SOLA FIDE SOLA GRATIA SOLA SCRIPTURA

ecclesia reformata semper reformanda

WELCOME

SELAMAT DATANG......
ALL OF YOU ARE INVITED!!!
THANKS.... GB

Jesus My Saviour

Jesus My Saviour
HI FRIENDS, WELCOME TO MY BLOG.. I HOPE YOU LIKE IT..GBU ALWAYS

Minggu, 17 April 2016

Gereja Sebagai Sahabat

JADILAH SAHABAT

Apa itu Gereja?  Biasanya dengan nyanyian yang kita tahu dari sekolah minggu, “gereja adalah orangnya.”  Di dalam KBBI, gereja itu disebut sebagai sebuah tempat berdoa umat Kristen atau badan umat  yang sama kepercayaan, ajaran, dan tata cara ibadahnya.  Melalui penjelasan ini kita dapat melihat bahwa gereja dipandang bukan hanya sebuah gedungnya, sebuah tata ibadahnya, melainkan gereja adalah sebuah komunitas.
Gereja sebagai sebuah komunitas.  Komunitas berasal dari kata Komuni (dalam bahasa Inggris: communion, dari bahasa Latin: communio yang berarti "berbagi bersama").  Gereja sebagai sebuah komunitas bisa dilihat pada saat Kristus melakukan perjamuan malam terakhir.  Perjamuan malam terakhir adalah saat Yesus berkomunitas (berbagi bersama) dengan para muridnya.  Yesus berbagi roti yang dilambangkan tubuhNya, dan berbagi anggur yang dilambangkan darahNya.  Gereja adalah tempat berbagi dan seharusnya gereja menjadi titik awal berbagi kepada dunia ini.
Akan tetapi, permasalahannya adalah gereja sudah menjadi seperti bisnis yang terselubung.  Pemikiran-pemikiran dalam gereja mulai dirasuki pola pikir untung dan rugi.  Pola pikir itu tanpa kita sadari sudah menjadi
1. Sebuah acara tidak didatangi banyak orang berarti acara itu tidak sukses.
2. Bagaimana membuat orang (domba) lain dapat menjadi anggota gereja kita
3. Bagaimana kegiatan kita dapat didatangi banyak orang lalu diliput oleh media massa
4. Daerah tersebut ada gereja bukan dari aliran kita, maka kita wajib membuka supaya kita tidak kehilangan anggota (pasar)
Contoh-contoh di atas dapat bertambah banyak jika akhirnya kita melihat gereja sebagai sebuah institusi yang mencari profit semata.  Ukuran kesuksesan sebuah kegiatan akhirnya disamakan menjadi sama dengan dunia bisnis.  Pertanyaannya jika ada satu orang yang berubah dari acara yang tidak mendatangkan banyak orang tersebut, apakah acara tersebut sukses?  Jika kita kembali kepada core business gereja adalah “terjadinya sebuah perjumpaan dengan Tuhan.”  lalu bagaimana gereja jangan sampai terjebak dalam pola pikir untung rugi? Apa yang harus dilakukan gereja sebagai komunitas dimana komunitas tersebut terjadi sebuah perjumpaan dengan Tuhan?

