ecclesia reformata semper reformanda

WELCOME

Selamat datang
All of you are invited!!!

blog ini berisikan tentang renungan saya dalam kehidupan sehari-hari
selain itu ada beberapa karya ilmiah saya pada saat saya studi di sekolah teologi.

Semoga mendapatkan berkat melalui blog ini
Tuhan memberkati
HI FRIENDS, WELCOME TO MY BLOG.. I HOPE YOU LIKE IT..GBU ALWAYS

Jumat, 07 Agustus 2020

Kamu Juga Bisa

Resensi Buku

Penulis : Robby Chandra

Pada masa sekarang, kita dapat melihat banyak sekali buku-buku yang membahas tentang kepemimpinan.  Sebuah tema yang sebenarnya tidak asing lagi, karena karakter kepemimpinan dibutuhkan agar membuat dunia ini semakin baik lagi.  Namun, apakah ada kisi-kisi untuk menjadi seorang pemimpin?  Jika dalam dunia sekular, maka akan banyak teori-teori tentang kepemimpinan yang bisa saja diambil dari tokoh-tokoh tertentu.  Namun jika kita bertanya, apakah ada cara untuk menjadi pemimpin di dalam Alkitab?  Di dalam buku ini, Robby Chandra mengajak kita bahwa kita bisa menjadi pemimpin dengan meneladani tokoh-tokoh di dalam Alkitab.  Buku ini hendak mengajak pembacanya melihat bahwa setiap orang mampu untuk menjadi seorang pemimpin.

Robby Chandra mengajak pembacanya untuk melihat bahwa kepemimpinan adalah sebuah proses membawa, memelihara dan menggunakan kemampuannya untuk membawa sang pemimpin dan pengikutnya melewati setiap tantangan yang ada dalam kehidupan ini.  Menurutnya, kepemimpinan juga seharusnya terjadi dalam kerangka kristiani.  Kepemimpinan Kristiani datangnya bukan dari diri sendiri, melainkan berasal dari Tuhan.  Untuk itulah menjadi seorang pemimpin dalam kerangka kristiani, berarti untuk menjadi seorang pemimpin, orang tersebut harus hidup akrab bersama dengan Tuhan.

Pada awal bab pertama dan kedua, buku ini hendak memberikan wawasan bahwa semua orang tidak dilahirkan langsung menjadi sebuah pemimpin yang hebat.   Setiap orang yang ingin menjadi seorang pemimpin berarti, ia harus melewati segala peristiwa-peristiwa dalam kehidupannya untuk mengenali kekuatan dan kelemahan dalam dirinya.  Untuk menjadi seorang pemimpin, maka ia harus melakukan sebuah transformasi diri dalam kehidupannya.  Oleh karena itu, seorang pemimpin bukan dilahirkan, melainkan terjadi dalam sebuah proses.  Buku ini memberikan contoh, orang-orang yang dianggap kecil dan tak berarti tetapi sukses membuat sebuah dampak atau perubahan yang signifikan yaitu Daud, anak kecil pembawa lima roti dan dua ikan, dan Nehemia.  Mengapa perlunya sebuah kepemimpinan di dalam kekristenan? Menurut Robby Chandra, kepemimpinan adalah daya yang dimiliki seseorang karena pilihan Tuhan atasnya, sehingga ia dapat memberikan teladan dalam kehidupannya.

Pada bab ketiga dan keempat, ada hal yang menarik dari buku ini yaitu dipertentangkannya pandangan populer dan pandangan Alkitab mengenai kepemimpinan.   Menurut pandangan populer, kelebihan seorang pemimpin adalah karakter yang kuat, network yang luar biasa, daya pikir yang hebat, dan keberanian mengambil resiko.  Pandangan ini berbeda dengan Alkitab yang menyatakan bahwa kelebihan seorang pemimpin tidak bersumber dari dirinya melainkan keintimannya dengan Tuhan.  Jadi ia memiliki kuasa atau kemampuan karena anugerah Tuhan.  Kelebihan seorang pemimpin kristiani bergantung pada Tuhan dan tidak bersandar pada kelebihannya sendiri.  Kata kunci dari kepemimpinan Kristiani adalah menggali makna, merumuskan visi, menggerakkan, belajar, dan berjalan dipimpin oleh Tuhan.  Kita dapat melihat contoh-contoh dari kepemimpinan kristen di bab keempat, dimana dijabarka dengan contoh di lapangan.

 Pada bab kelima buku ini membahas mengenai langkah pertama untuk menjadi seorang pemimpin yaitu kepercayaan.  Untuk mendapatkan kepercayaan orang banyak yang merupakan prasyarat kepemimpinan, maka orang tersebut haruslah menunjukkannya dalam sebuah teladan.  Keteladanan ini membutuhkan proses sehingga orang tersebut dianggap mumpuni untuk menjadi seorang pemimpin.  Seorang pemimpin haruslah dipercaya dan mempercayakan.  Kepercayaan ini menyangkut tentang percaya diri, percaya pada Tuhan dan percaya pada rekan kerja.  Contoh yang dijabarkan disini adalah tentang Gideon yang mampu memenangkan peperangan karena sebuah kepercayaan.  Langkah kedua adalah seorang pemimpin haruslah bisa mengelola dengan handal sebuah organisasi.  Contoh dari langkah kedua ini adalah kisah tentang Musa dan Yitro yang mengelola sistem organisasi kemasyarakatan dalam Bangsa Israel, dimana Musa berbagi tugas dengan orang lain untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam kehidupan Bangsa Israel.

Pada bab akhir dari buku ini, dijabarkan mengenai empat arah kepemimpinan yaitu memimpin ke dalam, ke atas, ke bawah, dan ke samping.  Ini berhubungan dengan relasi dengan atasan, rekan kerja, pengikut, dan diri sendiri.  Melalui empat arah ini, seorang pemimpin Kristen mempunyai cara yang baik bagaimana membuat dirinya menjadi pemimpin yang berkapabilitas di dalam Tuhan.  Sebuah sinergisitas dibutuhkan dalam menjadi seorang pemimpin

COVID = Christ Over Virus Isolation and Depresion

Filipi 4:10-20

Umat meyakini bahwa Allah berkuasa atas segala macam virus, isolasi, dan depresi,  sehingga umat mendapatkan harapan , kekuatan dan penghiburan ditengah kondisi saat ini.

Konteks Surat Filipi

            Pada saat kita membaca Filipi 4:10-20, maka kita harus mengerti tentang konteks jemaat dari Filipi.  Jemaat Filipi adalah jemaat yang lahir pada perjalanan penginjilan kedua Rasul Paulus tercatat dalam Kisah 16:12-40.  Surat ini ditulis dalam keadaan Paulus berada dalam penjara, dan dia memercayakan rekan sekerjanya Timotius dan Epafroditus kepada gereja.  Di dalam Surat Filipi ini, jemaat di Filipi sedang menjadi sasaran penganiayaan dan serangan dari pihak dunia.  Di dalam Filipi 1:28  kita dapat melihat jelas tentang keadaan tersebut “dengan tiada digentarkan sedikitpun oleh lawanmu. Bagi mereka semuanya itu adalah tanda kebinasaan, tetapi bagi kamu tanda keselamatan, dan itu datangnya dari Allah.  Akan tetapi Paulus tetap memberikan nasehat kepada jemaat Filipi untuk tetap setia kepada Tuhan sebagaimana tertulis di dalam Filipi 2:15 supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia. Melalui surat inilah, Paulus terus menasehatkan jemaat Filipi untuk tetap dapat berdiri teguh dalam kesulitan mereka (1:27;4:1).

            Di dalam Surat Filipi, Paulus menjelaskan keadaannya yaitu berada dalam penderitaan (penjara).  Namun, ia tetap menyatakan bahwa ia tetap bersukacita dalam keadaan tersebut karena kasih karunia dari Allah.  Paulus tetap menyerukan sukacita kepada jemaat di Filipi agar mereka tetap berpegang teguh dalam iman kepada Kristus.  Bagaimana mungkin dapat bersukacita dalam penderitaan? Bagi Paulus, dalam keadaan apapun kita tetap bersukacita karena hidup dalam persekutuan dengan Tuhan Yesus.  Melalui penjelasan ini maka kita juga mengetahui bahwa baik Paulus ataupun jemaat di Filipi sedang berada dalam posisi yang susah karena penderitaan dalam kehidupan mereka.

