan yang lebih tinggi.

Ayat 15            
kerugian disini berarti kehilangan kesempatan untuk mendapatkan upah

Ayat 16-17        
pernyataan Paulus “tidak tahukah kamu...” seperti sedang menyindir orang-orang berhikmat yang merasa paling pintar.  Paulus menyatakan bahwa Bait Allah bukan kuil Yunani, dan Bait Allah itu sendiri adalah Jemaat Korintus sendiri.  Perpecahan yang terjadi di jemaat diakibatkan karena memusatkan perhatian kepada diri sendiri bukan Allah 

Ayat 18-21        
orang yang sombong akan pengetahuannya akan direndahkan oleh Allah. "Permulaan pengetahuan adalah Takut akan Allah.”  Namun banyak anggota jemaat Korintus yang merasa diri lebih pintar dan merendahkan sesamanya.  Paulus menegur mereka yang merasa pintar dengan menyatakan bahwa kesia-siaan orang yang berhikmat di hadapan Tuhan.

Ayat 22-23   
Paulus hendak menyatakan bahwa semuanya adalah milik Kristus bahkan Paulus, Apolos, dan Kefas adalah milik Kristus.  Dengan ini Paulus menyatakan bahwa setiap anggota jemaat adalah milik Kristus dan Kristus milik Allah.  Paulus menolak segala bentuk perpecahan dikarenakan pengidolaan seorang manusia. 
  •   Bagaimana pandangan kita pada zaman sekarang di mana banyak gereja yang mengidolakan orang-orang tertentu?
  • Bagaimana pandangan kita mengenai gereja yang mempunyai kelompok-kelompok sehingga pelayanan di gereja menjadi tidak baik?
  •  Melalui teks ini, bagaimana menurut kita membangun dasar yang benar dalam kehidupan bergereja?