Gereja sebagai Sahabat
Pola pikir bergereja yang dapat diusulkan dapat berupa sebuah proses persahabatan. Gereja sebagai komunitas dimana adanya sebuah proses berbagi bersama dapat dilakukan jika kita bersahabat dengan sesama manusia.  Pdt. Suatami Sutedja pernah memberikan wejangan terhadap saya pada saat mau menjadi seorang pendeta, beliau berkata “David kamu tidak boleh punya sahabat di dalam gereja, melainkan kamu harus bersahabat kepada semua orang.”  Gereja sebagai sahabat adalah gereja yang menawarkan hospitality (keramah-tamahan) bukan hanya kepada orang tertentu saja melainkan kepada semua orang tanpa terkecuali.
Menurut Joas Adiprasetya manusia diciptakan menurut gambar Allah, maka Allah Tritunggallah yang menjadi citra atau gambar umat manusia.  Allah Tritunggal itu sendiri adalah Allah persekutuan, Allah yang menjadi persahabatan ilahi sebagai karakter utamanya. Gereja pada gilirannya harus menjadi citra utama dari persahabatan ilahi itu, karena gereja, bahkan seluruh ciptaan, diundang untuk berpartisipasi ke dalam persekutuan ilahi tersebut.
Cara pandangan trinitaris inilah, ketiga, yang menjadi dasar bagi pemaknaan gereja sebagai persekutuan (koinonia). Koinonia adalah sebuah persekutuan cintakasih para sahabat Kristus, di mana kesetaraan menjadi nilai utamanya.  Dengan kata lain, gereja sebagai sebuah komunitas menjadi gereja yang merangkul “the other” sehingga mengalami kasih Trinitas di dalam sebuah persekutuan.
Mengapa gereja yang bersahabat? Di dalam Yohanes 15:15 dikatakan “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat”. Yesus menjadikan para murid jauh melampaui kategori pelayan yang seringkali adanya sebuah hierarki tuan-pelayan.  Yesus menawarkan sebuah model baru yaitu menjadi sahabat dimana tidak adanya hierarki melainkan sebuah kesetaraan.  Adiprasetya dalam beberapa makalahnya mengkritisi konsep servant-leader yang menurutnya, ada sebuah jebakan dalam konsep tersebut sehingga menjadi konsep pelayan yang bersikap tuan.
Menurut Joas Adiprasetya ada tiga wajah dalam hierarki di gereja
1. “Klerikarki” (clericarchy) atau pemerintahan oleh klerus. Pejabat gerejawi dipandang sebagai yang berwewenang menentukan nasib dan masa depan (serta masa kini) gereja.
2. “Gerontarki” (gerontarchy), yaitu pemerintahan oleh orang tua. Anak-anak muda dianggap sekadar sebagai pemimpin masa depan dan bukan pemimpin masa kini.
3. “Patriarki” (patriarchy) atau pemerintahan oleh bapa atau laki-laki. Perempuan dianggap tidak layak untuk menjadi pemimpin.

Yesus pernah mengecam hierarki semacam ini dan mengusulkan sebagai struktur-tandingan, dengan berkata pada para murid-Nya,42 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. 43 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, 44 dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. (Mrk. 10:42-44) Dengan menandaskan di awal ayat 43, “Tidaklah demikian di antara kamu,” Yesus ingin membenturkan dua struktur yang secara frontal berlawanan, yaitu hierarki dan doularki (hierarchy dan doularchy). Yang terakhir ini—dari kata doulos: hamba; arche: kepemimpinan—berarti kepemimpinan-hamba (servant-leadership). Jelas struktur tandingan ini memang berfungsi sebagai tandingan.
Artinya, ia bertenaga jika ada lawannya. Anehnya, ketika lawannya raib, maka hilang pulalah kekuatan dari struktur kepemimpinan-hamba ini. Dan dengan segera ia dapat berubah mempraktikkan apa yang tadinya ia lawan, yaitu hierarki. Maka kepemimpinan-hamba tidak boleh dilestarikan sebagai model ideal, karena memang sifatnya ad-hoc. Sayangnya, itulah yang terjadi. “pelayanan,” “pelayan,” “melayani” dan sebagainya sudah menjadi kosakata gerejawi yang dengan mudah berkurang makna, hilang makna, atau lebih parah lagi sesat makna. Situasi sesat makna ini muncul ketika justru doularki menjadi sosok atau topengnya dengan hierarki sebagai ruh atau wajah aslinya.
Konsep (yang mungkin) menjadi hierarki keempat adalah saat konsep doularki yang aslinya baik menjadi hierarki.  Permasalahan ini dapat timbul saat pelayan-pelayan merasa mempunyai power untuk melakukan ataupun memutuskan sesuatu.  Inilah saat sang pelayan menjadi bos bagi para pelayan yang lain.  Jebakan ini dapat terjadi di dalam gereja jika sang pelayan tidak lagi memancarkan kasih Kristus.  Pola ini pun terjadi tanpa kita sadari karena sudah menjadi “kebiasaan” yang benar. Contoh menurut Adiprasetya adalah pola hierarki laki-laki atas perempuan dalam kehidupan domestik di rumah diberlakukan juga di gereja, sehingga perempuan hanya diberi peran yang mirip dengan peran domestik.  Tata-letak dalam acara-acara gerejawi menunjukkan si pelayan (entah pendeta atau penatua) justru menempati posisi terhormat, kadang dengan jenis kursi yang berbeda.
Sebuah alternatif sangat menarik ditawarkan oleh Adiprasetya, yaitu teologi persahabatan.  Gereja menjadi tempat beramah-tamah tanpa ada sekat-sekat hierarki termasuk konsep pelayan-tuan.  Yesus menunjukkan sebuah kualitas seseorang yang mengasihi sahabatnya, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13). Sebuah konsep filiarki Kasih persahabatan.
Berbeda dari hierarki dan doularki yang bersifat vertikal, filiarki bersifat horisontal. Tidak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah. Tidak ada yang memaksa diri merendah dan menuntut diri ditinggikan. Semua setara di hadapan Kristus, Sang Kasih dan Sang Sahabat, yang menjadi pusatnya.   Menjadi umat yang bersahabat dengan semua orang.