Belajar dari Paulus dan Jemaat Filipi

            Di dalam Surat Filipi ini kita dapat belajar dari dua sisi yaitu Paulus dan jemaat Filipi.  Pembelajaran pertama adalah dari Paulus, seperti yang sudah kita ketahui berada dalam kesusahan karena berada dalam penjara.  Namun respon Paulus saat menghadapi kesusahan tersebut adalah dia tetap bersukacita.  Di dalam ayat 11, Paulus menegaskan kembali tentang arti sebuah kecukupan.  Paulus tidak selalu berada dalam kelimpahan malahan sebaliknya, ia sering menderita kekurangan dan kelaparan.  Akan tetapi, Paulus tetap tidak merasakan kesusahan dan khawatir.  Mengapa? Ini dikarenakan Paulus telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.  Di dalam ayat 12, Paulus menjabarkan kembali tentang pengalamannya dalam penderitaan ini, sehingga ini menegaskan bahwa dia tahu keadaan susah bukan hanya berdasarkan teori semata melainkan sudah mengalaminya.

            Sikap Paulus dalam menghadapi penderitaan ini dapat kita lihat di dalam ayat 13 Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.  Paulus yakin dan percaya bahwa perkara (penderitaan) dapat ditanggung oleh dirinya.  Mengapa Paulus begitu teguh dalam menerima penderitaan tersebut?  Ini dikarenakan dia yakin bahwa Tuhan yang akan membuat dirinya kuat dan sanggup saat menghadapi permasalahannya.  Ini memberi pembelajaran bagi kita, bahwa kita tidak boleh lari dari kesulitan yang ada, melainkan belajar dari Paulus, ia menerima segala penderitaan yang terjadi kepada dirinya.  Sama seperti kita pada saat menghadapi kesulitan dalam pandemi Covid-19 ini janganlah kita mengeluh dan mempersalahkan Tuhan akan setiap kesulitan yang ada, melainkan tetap yakin dan percaya bahwa ini adalah sebuah proses untuk membuat iman kita semakin tangguh dalam menghadapi kesulitan hidup ini.

            Pembelajaran kedua adalah dari jemaat Filipi.  Seperti yang sudah dijabarkan, bahwa jemaat Filipi bukanlah jemaat yang sedang dalam kondisi baik-baik saja, melainkan jemaat yang sedang berada dalam tekanan.  Di tengah kesusahan itu, jemaat di Filipi masih memberikan bantuan kepada Paulus.  Jemaat Filipi adalah jemaat yang melayani kebutuhan Paulus selama ia mengadakan perjalanan saat ia berangkat dari Makedonia dimana saat itu tidak ada satupun jemaat yang memerhatikan Paulus(Fil 4:15-17; 1:4-5). Jemaat Filipi memberi yang terbaik kepada Rasul Paulus dimana mereka  memberi Paulus "suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah" (Fil 4:18).        Perbuatan ini telah menunjukkan persekutuan antara jemaat Filipi dengan Paulus.  Sekalipun mereka dalam keadaan yang berbeban berat, mereka tidak lupa untuk berbagi.  Bagi Paulus, bantuan ini bukan hanya berupa bantuan jasmani saja melainkan Paulus senang bahwa pelayanan pemberitaan Injil tidak ia tanggung sendiri.  Jemaat Filipi menanggungnya bersama-sama dengan Paulus.  Paulus juga menilai pemberian dari jemaat Filipi bukan dari segi nilainya tetapi ia melihat buah sebagai bukti dari kasih mereka dan ucapan syukur atas kasih karunia Allah kepada mereka.

            Di akhir ucapannya, Paulus berdoa bagi jemaat Filipi karena mungkin dia tidak bisa membalas kebaikan jemaat Filipi, maka ia yakin dan percaya bahwa hanya Allah saja yang akan memenuhi segala kebutuhan mereka.  Belajar dari jemaat Filipi, sekalipun mereka dalam keadaan sulit dan kesusahan, mereka tidak lupa untuk berbagi kepada yang membutuhkan.  Di dalam pandemi covid-19 ini kita dapat melihat berbagai macam egoisme.  Pada saat kesulitan melanda, banyak orang yang hanya memikirkan diri mereka sendiri “asal saya aman.”  Mereka tidak peduli dengan keadaan orang lain yang juga sedang kesulitan, mereka tidak peduli dengan tenaga medis yang berjibaku untuk menghadapi penyakit ini.  Gereja-gereja juga mulai ketakutan pada saat mereka harus tidak mengadakan ibadah, karena menyebabkan kekurangan dana dari persembahan.  Oleh karena itu, kita belajar dari jemaat Filipi walaupun dalam kesulitan sekalipun, mereka tetap memberi kepada orang yang membutuhkan.

            COVID = Christ Over Virus Isolation and Depresion, melalui tema ini kita bukan berarti ketakutan berlebihan ataupun menyepelekan pandemi ini.  Namun, kita dapat belajar dari Paulus yang tidak menyalahkan Tuhan dalam keadaannya melainkan tetap percaya bahwa Tuhan akan selalu memberikan kekuatan kepada dirinya.  Kita juga belajar dari jemaat Filipi, dalam kesusahan sekalipun, seharusnya cahaya kemuliaan Tuhan tetap terpancarkan dalam kehidupan bergereja untuk berbagi terhadap sesama.


Kamis, 08 Februari 2018


Lepaskan Kami daripada Yang Jahat

Umat yang terkasih dalam Yesus Kristus, pada minggu ini tema kita adalah lepaskanlah kami dari yang jahat.  Kata-kata ini seringkali kita ucapkan pada saat doa bapa kami diucapkan.  Namun apakah maksud dari perkataan ini? Apakah yang dimaksudkan berarti kesurupan seperti cerita Injil pada minggu ini? Tentu saja bukan itu saja, melainkan perkataan ini menjadi peringatan kepada kita agar menyadari adanya keterikatan-keterikatan yang menggiring kita kepada kuasa kejahatan.  Ada beberapa kesalahan-kesalahan yang sudah menjadi sebuah kebiasaan sehingga kita menganggap itu biasa saja bahkan dianggap benar.

Umat yang terkasih dalam Yesus Kristus, apakah maksud dari kesalahan yang sudah dianggap biasa saja? Saya ambil contoh kecilnya adalah penggunaan kata absen atau absensi.  Kata ini kita serap dari bahasa Belanda absentie yang maknanya ketidakhadiran. Lawan katanya adalah presentie yang bermakna kehadiran. Dalam bahasa Inggris dia disebut dengan absence dan lawan katanya adalah attendance.[1] Namun entah bagaimana jalan ceritanya, di negeri kita absensi malah dimaknai dengan kehadiran.  Kelirumologi ini menjadi sebuah kebiasaan sehingga kita tidak merasakan itu sebuah kesalahan bahkan dianggap kebenaran.  Contoh yang kedua adalah penggunaan kata acuh, apakah makna dari kata ini? Seringkali orang berpikir bahwa acuh itu adalah cuek.  Kelirumologi ini juga menjadi sebuah kebiasaan yang terjadi di tengah kita, padahal menurut kamus besar bahasa Indonesia kata acuh ini berarti peduli.  Namun entah mengapa kata ini mengalami perubahan makna menjadi tidak peduli.  Kedua contoh di atas adalah sebuah kesalahan yang menjadi sebuah kebiasaan sehingga kita seringkali tidak menyadari kesalahan yang ada atau bahkan tidak tahu bahwa itu adalah sebuah kesalahan.

Umat yang terkasih dalam Yesus Kristus, keterikatan akan dosa yang menjadi sebuah kebiasaan dapat membuat kita sebagai umat berman tidak menyadari kesalahan kita.  Kita begitu terikat erat dengan dosa, sehingga saat ada orang lain menegur kita ataupun memperingatkan kita, kita tidak menyadari kesalahan tersebut dan menganggap dosa tersebut sebagai hal yang lumrah atau menjadi sebuah kebenaran.  Oleh karena itu, tema minggu ini seharusnya membuat kita dapat menyadari dosa yang membuat kita terikat dan menjadi batu sandungan bagi orang-orang di sekeliling kita.  Melepaskan diri dari yang jahat berarti kita tidak mau lagi terikat akan kuasa kegelapan yang membuat diri kita tidak lagi hidup bersama dengan Tuhan.

Paulus di dalam Korintus mengingatkan tentang bagaimana keadaan jemaat di Korintus yang ingin membebaskan diri dari keterikatan mengenai makan makanan persembahan berhala.  Paulus mengajarkan bagaimana untuk melepaskan diri dari keterikatan tersebut harus dilakukan dalam sebuah komunitas bukan hanya diri sendiri saja.  Mengapa? Karena Paulus melihat ada orang-orang yang dapat dengan mudah membebaskan diri dari keterikatan tersebut, namun ada juga golongan yang dikatakan “lemah hati nurani” sehingga mereka kesulitan untuk melepaskan diri dari keterikatan tersebut.  Paulus di dalam Korintus menginginkan umat agar dapat saling menghargai perbedaan tersebut dan menginginkan agar keterikatan tersebut dihilangkan bersama-sama dalam komunitas.  Ini berart, keterikatan terhadap dosa diharapkan jemaat di Korintus saling membantu untuk membebaskan diri dari keterikatan antar satu dengan yang lain.

Umat yang terkasih dalam Yesus Kristus, semua orang dapat terjerat dengan roh yang cemar tanpa terkecuali.  Keterikatan terhadap kemarahan, dendam, harta benda, ketamakan, kenikmatan diri, nafsu seksual, narkoba, kesombongan rohani, dan narkoba, kesemua hal ini dapat membuat kita jauh dari Tuhan.  Orang-orang yang terikat akan hal tersebut akan perlahan-lahan menolak kehadiran Tuhan dalam kehidupannya, karena keterikatan itu membuat kita menjadi egois dan tidak peduli terhadap yang lainnya.

Marilah umat yang terkasih dalam Yesus Kristus pada minggu ini:
1.      Lepaskanlah kami dari yang jahat sebagai langkah kita untuk membebaskan diri dari keterikatan dosa yang membuat kita hidup jauh dari Tuhan. 
2.      Lepaskanlah kami dari yang jahat sebagai langkah untuk membebaskan diri kita dari dosa yang mungkin tidak kita sadari
3.      Lepaskanlah kami dari yang jahat sebagai cara kita saling mengingatkan satu dengan yang lain untuk membantu orang lain terbebas dari dosa yang mengikat
4.      Lepaskanlah kami dari yang jahat sebagai cara kita untuk menjadikan otoritas Tuhan sebagai pedoman dalam kehidupan kita

Soli deo Gloria
Pdt. David Roestandi Surya Sutanto



[1] https://www.kompasiana.com/gustaafkusno/absensi-maknanya-kehadiran-atau-ketidakhadiran-sih_552ff6ce6ea8344d768b4588

Sabtu, 16 Desember 2017

Kitab Tawarikh


Latar Belakang Kitab Tawarikh
Penulis dari kitab Tawarikh ini adalah Ezra, dimana konteks dan zaman kitab Tawarikh adalah pada masa sesudah pembuangan atau kembalinya bangsa Israel dari Babilonia.  Bangsa Israel dapat kembali ke tanah perjanjian dikarenakan pada masa itu Raja Kores dari Persia menaklukan bangsa Babel
2 Tawarikh 36:23  "Beginilah perintah Koresh, raja Persia: Segala kerajaan di bumi telah dikaruniakan kepadaku oleh TUHAN, Allah semesta langit. Ia menugaskan aku untuk mendirikan rumah bagi-Nya di Yerusalem, yang terletak di Yehuda. Siapa di antara kamu termasuk umat-Nya, TUHAN, Allahnya, menyertainya, dan biarlah ia berangkat pulang!"
Kerajaan Persia mempunyai ketetapan khusus kepada negara jajahannya yaitu memberikan kebebasan beragama bagi penduduknya.  Hal inilah yang dimanfaatkan Ezra dan Nehemia dalam memulihkan kultus beragama di Israel. 

Isi Kitab Tawarikh
  •  Permulaan 1 Tawarikh (pasal 1–10) kebanyakan berisi daftar silsilah, termasuk keluarga Saul dan penolakan Allah terhadap Saul yang menjadi dasar munculnya raja Daud.
  • 1 Tawarikh pasal 11–29: sejarah pemerintahan Daud.
  • Permulaan 2 Tawarikh (pasal 1–9): sejarah pemerintahan raja Salomo, putra Daud.
  • 2 Tawarikh pasal 10–36: sejarah raja-raja Yehuda sampai kepada pembuangan ke Babel, ditutup dengan dekrit raja Koresh Agung mengizinkan orang-orang kembali ke tanah air mereka masing-masing.

1 Tawarikh
Kitab 1 Tawarikh ini berfokus pada pemerintahan Daud sebagai Raja Israel, banyak peristiwa dalam kehidupan Daud di kitab ini juga tercantum di 2 Samuel.  Pada 1 Tawarikh ini, kita diberikan wawasan tentang karakter Daud yang tidak terdapat dalam kitab 1 Samuel.  Kita belajar bahwa Daud memberikan perintah kepada para imam dan orang Lewi dalam kelompok yang berbeda dengan tugas-tugas khusus dalam mengatur kemah suci (1 Tawarikh 23:2-26:32).  Ia pun telah mengumpulkan bahan bangunan untuk membangun bait Allah yang akan diwujudkan oleh Salomo (1 Tawarikh 28:9-29:19).  Ada perbedaan sudut pandang dari 1 Tawarikh dengan 2 Samuel, yaitu tentang permasalahan citra Daud.  Di dalam Kitab 1 Tawarikh ini Daud sangat positif citranya, kekuatan dan kecakapan Daud sangat menonjol serta kepercayaan dan kesetiaan Daud kepada Allah sebagai teladan bagi para pemimpin Israel. Kisah mengenai perzinahannya dengan Batsyeba, perencanaan pembunuhan terhadap Uzia, peringatan keras Nabi Natan kepada Daud (2 Samuel 11:12) tidak dimunculkan sama sekali.

Susunan kitab 1 Tawarikh
1.      Dari Adam sampai pembuangan (1:1-9:34)
Dari Adam sampai Yakub (1:1-54)
Yehuda, Daud, dan keturunannya (2:1-4:23)
Suku-suku Israel yang lainnya (4:24-8:40)
Daftar keturunan yang kembali ke Yerusalem (9:1-34)

2.      Daud, pendiri Bait Allah (9:35-29:30)
Pengantar: kematian Saul (9:35-10:14)
Daud memerintah di Yerusalem (11:1-17:27)
Pertempuran-pertempuran Daud (18:1-20:8)
Daud berencana mendirikan Bait Allah (21:1-29:30)

2 Tawarikh
Kitab 2 Tawarikh adalah sejarah pemerintahan Salomo hingga sampai terjadinya era pembuangan ke Babel.  Kitab 2 Tawarikh ini mencakup periode 1 dan 2 Raja-raja.  Perbedaan mendasar dari kitab tersebut adalah

1.     Raja-raja Israel hanya sedikit mendapat perhatian dalam kitab 2 Tawarikh
2.   Peran Elia dan Elisa (bahkan tidak disebutkan sama sekali) tidak terlihat sama sekali di kitab ini.  Ini dikarenakan banyak nubuat Elia dan Elisa ditujukan kepada raja-raja israel (kerajaan utara)
3.     Kitab 2 Tawarikh berfokus pada kerajaan Yehuda.

Penulis Kitab 2 Tawarikh hendak berfokus bahwa kegagalan umat Israel sehingga dibuang ke Kerajaan Babel adalah karena ketidaktaatannya kepada Allah.  Adapun isi kitab 2 Tawarikh:

1.      Salomo, Pembangunan Bait Allah (1:1-9:31)
Hikmat dan kekayaan Salomo (1:1-17)
Salomo membangun Bait Allah (2:1-5:1)
Salomo menahbiskan Bait Allah (5:2-7:22)
Masa pemerintahan Salomo yang panjang (8:1-9:31)
2.      Kerajaan terbagi (10:1-28:27)
Pendahuluan: suku-suku utara memberontak (10:1-11:4)
Raja-raja Yehuda (11:5-28:27)
3.      Akhir Kerajaan yang terbagi (29:1-36:23)
Pembaruan Hizkia (29:1-32:33)
Manasye dan Amon (33:1-25)
Pembaruan Yosia (34:1-25:27)
Kejatuhan, pembuangan, dan kembalinya Yehuda (36:1-23)

Maksud penulisan Kitab Tawarikh
Tujuan utama penulis kitab Tawarikh ini bukanlah hendak menuliskan kitab sejarah, melainkan menulis suatu teologi sejarah.  Waktu penulisan kitab Tawarikh adalah sesudah masa pembuangan, dimana bangsa Israel yang dulunya adalah bangsa yang besar dan berkuasa tetapi luluh lantak,  oleh karena itu Ezra menulis kitab ini dengan maksud memberi sebuah harapan kepada Bangsa Israel bahwa Allah tetap menyertai mereka.  Janji-Nya bahwa keturunan Daud akan selalu memerintah atas umatNya ( 2 Samuel 7:1-17) belum dilupakannya.
Penulis Tawarikh lebih menekankan perhatian kepada Bait Allah dan peribadatan terkhususnya tugas-tugas orang Lewi.  Setiap peristiwa diuraikan menurut teori pahala-hukuman.  Siapa yang bersalah atau berdosa akan mendapatkan hukuman sedangkan yang benar akan mendapatkan pahala.
Penulis Tawarikh memusatkan pada teologi iman bahwa ketika manusia percaya dan memuji Allah maka semuanya akan beres. Pemikiran ini sangatlah sesuai dengan keadaan bangsa Israel pada saat itu yang memang terpukul setelah mengalami masa pembuangan.  Mereka meyakini bahwa pembuangan itu adalah hukuman Allah karena ketidaktaatan mereka.  Oleh karena itu penulis Tawarikh mengajak Bangsa Israel untuk percaya, beribadah, dan memuji dalam segala hal.