APA YANG HARUS DILAKUKAN GEREJA?
Bagaimana gereja harus bersikap? Sesuai dengan tema kita “jadilah sahabat” marilah kita paparkan bagaimana kita menjadi sahabat bagi sesama kita.  Apa yang membuat kita dapat menjadi sahabat bagi sesama kita?  Salah satu yang harus dilakukan adalah dengan mengembangkan sikap ramah-tamah.  Sebuah sikap dalam diri yang tidak mementingkan diri sendiri namun dapat bersahabat dengan semua orang. Seperti yang Paulus tuliskan “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani [budaya dan etnis], tidak ada hamba atau orang merdeka [ekonomi dan sosial], tidak ada laki-laki atau perempuan [gender], karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Gal. 3:28).
Salah satu inspirasi dalam mengembangkan sikap bersahabat adalah mengembangkan tiga sikap ini yaitu Share, Care, and Joy (Berbagi, berempati, dan bersukacita).
1. Share (berbagi).  “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13). Yesus berbagi terhadap sesamaNya bahkan nyawaNya untuk menyelamatkan umat manusia.  Marilah ingatlah prinsip komunitas (berbagi sesama).  Konsep berbagi ini berarti melepaskan ego dalam diri sendiri.
2. Care (berempati).  Menjadi sahabat berarti haruslah berempati kepada sesamanya.  Di dalam Matius 14:14 Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka.  Yesus berbelas kasihan atau berempati terhadap sesamanya.  Di dalam Matius 14:16 “Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Tidak perlu mereka pergi kamu harus memberi mereka makan.”  Menjadi sahabat berarti haruslah berempati terhadap sesama manusia dengan melakukan sebuah tindakan.
3. Joy (Bersukacita).  Menjadi sahabat haruslah dapat bersukacita dan membuat suasana sukacita di dalam kehidupan bergereja.  Sebuah suasana sukacita adalah hasil dari tindakan berbagi dan berempati terhadap sesama.

Gereja sebagai sahabat?
kutipan dari buku Karen Main berjudul Open Heart, Open Home.
“We think in terms of entertaining as a woman’s chance to demonstrate her skill and the quality of her home, when actually entertaining has little to do with real hospitality. Entertaining says, “I want to impress you with my beautiful home, my clever decorating, my gourmet cooking.” Hospitality, however, seeks to minister. It says, “This home is not mine. It is truly a gift from my Master. I am His servant, and I use it as He desires.” Hospitality does not try to impress, but to serve.
Entertaining always puts things before people. “As soon as I get the house finished, the living room decorated, my place settings complete, my housework done–then I will start having people in.” Hospitality, however, puts people before things. “We have no furniture; we’ll eat on the floor.” “The decorating may never get done. Please come just the same.”
Entertaining subtly declares, “This is mine–these rooms, these adornments. These are an expression of my personality. It is an extension of who and what I am. Look, please and admire.” Hospitality whispers, “What is mine is yours.”

Daftar bacaan
Makalah Pdt. Joas Adiprasetya mengenai teologi persahabatn
Bahan visi dan misi GKI Kebonjati

Kamis, 13 Maret 2014

Makna Sosial Perjamuan Kudus

MAKNA SOSIAL PERJAMUAN KUDUS
I KORINTUS 11:17-34

"Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!"
"Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!"

PENDAHULUAN
Apa makna Perjamuan Kudus? Perjamuan kudus adalah sebuah peristiwa di mana kita mengingat kembali peristiwa pengurbanan Yesus yang mencurahkan tubuh dan darahNya untuk penebusan dosa manusia.  Namun pada masa kini, perjamuan kudus seringkali hanya dijadikan sebuah ritual semata.  Ada yang menjadikannya hanya sebagai rutinitas dalam tahun liturgi, beberapa gereja bahkan menjadikannya sebagai ritual untuk mendatangkan mukjizat kesembuhan.  Pemahaman ini sudah bergeser dari makna sesungguhnya sebuah perjamuan kudus diadakan. Untuk itu kita perlu memahami makna perjamuan dalam budaya Israel dan bangsa sekitarnya pada saat itu