Daftar Bacaan
David L Baker dan John J. Bimson "Mari Mengenal Arkeologi Alkitab"
George W. Knight "Adat Istiadat Alkitab dan Keunikannya dalam Gambar"
Philip J King dan Lawrence E. Stager "Kehidupan orang Israel Alkitabiah"
S. Wismoady Wahono "Disini Kutemukan"
Robert B. Coote "Kuasa Politik dan Proses Pembuatan Alkitab"
John Rogerson "Studi Perjanjian Lama bagi Pemula"
Alkitab Edisi Studi dari LAI





Selasa, 21 November 2017

Gereja berbagi dan peduli

Keadaan dunia pada saat ini mengarah kepada sikap saling tidak peduli terhadap yang lain.  Individualisme seakan menjadi sebuah gaya hidup dan ini pun masuk dalam lingkungan gereja.  Gereja-gereja mulai tidak memperhatikan sesamanya ataupun kalau memperhatikan hanya ala kadarnya saja.  Pada saat ini gereja terjebak pada pietisme pribadi tanpa mengingat bahwa seorang pietis tidak seharusnya memikirkan egonya sendiri melainkan harus melakukan sebuah tindakan sebagai dasar spiritualitasnya.

Dunia yang rakus menjadi sebuah slogan bagi kita semua yang melihat bahwa seperti yang dikatakan oleh seorang Max Webber bahwa protestantisme membuat seorang kristen menjadi seorang yang menumbuhkan sikap kerakusan dalam dirinya tanpa disadari.  Sikap protestantisme yang mengagungkan kesuksesan diri sendiri membawa dampak yang buruk, seorang kristen mulai tidak memperhatikan keadaan lingkungannya dan mulai mengejar kesuksesan untuk membuktikan bahwa dirinya adalah pilihan Tuhan.  Hal inilah yang ditentang oleh Marx sehingga dia mengkritik sikap seorang yang beragama di dalam bukunya Das Kapital.  Marx, menginginkan seseorang untuk lebih sosialis dan hidup berkeadilan dalam lingkungannya.

Gereja sebagai tubuh Kristus seharusnya menjadi gereja yang tidak hanya memperhatikan diri sendiri melainkan mulai memperhatikan keadaan sesamanya.  Hal berbagi sebenarnya sudah menjadi bagian dalam kehidupan gereja yaitu di dalam Perjamuan Kudus. Di dalam meja Perjamuan Tuhan, semua manusia diundang untuk mendapatkan anugerah keselamatan.  Oleh karena itu, makna perjamuan kudus mempunyai aspek diakonat (pelayanan terhadap sesama)[1] dan mengingatkan kita bahwa masih ada orang yang menderita yang berada di bawah tekanan kemiskinan, mengalami ketidakadilan, dan tersingkirkan. Perjamuan Kudus bukan hanya sekedar mengingat pengurbanan Kristus, namun memiliki aspek sosialnya yaitu mau berbagi kepada sesamanya tanpa memandang status dan golongan.

CONCUPISCENCIA dan UGAHARI
Kami ingin mengaku bahwa satu milliar orang dalam penderitaan bertahan hidup dengan 1,4 % sumber-sumber daya dunia, sementara 20% populasi dunia memusatkan 82% sumber-sumber daya dunia di tangan mereka (doa pengakuan dosa dalam World Communion Of Reformed Churches). 

Concupiscencia sebuah kata yang seringkali dihubungkan dengan dosa asali.  Concupiscence is understood as an effect of original sin that remains after baptism. The waters of baptism cleanse us of original sin itself, but concupiscence remains as a lingering effect. The Catechism of the Catholic Church teaches that “certain temporal consequences of sin remain in the baptized, such as suffering, illness, death … as well as an inclination to sin that Tradition calls concupiscence” (No. 1264, emphasis in original).  Concupiscencia bisa dikatakan adalah sebuah hasrat atau nafsu yang berlebihan atau tidak dapat dikontrol pada hal-hal duniawi yang berlebih.  Di sini bukan godaanya yang berupa dosa melainkan respon manusia terhadap godaan tersebut. Hal ini juga dikatakan di dalam Konsili Trente (1545-1563):
concupiscence “comes from sin and induces to sin.” Yet, concupiscence is not itself sin. Concupiscence makes us vulnerable to sin, but susceptibility to temptation is not sin. How we act in response to the temptation determines the rightness or wrongness — the sin. With constant attention, or more accurately with the acceptance of God’s constant outpouring of grace, the human person can be unaffected by this tendency to drift off course.

Seseorang berdosa bukan karena godaannya melainkan respon terhadap godaan tersebut.  keberdosaan gereja dapat terjadi pada saat mereka mengabaikan panggilannya terhadap lingkungannya.  Gereja pada saat ini dapat terjebak pada pementingan diri sendiri dibandingkan sebuah usaha untuk berbagi terhadap sesamanya.

Martin Luther King Jr mengatakan bahwa gereja janganlah merasa cukup dengan hanya menjadi seorang Samaria.  Dia mengatakan bahwa menjadi seorang Samaria adalah hal yang baik namun gereja harus melampaui hal itu.  Gereja  haruslah menjadi gereja yang dapat membuat perjalanan dari Yerikho hingga Yerusalem aman tanpa terjadinya perampokkan lagi.  Untuk mewujudkan hal ini diperlukan yang namanya keadilan sosial bagi seluruh manusia.  Gereja harus menjadi gereja yang berbagi dan peduli terhadap sesamanya.  Gereja haruslah berugahari terhadap lingkungannya

Apa itu Ugahari? Di dalam KBBI ugahari/uga·ha·ri/ kl a 1 sedang; pertengahan; 2 sederhana;keugaharian/ke·u·ga·ha·ri·an/ kl n kesederhanaan; kesahajaan: walaupun hartanya melimpah ruah,ia hidup dalam ~ dan sangat dicintai oleh rakyatnya.  Gereja haruslah menjadi gereja yang penuh kesahajaan yang tidak menonjolkan kelebihannya untuk dipertontonkan melainkan gereja haruslah sederhana dengan melakukan sikap peduli dan berbagi terhadap orang-orang di sekelilingnya.  Berikanlah kami makanan kami yang secukupnya adalah sebuah kalimat doa yang menunjukkan sikap kita terhadap concupiscence dan lebih memilih menjadi seorang yang berugahari dalam kehidupan.

Sikap yang berugahari di dalam gereja adalah salah satu langkah awal gereja untuk dapat berbagi.  Mengapa? Di dalam dasar Alkitab dikatakan bahwa sikap hidup jemaat mula-mula yang menjadi awal mengapa banyak orang yang tertarik menjadi orang Kristen.  Bahkan Kristus pun mengidentikkan sikap seorang muridNya adalah saat mereka saling BERBAGI Kasih.  Oleh sebab itu gereja pun harus bersama-sama memikirkan konsep berbagi ini dalam setiap program-program yang direncanakan. Soli Deo Gloria




                [1] Henri Veldhuis, Kutahu yang Kupercaya (Jakarta: BPK Gunung Mulia,2010), hal 254)

Jumat, 03 November 2017

Jamur Enoki yang Uenak Pol

Kehidupan bagi anak kos berat ya, penuh dengan perjuangan sehingga apapun kalau bisa dibuat dengan cepat dan murah.  Ya betul murah, karena biasanya anak kos itu kaya di awal bulan dan seret di akhir bulan (curcol nih hehehe). Nah biasanya anak kos itu identik dengan indomie, ya betul indomie seringkali menjadi penyelamat perut dari anak-anak kos. Indomie memang paling enak bahkan seluruh dunia mengakui indomie adalah ramen terlezat dan dirindukan.  Namun, bayangkan kalau semua mahasiswa makan indomie tentu tidak sehat.  Nah, Tuhan tuh baik, banyak sayur-sayuran yang Dia ciptakan itu mudah untuk dimasak. Salah satunya itu jamur enoki, tahu ga jamur enoki? Nih saya tunjukkan
Jamur Enoki
Mahasiswa butuh cepat kan kalau mau buat masakan, murah dan bergizi. Saya berikan resepnya dan ini sangat mudah bahkan menurut salah satu teman saya yang juga suka memasak resep ini dipakai oleh cheff terkenal untuk jadi menunya di restorannya.  
Ini salah satu resepnya