PERJAMUAN SAMA DENGAN MAKAN
Salah satu isu teologis yang seringkali dimunculkan di dalam surat- surat Paulus adalah mengenai makanan.[1]  Makanan bukan hanya masalah pangan saja, namun juga mencakup permasalahan agama, budaya, dan status sosial seseorang.[2]  Paulus membahas permasalahan makanan di dalam surat-suratnya karena seringkali permasalahan ini menjadi pertikaian ataupun perselisihan antar-anggota jemaat.  Ini dapat kita lihat di jemaat Korintus antara kaum kaya dengan kaum miskin.  Di sinilah Paulus hendak memberikan makna baru dalam masalah perjamuan makan ini.

Tradisi Makanan dalam Bangsa Israel
Di dalam Yudaisme, ada dua sumber utama yang menjadi acuan peraturan tentang makanan
  1. Hukum Deuteronomi (Imamat 11; Ul 14:3-21)
  2. Tradisi Lisan

Hukum makanan dalam Yudaisme mengatur apa yang boleh dimakan dan dengan siapa kita boleh memakannya.  Orang Farisi adalah salah satu contoh kaum yang begitu ketat dalam melakukan peraturan ini.  Oleh karena itu, sangat wajar mereka mengritik Yesus yang makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa.  Selain itu, orang Yahudi yang saleh menghindari hubungan atau kontak sosial dengan orang-orang non-Yahudi dengan beranggapan bahwa orang-orang non-yahudi itu tidak bersih.  Kita dapat ambil contoh cerita dari Daniel, Tobit, dan Yudit. 
Orang Yahudi menyambut orang-orang non-Yahudi yang tertarik untuk mengikuti agama mereka, namun mereka tetap menghindari untuk makan dengan orang-orang non-Yahudi.  Sikap-sikap negatif tentang perjamuan makan dalam bangsa Yahudi bukan masalah rasa nasionalisme yang berlebihan melainkan ungkapan religius dan keyakinan sosial akan kesadaran mereka sebgai bangsa pilihan Allah.[3]
               
Tradisi Makanan dalam Bangsa Yunani-Romawi
Ada dua jenis acara makan keagamaan yang dikenal
  1.  Acara makan khusus yang diselenggarakan di rumah, pada acara makan ini ritus keagamaan diikutsertakan.  Secangkir anggur khusus dipersembahkan kepada dewa Zeus.
  2.  Acara makan umum.  Motivasi utama dalam ritus keagamaan ini adalah gagasan pesta.  Acara makan ini tidak diwarnai dalam keheningan tapi kegembiraan.

Kultus makanan dalam agama Yunani bermakna sosial.  Makanan bukan bermakna sakramental dan komunal dengan dewa-dewa.  Makanan dianggap sebagai kesempatan bagi para umat untuk menikmati persahabatan, makanan, dan hiburan.  Titik berat dari acara makan umum ini adalah persahabatan dan kegembiraan.  Oleh karena itu tidak heran jemaat Korintus pun sering mengadakan acara makan umum untuk menjalin persahabatan di tengah masyarakat

Perjamuan Makan di Korintus
Di dalam I Korintus 11:26-30  “Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang. Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya. Sebab itu banyak di antara kamu yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal.”  Ayat ini menggambarkan sebuah perjamuan kudus yang tampaknya mengerikan.  Ketidaklayakan kita dapat mengakibatkan sebuah hukuman pada kita.[4] Jika memang semua manusia yang berdosa tidak boleh mengikuti Perjamuan Kudus, maka tidak ada satu manusiapun yang dapat mengikutinya.

Perjamuan Kudus adalah sebuah ritual anugerah yang luar biasa, saat Allah berkenan untuk mengundang kita hadiri dalam meja perjamuannya untuk menerima keselamatan.  Ayat 26-30 bukanlah berhubungan dengan aspek vertikal antara Allah dengan manusia, melainkan lebih ditekankan ke arah horizontal.  Di sini terjadi pertikaian antara si “kaya” dan si “miskin” di mana pihak si kaya datang terlebih dahulu dan menghabiskan makanan dalam sebuah meja perjamuan.[5]  Inilah yang dipertanyakan oleh Paulus kepada mereka “apakah kamu tidak mempunyai rumah untuk makan dan minum?”  ini memberikan kita pengertian bahwa si kaya datang membawa makanannya sendiri dan memakannya sendiri tanpa berbagi kepada si miskin.