  1. Beli jamur enoki 100 gram lebih kurang Rp 6500 per/pak
  2. Sediakan mentega secukupnya
  3. Kecap asin

Cara memasaknya

  1.  Potong jamur bagian bawahnya lalu disuir-suir jamurnya
  2. Panaskan mentega di penggorengan
  3.  Masukkan jamur
  4.  Kasih kecap asin secukupnya
  5. Aduk sampai merata

SELESAI. Kok cepet banget? Benar kan cepat masaknya tidak sampai satu jam kalau masak ini.  Murah, bergizi, instant jadinya bro dan sis bisa masak yang cepat secepat memasak indomie heheheh

Selamat memasak ya, hidup mahasiswa :D:D:D

Contoh Kalimat Showing

contoh kalimat showing adalah sebuah cerita yang menggunakan panca indra


Krinnnggggg.... alarm berbunyi membangunkan saya dari tempat tidur.  Lalu saya bergegas bangun dan menuju kamar mandi untuk mempersiapkan diri saya untuk bekerja.  Di dalam kamar mandi, saya merasakan bagian dagu saya mulai kasar karena bertumbuhnya janggut sehingga saya mengambil pisau cukur dan mencukur janggut saya.  Setelah mempersiapkan diri, lalu saya menuju mobil di garasi dan mulai menyalakan mobil tersebut.  kemudian saya pun mengendarai mobil itu menuju ke tempat kerja.  Akan tetapi terjadi hal yang tidak diduga, saya melihat  ada sebuah truk besar berwarna hijau yang terbalik dan menutup sebagian badan jalan.  Kondisi tersebut membuat keadaan lalu lintas di sekitarnya sangat macet.  Hal yang lebih tak terduga adalah AC mobil saya mati sehingga, mau tidak mau saya harus membuka kaca jendela.  Sekitar satu jam saya harus berhenti di mobil dan merasakan bau yang menyengat karena di samping mobil saya ada sebuah truk sampah yang juga ikut terjebak karena kecelakaan tersebut.  Bau sampah itu begitu menyengat sehinnga saya harus menutup kaca jendela mobil.  Setelah menutup kaca jendela mobil, beberapa saat kemudian dikarenakan matahari mulai nampak dan banyaknya mobil yang terjebak membuat hawa menjadi panas dan saya merasakan hawa panas di dalam mobil saya.  Untuk mengurangi rasa panas tersebut, akhirnya saya membeli sebuah minuman dingin dari pedagang asongan yang lewat, lalu saya meneguk minuman itu sedikit demi sedikit sehingga rasa dingin dan manis terasa di dalam mulut saya.  Hampir dua jam saya berada di dalam kemacetan tersebut, hingga akhirnya petugas yang berwajib berhasil meminggirkan truk dan akhirnya kemacetan dapat terurai.

pendengaran : suara alarm
perasa           : kasar
penglihatan   : warna truk
penciuman    : bau sampah
pengecap      : manis

free writing sesi kedua

Free writing mazmur 121

Darimanakah keselamatan kita? datangnya dari Tuhan itulah yang membuat kita yakin bahwa Tuhan akan selalu menjaga kita, namun kalau kita kecelakaan sakit dan sebagainya apoakah berarti tuhan tida menjaga kita? padahal dia mengatakan dalam mazmur bahwa Tuhan aklan mendatangkan skeselamatan dan walaupun kita jatuh kita tidak akan dibiarkannya.  Pasal ini merupakan keyakinan dari pemazmur bahwa dirinya sedang dalam keadaan susah namun walaupn dalam keadaan susah dia tetap yakin bahwa tuhan tidak meninggalkan dia.  Oleh karena itu yakinlah bahjwa Tuhan akan selalu menjaganya. Demikian dengan kita bahwa Tuhan akan selalau menjaga kita apapin uyang sedang terjadi dalam kehidupan kita, karena melalui dialah kita selamat.  Tanpa pertolongannya Tuhan tidak mungkin meninggalkan kita.  janji tuhan untuk selalu menjaga kita diterapkan dalam hidup kita sehari hari.  Lalu bagaimana dengan celaka? Pernahkah kita berpikir bahwa celaka kita tidak lebih parah jika tuhan tidak menjaga kita? lalu bagaimana jika kita sedanga kecelakaan dan akhirnya merenggut nyawa kita apakah itu tandanya tuhan tidak menjaga kita , sekali lagi bahwa itu bukan tandanya meninggalkan kita melainkan itu tandanya waktu kita di dunia telah usai demikian juga jika terjadi pada orang yang kita kasihi.  Ayat ini merupakan sebuah kekuatan agar kita selalu yakin bahawa Tuhanlah yang menjaga kita, jangan khawatir Tuhan akan memberi kekuatan kepada kita.  inilah yang diyain para pemazmur bahwa dia dijaga oleh tuhan.  melalui pemazmur kita belajar bagaimana kita menyerahkan total kehidupan kita kepada tuhan, di dalam mazmur kita yakin tuhanlah menjaga kita.  jika saat ini kita sedang susah, sakit, terkena musibah, yakinlah tetap tuhan tidak membawa pencobaan yang melebihi kekuatan kita, tuhan menginginkan ita teap semangat dalam menjaga kehidupan kita.  mampirlah denganr doaku yesus penebus sebuah nyanyian yang merupakan keinginan ita aagar tuhan selalu menjaga kita.  ingatlah berapa banyak yang tuhan telah jaga, keluarga kita, pasangan kita, kita dalam pekerjaan, anak-anak kita.  jika kita mengngat sebuah peristiwa yang hampir mencelakai kita namun entah bagaimana kita dapat terhindar dari hal tersebut, berarti tandanya tuhan menjaga kita, lalu bencana alam? Apakah tuha tidak menjagaa? Katanya tuhan tidak tidur? Sekali lagi bahwa tuhan menginginkan ita tetap berserah kepadanya , tuhan menginginkan apa yang ada menjadai sebuah kekuatan dalam hidup kita. pad a saat sakit angin tuhan menjaga saaya dalam hal kecil yaitu melalui adi yang memberi saya toalk angin, sebuah hal yang kecil namun itu juga tanda bahwa tuhan menjaga kita

Kamis, 02 November 2017

Contoh Free Writing

Ini adalah cara menulis bebas saya tanpa harus mengkhawatirkan kesalahan-kesalahan yang ada dalam tulisan-tulisan saya.  jadi tulisan ini adalah mengenai apakah itu kenormalan, namun dengan gaya freewriting tanpa harus khawatir kesalahan-kesalahan termasuk kesalahan penulisan. Tulisan ini ditulis kira-kira 10 menit.  Manfaat freewriting ini adalah kita dapat mempunyai kebebasan dalam menulis dan banyak ide-ide yang muncul yang dapat dijadikan topik untuk tulisan selanjutnya
Inilah contohnya:
Apa itu normal? Normal adalaj sesuatu hal dari sudut pandang seseorang bahkan yang terlihat normal berdasarkan sudut pandang sebuah komunitas yang besar.  Akan teteaqpi bisa saja kenormalan itu adalah suatu hal yang abnormal bagi komunitas tertentu, misalkan makan anjing adalah suatu keabnormalan bagi komunitas di jawabarat namun hal itu merupakan kenormalan di daerah manado. Bahkan saya pernah membaca bahwa ada sebuah supermarket yang menjual badan ular untuk disantap, itu sebuah keabdnormalan bukan kah mereka dapta memalanm makanan yang biasa seperti ayam sapi ataupun babi.namun kembali lagi kenor,alan adalah sudurt pandang tertentu sebuah komunitas
Pada jaman alkitab terdahulu seseorang yang dikurbakkan ke mesbah adalahns sebuah hal yang nyata dan normal tetapi di dalam alkitab dikatakan sebuah kekejian bagi tuhan tapi di agama di lura israel itu adalah hal yang normal.  Oleh karena itu seseorang dapat dikatakan normal apabola ia menguabah cara pandangnya tentang sebuah skebudayaan tertentu dapat masuk ke dalam kebudayaan tersebut.  Soiapa yang dapat mengatakan orang ini normal atau tidak? Jika ada semua penduduk dunia ini gila lalu hanya kita yang tidak gila lalu siapakah yang normal? Jadi jangan khawatir untuk dibilang tidak normal karena sebuah kenormalam adalah sebuahsudut padangf tertenti dalam sebuah kebudayuaan manusia kalau kita mau disebut normal jangnlah khawatir akan papiun juga namun menunjukan sebuah indentitas keangsaaan yang jelas, dulu perempuan memakai baju biru adalah sebuah hal yuang tabu namun setelah istri presiden memakao baju biru semua orang mulai memaai baji pink tanpa harus dicemooh lagi
Dulu seorang inggris memakai payun adalah sebuah hal yang tabu namun sekarang orang laki laki di inggris tidak malu memakai payung jika hujan.  Kenormalan adalah sebuah standar yang ditentuakan oleh sebuah komunitas dan dapat berubah jika ada yorang yang berani mendobrak tradisi

Dulu perempuan tidak boleh jadi pendeta namun sekarang banyak perempuan yang dapat menjadi pendeta bahjaan di idnonesia preseiden wanita adalah megawati sioekareno putri yang bisa memimpin di indonesua yang mayoritas adalah orang muslim.  Bukankah sekali lagi kenormalan adalah sebuah pandangan seseorang yang bisa saja berubah.  Tkenormalan adalah sebuah ketidakmnormalah apabila tidak mengikuti perkembangan jaman.  Dulu banyak yang tidak suka memakai alkita di hanphone yang dianggap mengurangi kesucian kitab suci namun kalau kita liohat manusia sekarang lebih mengutamakan instanisasi sehingga alkitab dijadikan hanphine dan banuyak orang sekarang lebih suka membawa handphone kerimbang membawa alkitab karena lebih berat membawa alkirab dibandingkan hanpjone orang bisa sja marah marah namun inilah perkembangan jaman mengubaj cara pandanhg mmanusia yang mengikuti tradisi jadi kenormalan adalah suatu cara pandang komunitas tertentu sehinnga dapat berunbah menjadi lebih baik sehingnga kita tidak perliu khawatir

KASIH KRISTUS, KEKUATAN YANG BARU BAGI KOMUNITAS YANG BARU

Cinta adalah kekuatan paling lembut di dunia
-Mahatma Gandhi-


                Umat yang terkasih dalam Yesus Kristus, pernyataan cinta tidak memandang perbedaan memang tepat benar adanya. Mengapa? Karena melalui cinta batasan-batasan yang ada dapat ditembus atau dihancurkan.  Cinta tidak memandang etnis, budaya, status ekonomi dan sosial, bahkan cinta dapat membuat seseorang berubah pemikiran dan pandangannya terdapat hal-hal yang menjadi prinsipnya.  Salah satu contohnya adalah di dalam cerita mengenai penglihatan Petrus tentang makanan haram dan halal.
                Penglihatan Petrus bukan hanya sekadar tentang makanan yang halal ataupun haram melainkan apakah keselamatan diberikan kepada kaum Non-Yahudi? Apakah Injil dapat diberikan kepada kaum di luar Yahudi?  Umat yang terkasih dalam Yesus Kristus, keselamatan dalam bangsa lain adalah sebuah konsep yang tidak pernah ada dipikirkan oleh bangsa Israel.  Pandangan mereka adalah
·         Bangsa Israel adalah Bangsa pilihan Allah
·         Bangsa Israel sajalah yang diselamatkan bukan bangsa yang lain
·         Bangsa tak bersunat dan kafir tidak layak diselamatkan
Oleh karena itu, penglihatan Petrus menimbulkan kegemparan iman pada saat itu bahkan untuk pengikut Kristus sekalipun.  Namun Petrus dengan bijak dan hikmat dari Tuhan menjawab mereka “Jadi jika Allah memberikan karunia-Nya kepada mereka sama seperti kepada kita pada waktu kita mulai percaya kepada Yesus Kristus, bagaimanakah mungkin aku mencegah Dia?" (Kis 11:17).  Petrus melihat bahwa keselamatan diberikan pada bangsa lain karena Kasih Allah yang melampaui batasan-batasan yang dibuat bangsa Israel pada saat itu.  Akhirnya, melalui penjelasan dari Petrus, komunitas murid Kristus dengan pola pikir yang lama diperbaharui melalui kasih Allah kepada seluruh bangsa.  Konsep Kasih Allah kepada semua manusia menjadi kekuatan baru bagi komunitas tersebut.
Itu konteks pada masa lalu bagaimana dengan masa sekarang? seringkali kita menjadi hakim bagi sesama kita.  Kita dengan mudah melihat orang lain lebih berdosa dibandingkan diri sendiri.  Penghakiman seringkali terjadi karena perbedaan yang terjadi dalam diri seseorang.  Padahal Yesus mengidentikkan pengikutNya dengan kasih “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi“ (Yoh 13:34).  Menjadi pengikut Kristus berarti bukanlah menghakimi orang lain karena perbedaan melainkan bagaimana kita tetap dapat mengasihi sesama kita manusia apapun statusnya.
Yesus mengasihi orang-orang yang dianggap hina pada zamanNya seperti pelacur, pemungut pajak, orang kusta, dll. Yesus tidak menghakimi tetapi memberikan kasih melalui kasih tersebut terjadi sebuah perubahan dalam kehidupan orang lain. 
Gereja sebagai komunitas (Komunitas berasal dari kata Komuni dalam bahasa Inggris: communion, dari bahasa Latin: communio yang berarti "berbagi bersama") haruslah menunjukkan menjadi komunitas pengikut Kristus yang saling berbagi dan saling mengasihi satu dengan yang lain. Apa yang harus dilakukan gereja? Seperti yang Paulus tuliskan “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani [budaya dan etnis], tidak ada hamba atau orang merdeka [ekonomi dan sosial], tidak ada laki-laki atau perempuan [gender], karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Gal. 3:28).
Gereja sebagai komunitas Kristus haruslah mengupayakan 3 hal ini yaitu
1.       Share (berbagi).  “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13). Yesus berbagi terhadap sesamaNya bahkan nyawaNya untuk menyelamatkan umat manusia.  Marilah ingatlah prinsip komunitas (berbagi sesama).  Konsep berbagi ini berarti melepaskan ego dalam diri sendiri.
2.       Care (berempati). Menjadi pengikut Kristus berarti haruslah berempati kepada sesamanya.  Di dalam Matius 14:14,16 Menjadi pengikut Kristus berarti haruslah berempati terhadap sesama manusia dengan melakukan sebuah tindakan.
3.       Joy (Bersukacita). Menjadi pengikut Kristus haruslah dapat bersukacita dan membuat suasana sukacita di dalam kehidupan bergereja.  Sebuah suasana sukacita adalah hasil dari tindakan berbagi dan berempati terhadap sesama.
Marilah Umat kita bersama-sama menjadi saksi bagi sesama bukan hakim bagi sesama sehingga semua orang akan tahu kita adalah murid Kristus jika kita saling mengasihi satu dengan yang lain.  Tuhan memberkati kita.


Pdt. David Roestandi Surya Sutanto

Minggu, 17 April 2016

Gereja Sebagai Sahabat

JADILAH SAHABAT

Apa itu Gereja?  Biasanya dengan nyanyian yang kita tahu dari sekolah minggu, “gereja adalah orangnya.”  Di dalam KBBI, gereja itu disebut sebagai sebuah tempat berdoa umat Kristen atau badan umat  yang sama kepercayaan, ajaran, dan tata cara ibadahnya.  Melalui penjelasan ini kita dapat melihat bahwa gereja dipandang bukan hanya sebuah gedungnya, sebuah tata ibadahnya, melainkan gereja adalah sebuah komunitas.
Gereja sebagai sebuah komunitas.  Komunitas berasal dari kata Komuni (dalam bahasa Inggris: communion, dari bahasa Latin: communio yang berarti "berbagi bersama").  Gereja sebagai sebuah komunitas bisa dilihat pada saat Kristus melakukan perjamuan malam terakhir.  Perjamuan malam terakhir adalah saat Yesus berkomunitas (berbagi bersama) dengan para muridnya.  Yesus berbagi roti yang dilambangkan tubuhNya, dan berbagi anggur yang dilambangkan darahNya.  Gereja adalah tempat berbagi dan seharusnya gereja menjadi titik awal berbagi kepada dunia ini.
Akan tetapi, permasalahannya adalah gereja sudah menjadi seperti bisnis yang terselubung.  Pemikiran-pemikiran dalam gereja mulai dirasuki pola pikir untung dan rugi.  Pola pikir itu tanpa kita sadari sudah menjadi
1. Sebuah acara tidak didatangi banyak orang berarti acara itu tidak sukses.
2. Bagaimana membuat orang (domba) lain dapat menjadi anggota gereja kita
3. Bagaimana kegiatan kita dapat didatangi banyak orang lalu diliput oleh media massa
4. Daerah tersebut ada gereja bukan dari aliran kita, maka kita wajib membuka supaya kita tidak kehilangan anggota (pasar)
Contoh-contoh di atas dapat bertambah banyak jika akhirnya kita melihat gereja sebagai sebuah institusi yang mencari profit semata.  Ukuran kesuksesan sebuah kegiatan akhirnya disamakan menjadi sama dengan dunia bisnis.  Pertanyaannya jika ada satu orang yang berubah dari acara yang tidak mendatangkan banyak orang tersebut, apakah acara tersebut sukses?  Jika kita kembali kepada core business gereja adalah “terjadinya sebuah perjumpaan dengan Tuhan.”  lalu bagaimana gereja jangan sampai terjebak dalam pola pikir untung rugi? Apa yang harus dilakukan gereja sebagai komunitas dimana komunitas tersebut terjadi sebuah perjumpaan dengan Tuhan?