Mengapa jemaat Korintus melakukan hal tersebut? Ini dikarenakan mereka masih terpengaruh dengan kebudayaan lama mereka.  Rumah di Romawi mempunyai dua ruangan yaitu triclinium (ruangan makan) dan atrium (beranda).  Mereka yang mempunyai status sosial tinggi, kalangan atas menempati ruangan triclinium yang telah dihidangkan berbagai makanan sedangkan kalangan bawah menempati atrium yang kurang menyenangkan dan hanya dapat memperhatikan kalangan atas menyantap makanan.

Inilah yang dikritik oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus.  Bagi Paulus, Perjamuan Kudus harus memiliki ungkapan persamaan dan kesatuan yang khusus dalam tubuh Kristus.  Paulus di sini hendak meningkatkan rasa solidaritas anggota jemaat dengan menasihati mereka agar memulai dan mengakhiri bersama.  Mereka harus menunggu satu sama lain (1 Kor 11:33). Ini berarti kalangan atas harus menyambut tamu yang miskin dan memberlakukan mereka dengan penuh keramahan, kemurahan, dan kebaikan sehingga tidak ada satu pihak pun yang merasa tersinggung atau terluka perasaannya. 

Di dalam meja Perjamuan Tuhan, semua manusia diundang untuk mendapatkan anugerah keselamatan.  Oleh karena itu, makna perjamuan kudus mempunyai aspek diakonat (pelayanan terhadap sesama)[6] dan mengingatkan kita bahwa masih ada orang yang menderita yang berada di bawah tekanan kemiskinan, mengalami ketidakadilan, dan tersingkirkan. Perjamuan Kudus bukan hanya sekedar mengingat pengurbanan Kristus, namun memiliki aspek sosialnya yaitu mau berbagi kepada sesamanya tanpa memandang status dan golongan.


                [1] Forum Biblika, Jakarta: LAI 2000
                [2] Ibid.
                [3] Ibid, 38.
                [4] Joas Adiprasetya, Raja yang Menderita: Kumpulan Khotbah Reflektif tentang Anugerah Keselamatan(Jakarta: BPK Gunung Mulia,2012), hal 68.
                [5]Perjamuan makan pada saat itu bukan hanya secuil roti dan anggur saja melainkan sebuah bentuk perjamuan kasih. 
                [6] Henri Veldhuis, Kutahu yang Kupercaya (Jakarta: BPK Gunung Mulia,2010), hal 254)

Rabu, 11 Desember 2013

Masa Adven

APA ITU ADVEN?