Gereja sebagai Sahabat
Pola pikir bergereja yang dapat diusulkan dapat berupa sebuah proses persahabatan. Gereja sebagai komunitas dimana adanya sebuah proses berbagi bersama dapat dilakukan jika kita bersahabat dengan sesama manusia.  Pdt. Suatami Sutedja pernah memberikan wejangan terhadap saya pada saat mau menjadi seorang pendeta, beliau berkata “David kamu tidak boleh punya sahabat di dalam gereja, melainkan kamu harus bersahabat kepada semua orang.”  Gereja sebagai sahabat adalah gereja yang menawarkan hospitality (keramah-tamahan) bukan hanya kepada orang tertentu saja melainkan kepada semua orang tanpa terkecuali.
Menurut Joas Adiprasetya manusia diciptakan menurut gambar Allah, maka Allah Tritunggallah yang menjadi citra atau gambar umat manusia.  Allah Tritunggal itu sendiri adalah Allah persekutuan, Allah yang menjadi persahabatan ilahi sebagai karakter utamanya. Gereja pada gilirannya harus menjadi citra utama dari persahabatan ilahi itu, karena gereja, bahkan seluruh ciptaan, diundang untuk berpartisipasi ke dalam persekutuan ilahi tersebut.
Cara pandangan trinitaris inilah, ketiga, yang menjadi dasar bagi pemaknaan gereja sebagai persekutuan (koinonia). Koinonia adalah sebuah persekutuan cintakasih para sahabat Kristus, di mana kesetaraan menjadi nilai utamanya.  Dengan kata lain, gereja sebagai sebuah komunitas menjadi gereja yang merangkul “the other” sehingga mengalami kasih Trinitas di dalam sebuah persekutuan.
Mengapa gereja yang bersahabat? Di dalam Yohanes 15:15 dikatakan “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat”. Yesus menjadikan para murid jauh melampaui kategori pelayan yang seringkali adanya sebuah hierarki tuan-pelayan.  Yesus menawarkan sebuah model baru yaitu menjadi sahabat dimana tidak adanya hierarki melainkan sebuah kesetaraan.  Adiprasetya dalam beberapa makalahnya mengkritisi konsep servant-leader yang menurutnya, ada sebuah jebakan dalam konsep tersebut sehingga menjadi konsep pelayan yang bersikap tuan.
Menurut Joas Adiprasetya ada tiga wajah dalam hierarki di gereja
1. “Klerikarki” (clericarchy) atau pemerintahan oleh klerus. Pejabat gerejawi dipandang sebagai yang berwewenang menentukan nasib dan masa depan (serta masa kini) gereja.
2. “Gerontarki” (gerontarchy), yaitu pemerintahan oleh orang tua. Anak-anak muda dianggap sekadar sebagai pemimpin masa depan dan bukan pemimpin masa kini.
3. “Patriarki” (patriarchy) atau pemerintahan oleh bapa atau laki-laki. Perempuan dianggap tidak layak untuk menjadi pemimpin.

Yesus pernah mengecam hierarki semacam ini dan mengusulkan sebagai struktur-tandingan, dengan berkata pada para murid-Nya,42 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. 43 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, 44 dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. (Mrk. 10:42-44) Dengan menandaskan di awal ayat 43, “Tidaklah demikian di antara kamu,” Yesus ingin membenturkan dua struktur yang secara frontal berlawanan, yaitu hierarki dan doularki (hierarchy dan doularchy). Yang terakhir ini—dari kata doulos: hamba; arche: kepemimpinan—berarti kepemimpinan-hamba (servant-leadership). Jelas struktur tandingan ini memang berfungsi sebagai tandingan.
Artinya, ia bertenaga jika ada lawannya. Anehnya, ketika lawannya raib, maka hilang pulalah kekuatan dari struktur kepemimpinan-hamba ini. Dan dengan segera ia dapat berubah mempraktikkan apa yang tadinya ia lawan, yaitu hierarki. Maka kepemimpinan-hamba tidak boleh dilestarikan sebagai model ideal, karena memang sifatnya ad-hoc. Sayangnya, itulah yang terjadi. “pelayanan,” “pelayan,” “melayani” dan sebagainya sudah menjadi kosakata gerejawi yang dengan mudah berkurang makna, hilang makna, atau lebih parah lagi sesat makna. Situasi sesat makna ini muncul ketika justru doularki menjadi sosok atau topengnya dengan hierarki sebagai ruh atau wajah aslinya.
Konsep (yang mungkin) menjadi hierarki keempat adalah saat konsep doularki yang aslinya baik menjadi hierarki.  Permasalahan ini dapat timbul saat pelayan-pelayan merasa mempunyai power untuk melakukan ataupun memutuskan sesuatu.  Inilah saat sang pelayan menjadi bos bagi para pelayan yang lain.  Jebakan ini dapat terjadi di dalam gereja jika sang pelayan tidak lagi memancarkan kasih Kristus.  Pola ini pun terjadi tanpa kita sadari karena sudah menjadi “kebiasaan” yang benar. Contoh menurut Adiprasetya adalah pola hierarki laki-laki atas perempuan dalam kehidupan domestik di rumah diberlakukan juga di gereja, sehingga perempuan hanya diberi peran yang mirip dengan peran domestik.  Tata-letak dalam acara-acara gerejawi menunjukkan si pelayan (entah pendeta atau penatua) justru menempati posisi terhormat, kadang dengan jenis kursi yang berbeda.
Sebuah alternatif sangat menarik ditawarkan oleh Adiprasetya, yaitu teologi persahabatan.  Gereja menjadi tempat beramah-tamah tanpa ada sekat-sekat hierarki termasuk konsep pelayan-tuan.  Yesus menunjukkan sebuah kualitas seseorang yang mengasihi sahabatnya, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13). Sebuah konsep filiarki Kasih persahabatan.
Berbeda dari hierarki dan doularki yang bersifat vertikal, filiarki bersifat horisontal. Tidak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah. Tidak ada yang memaksa diri merendah dan menuntut diri ditinggikan. Semua setara di hadapan Kristus, Sang Kasih dan Sang Sahabat, yang menjadi pusatnya.   Menjadi umat yang bersahabat dengan semua orang.

APA YANG HARUS DILAKUKAN GEREJA?
Bagaimana gereja harus bersikap? Sesuai dengan tema kita “jadilah sahabat” marilah kita paparkan bagaimana kita menjadi sahabat bagi sesama kita.  Apa yang membuat kita dapat menjadi sahabat bagi sesama kita?  Salah satu yang harus dilakukan adalah dengan mengembangkan sikap ramah-tamah.  Sebuah sikap dalam diri yang tidak mementingkan diri sendiri namun dapat bersahabat dengan semua orang. Seperti yang Paulus tuliskan “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani [budaya dan etnis], tidak ada hamba atau orang merdeka [ekonomi dan sosial], tidak ada laki-laki atau perempuan [gender], karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Gal. 3:28).
Salah satu inspirasi dalam mengembangkan sikap bersahabat adalah mengembangkan tiga sikap ini yaitu Share, Care, and Joy (Berbagi, berempati, dan bersukacita).
1. Share (berbagi).  “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13). Yesus berbagi terhadap sesamaNya bahkan nyawaNya untuk menyelamatkan umat manusia.  Marilah ingatlah prinsip komunitas (berbagi sesama).  Konsep berbagi ini berarti melepaskan ego dalam diri sendiri.
2. Care (berempati).  Menjadi sahabat berarti haruslah berempati kepada sesamanya.  Di dalam Matius 14:14 Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka.  Yesus berbelas kasihan atau berempati terhadap sesamanya.  Di dalam Matius 14:16 “Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Tidak perlu mereka pergi kamu harus memberi mereka makan.”  Menjadi sahabat berarti haruslah berempati terhadap sesama manusia dengan melakukan sebuah tindakan.
3. Joy (Bersukacita).  Menjadi sahabat haruslah dapat bersukacita dan membuat suasana sukacita di dalam kehidupan bergereja.  Sebuah suasana sukacita adalah hasil dari tindakan berbagi dan berempati terhadap sesama.

Gereja sebagai sahabat?
kutipan dari buku Karen Main berjudul Open Heart, Open Home.
“We think in terms of entertaining as a woman’s chance to demonstrate her skill and the quality of her home, when actually entertaining has little to do with real hospitality. Entertaining says, “I want to impress you with my beautiful home, my clever decorating, my gourmet cooking.” Hospitality, however, seeks to minister. It says, “This home is not mine. It is truly a gift from my Master. I am His servant, and I use it as He desires.” Hospitality does not try to impress, but to serve.
Entertaining always puts things before people. “As soon as I get the house finished, the living room decorated, my place settings complete, my housework done–then I will start having people in.” Hospitality, however, puts people before things. “We have no furniture; we’ll eat on the floor.” “The decorating may never get done. Please come just the same.”
Entertaining subtly declares, “This is mine–these rooms, these adornments. These are an expression of my personality. It is an extension of who and what I am. Look, please and admire.” Hospitality whispers, “What is mine is yours.”

Daftar bacaan
Makalah Pdt. Joas Adiprasetya mengenai teologi persahabatn
Bahan visi dan misi GKI Kebonjati

Kamis, 13 Maret 2014

Makna Sosial Perjamuan Kudus

MAKNA SOSIAL PERJAMUAN KUDUS
I KORINTUS 11:17-34

"Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!"
"Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!"

PENDAHULUAN
Apa makna Perjamuan Kudus? Perjamuan kudus adalah sebuah peristiwa di mana kita mengingat kembali peristiwa pengurbanan Yesus yang mencurahkan tubuh dan darahNya untuk penebusan dosa manusia.  Namun pada masa kini, perjamuan kudus seringkali hanya dijadikan sebuah ritual semata.  Ada yang menjadikannya hanya sebagai rutinitas dalam tahun liturgi, beberapa gereja bahkan menjadikannya sebagai ritual untuk mendatangkan mukjizat kesembuhan.  Pemahaman ini sudah bergeser dari makna sesungguhnya sebuah perjamuan kudus diadakan. Untuk itu kita perlu memahami makna perjamuan dalam budaya Israel dan bangsa sekitarnya pada saat itu

PERJAMUAN SAMA DENGAN MAKAN
Salah satu isu teologis yang seringkali dimunculkan di dalam surat- surat Paulus adalah mengenai makanan.[1]  Makanan bukan hanya masalah pangan saja, namun juga mencakup permasalahan agama, budaya, dan status sosial seseorang.[2]  Paulus membahas permasalahan makanan di dalam surat-suratnya karena seringkali permasalahan ini menjadi pertikaian ataupun perselisihan antar-anggota jemaat.  Ini dapat kita lihat di jemaat Korintus antara kaum kaya dengan kaum miskin.  Di sinilah Paulus hendak memberikan makna baru dalam masalah perjamuan makan ini.

Tradisi Makanan dalam Bangsa Israel
Di dalam Yudaisme, ada dua sumber utama yang menjadi acuan peraturan tentang makanan
  1. Hukum Deuteronomi (Imamat 11; Ul 14:3-21)
  2. Tradisi Lisan

Hukum makanan dalam Yudaisme mengatur apa yang boleh dimakan dan dengan siapa kita boleh memakannya.  Orang Farisi adalah salah satu contoh kaum yang begitu ketat dalam melakukan peraturan ini.  Oleh karena itu, sangat wajar mereka mengritik Yesus yang makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa.  Selain itu, orang Yahudi yang saleh menghindari hubungan atau kontak sosial dengan orang-orang non-Yahudi dengan beranggapan bahwa orang-orang non-yahudi itu tidak bersih.  Kita dapat ambil contoh cerita dari Daniel, Tobit, dan Yudit. 
Orang Yahudi menyambut orang-orang non-Yahudi yang tertarik untuk mengikuti agama mereka, namun mereka tetap menghindari untuk makan dengan orang-orang non-Yahudi.  Sikap-sikap negatif tentang perjamuan makan dalam bangsa Yahudi bukan masalah rasa nasionalisme yang berlebihan melainkan ungkapan religius dan keyakinan sosial akan kesadaran mereka sebgai bangsa pilihan Allah.[3]
               
Tradisi Makanan dalam Bangsa Yunani-Romawi
Ada dua jenis acara makan keagamaan yang dikenal
  1.  Acara makan khusus yang diselenggarakan di rumah, pada acara makan ini ritus keagamaan diikutsertakan.  Secangkir anggur khusus dipersembahkan kepada dewa Zeus.
  2.  Acara makan umum.  Motivasi utama dalam ritus keagamaan ini adalah gagasan pesta.  Acara makan ini tidak diwarnai dalam keheningan tapi kegembiraan.

Kultus makanan dalam agama Yunani bermakna sosial.  Makanan bukan bermakna sakramental dan komunal dengan dewa-dewa.  Makanan dianggap sebagai kesempatan bagi para umat untuk menikmati persahabatan, makanan, dan hiburan.  Titik berat dari acara makan umum ini adalah persahabatan dan kegembiraan.  Oleh karena itu tidak heran jemaat Korintus pun sering mengadakan acara makan umum untuk menjalin persahabatan di tengah masyarakat

Perjamuan Makan di Korintus
Di dalam I Korintus 11:26-30  “Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang. Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya. Sebab itu banyak di antara kamu yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal.”  Ayat ini menggambarkan sebuah perjamuan kudus yang tampaknya mengerikan.  Ketidaklayakan kita dapat mengakibatkan sebuah hukuman pada kita.[4] Jika memang semua manusia yang berdosa tidak boleh mengikuti Perjamuan Kudus, maka tidak ada satu manusiapun yang dapat mengikutinya.

Perjamuan Kudus adalah sebuah ritual anugerah yang luar biasa, saat Allah berkenan untuk mengundang kita hadiri dalam meja perjamuannya untuk menerima keselamatan.  Ayat 26-30 bukanlah berhubungan dengan aspek vertikal antara Allah dengan manusia, melainkan lebih ditekankan ke arah horizontal.  Di sini terjadi pertikaian antara si “kaya” dan si “miskin” di mana pihak si kaya datang terlebih dahulu dan menghabiskan makanan dalam sebuah meja perjamuan.[5]  Inilah yang dipertanyakan oleh Paulus kepada mereka “apakah kamu tidak mempunyai rumah untuk makan dan minum?”  ini memberikan kita pengertian bahwa si kaya datang membawa makanannya sendiri dan memakannya sendiri tanpa berbagi kepada si miskin.

Mengapa jemaat Korintus melakukan hal tersebut? Ini dikarenakan mereka masih terpengaruh dengan kebudayaan lama mereka.  Rumah di Romawi mempunyai dua ruangan yaitu triclinium (ruangan makan) dan atrium (beranda).  Mereka yang mempunyai status sosial tinggi, kalangan atas menempati ruangan triclinium yang telah dihidangkan berbagai makanan sedangkan kalangan bawah menempati atrium yang kurang menyenangkan dan hanya dapat memperhatikan kalangan atas menyantap makanan.

Inilah yang dikritik oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus.  Bagi Paulus, Perjamuan Kudus harus memiliki ungkapan persamaan dan kesatuan yang khusus dalam tubuh Kristus.  Paulus di sini hendak meningkatkan rasa solidaritas anggota jemaat dengan menasihati mereka agar memulai dan mengakhiri bersama.  Mereka harus menunggu satu sama lain (1 Kor 11:33). Ini berarti kalangan atas harus menyambut tamu yang miskin dan memberlakukan mereka dengan penuh keramahan, kemurahan, dan kebaikan sehingga tidak ada satu pihak pun yang merasa tersinggung atau terluka perasaannya. 

Di dalam meja Perjamuan Tuhan, semua manusia diundang untuk mendapatkan anugerah keselamatan.  Oleh karena itu, makna perjamuan kudus mempunyai aspek diakonat (pelayanan terhadap sesama)[6] dan mengingatkan kita bahwa masih ada orang yang menderita yang berada di bawah tekanan kemiskinan, mengalami ketidakadilan, dan tersingkirkan. Perjamuan Kudus bukan hanya sekedar mengingat pengurbanan Kristus, namun memiliki aspek sosialnya yaitu mau berbagi kepada sesamanya tanpa memandang status dan golongan.


                [1] Forum Biblika, Jakarta: LAI 2000
                [2] Ibid.
                [3] Ibid, 38.
                [4] Joas Adiprasetya, Raja yang Menderita: Kumpulan Khotbah Reflektif tentang Anugerah Keselamatan(Jakarta: BPK Gunung Mulia,2012), hal 68.
                [5]Perjamuan makan pada saat itu bukan hanya secuil roti dan anggur saja melainkan sebuah bentuk perjamuan kasih. 
                [6] Henri Veldhuis, Kutahu yang Kupercaya (Jakarta: BPK Gunung Mulia,2010), hal 254)