Umat yang terkasih dalam Yesus Kristus mungkin kata-kata ini sering kita dengar atau mungkin juga kita sering mengatakannya saat memasuki bulan Desember misalkan “Wah natal sebentar lagi” atau “tidak berasa ya sudah mau natal lagi.”  Natal seringkali menjadi fokus utama orang Kristen saat memasuki bulan Desember, ini tidak sepenuhnya salah karena kita mengingat kelahiran sang Juruselamat ke dalam dunia ini.  Namun  apakah masa raya natal hanya natal saja? sehingga banyak orang merayakan natal sebelum tanggal 25 Desember dengan dalih “natal bisa dirayakan kapan saja” lalu pertanyaan saya, mengapa tidak dirayakan di bulan november?  Perayaan Natal sebelum tanggal 25 Desember mungkin dikarenakan kita lupa bahwa ternyata masih ada masa adven sebelum natal.  Apa itu adven? Apakah maknanya bagi Gereja Kristen Indonesia yang mengikuti tahun liturgi?
Tradisi natal kita mengetahui berasal dari tradisi Romawi yang mengadopsi hari kelahiran dewa matahari dengan menjadikan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran sang terang yang abadi yaitu Yesus Kristus.  Gereja di Roma dalam menyongsong natal ini melakukan masa persiapan yang dikenal dengan masa adven (adventus=kedatangan, pendekatan, hal mendekati, menyongsong).  Persiapan ini juga diadopsi dari gereja-gereja timur dalam menyongsong hari raya epifania. Hal persiapan menyambut kehadiran Tuhan dapat dibandingkan di dalam Perjanjian lama seperti Musa yang menyambut perkataan TUHAN di gunung Sinai untuk menerima loh batu (Kel 34:28, Ul 9:9).
Gereja Roma mengadopsi dan melakukan adven tidak persis sama dengan gereja-gereja timur yang melakukannya selama 40 hari sebelum epifania.  Gereja Roma mengakhiri adven pada tanggal 24 Desember.   Jumlah masa Adven pada gereja Roma berjumlah empat hari minggu sebelum tanggal 24 Desember.  Adven bisa dikatakan adalah tiruan dari masa prapaskah yang telah berlaku terlebih dahulu.  Mengapa gereja-gereja terdahulu melakukan adventus? Apa maknanya?
Intisari dari adven berkisar pada penantian kedatangan Kristus kedua kali dan pengharapan tersebut dilakukan dengan gembira sebab kedatangan Kristus telah nyata.  Gereja-gereja reformasi ikut mengadopsi masa raya adven ke dalam liturgi mereka.  Namun ada beberapa gereja yang tidak terlalu menekankan adven sehingga makna adven sudah luntur bahkan kehilangan maknanya.  Oleh karena itu, kita sebagai gereja yang mengikuti tahun liturgi (dengan hal ini masa adven termasuk didalamnya) seharusnya tidak merayakan natal sebelum tanggal 24 dan 25 Desember. Mengapa? Karena kita lupa bahwa sebuah persiapan adalah sebuah hal yang penting untuk menanti kedatangan Tuhan.  Lain cerita kalau kita adalah gereja yang tidak mengikuti atau mengabaikan tahun liturgi.
Adven adalah masa menantikan kedatangan Tuhan kedua kali dan mempersiapkan natal (kisah kelahiran Yesus) atau Epifania (kisah awal pelayanannya). Adven juga adalah masa dimana kita mengenang dan sebuah pengharapan akan Kristus.  Namun apalah artinya sebuah penantian? Apabila kita sebagai gereja dengan terburu-buru ingin secepatnya merayakan natal, dan melupakan masa persiapan.  Padahal di dalam masa persiapan tersebut kita mengingat akan peristiwa inkarnasi (Allah menjadi manusia) dan bertitik tolak dari peristiwa tersebut dibangunlah sebuah kesungguhan dan kesukacitaan menantikan parousia (kedatangan Tuhan Yesus kedua kali).             
Kedua tema tersebut (inkarnasi dan parousia) dijalin di dalam liturgi adven guna memperkaya penghayatan gereja.  Ada empat minggu dalam Adven dan setiap minggu memiliki temanya tersendiri.  Masa adven sendiri dibagi menjadi dua tema besar yaitu adven pertama dan kedua, lalu dilanjutkan adven ketiga dan keempat
  1. Adven pertama dan kedua menekankan segi eskatologis atau tema pada minggu tersebut lebih berkisar tentang penantian kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali dan bagaimana kita sebagai umat harus mempersiapkan diri kita untuk menyongsong hari TUHAN.
  2. Adven ketiga dan keempat menekankan segi kelahiran Tuhan yaitu sebuah peristiwa kita mengenang Allah yang telah menjadi manusia sebagai penggenapan janjiNya

Melalui dua tema besar itu kita sebagai umat memahami bahwa Adven pun mempunyai makna mendasar untuk kita sebagai pengikut Kristus.  Di dalam empat minggu adven pun juga memiliki tema-tema yang berkesinambungan
  1. Adven I.  Adven pertama diisi dengan tema sikap gereja dalam menantikan masa kedatanganNya yang membebaskan umat manusia
  2. Adven II.  Tema utamanya adalah pertobatan menuju langit baru dan bumi baru bagi segala bangsa, seluruh umat manusia, sesuai dengan keadilanNya
  3. Adven III.  Tema utamanya adalah ajakan untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan.  kedatanganNya tidak sejajar dengan kelahiranNya namun dilihat sebagai kedatangan kedua kali
  4. Adven IV.  Fokus utamanya adalah kelahiran Tuhan di Betlehem.

Umat yang terkasih dalam Yesus Kristus, Inilah sebabnya kita diharapkan tidak merayakan natal sebelum tanggal 24 dan 25 Desember dikarenakan Adven memperkaya kita untuk mempersiapkan hati kita dalam menyambut kedatangan Tuhan.  Saya selalu menganalogikan seperti ini “jika kita ulang tahun tanggal 18 Oktober, apakah kita mau dirayakan sebelum tanggal tersebut? Dengan alasan, ulang tahun yang penting kan adalah kasih kita dan ketulusan kita untuk merayakan?”

Marilah kita semua mempersiapkan hati kita dalam menyambut masa adven ini. Tuhan memberkati kita semua
Pdt. David Roestandi Surya Sutanto


Sumber bacaan:
Rasid Rachman. Hari Raya Liturgi. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003.