SOLA FIDE SOLA GRATIA SOLA SCRIPTURA

ecclesia reformata semper reformanda

WELCOME

Selamat datang
All of you are invited!!!

blog ini berisikan tentang renungan saya dalam kehidupan sehari-hari
selain itu ada beberapa karya ilmiah saya pada saat saya studi di sekolah teologi.

Semoga mendapatkan berkat melalui blog ini
Tuhan memberkati
HI FRIENDS, WELCOME TO MY BLOG.. I HOPE YOU LIKE IT..GBU ALWAYS

Kamis, 08 Februari 2018


Lepaskan Kami daripada Yang Jahat

Umat yang terkasih dalam Yesus Kristus, pada minggu ini tema kita adalah lepaskanlah kami dari yang jahat.  Kata-kata ini seringkali kita ucapkan pada saat doa bapa kami diucapkan.  Namun apakah maksud dari perkataan ini? Apakah yang dimaksudkan berarti kesurupan seperti cerita Injil pada minggu ini? Tentu saja bukan itu saja, melainkan perkataan ini menjadi peringatan kepada kita agar menyadari adanya keterikatan-keterikatan yang menggiring kita kepada kuasa kejahatan.  Ada beberapa kesalahan-kesalahan yang sudah menjadi sebuah kebiasaan sehingga kita menganggap itu biasa saja bahkan dianggap benar.

Umat yang terkasih dalam Yesus Kristus, apakah maksud dari kesalahan yang sudah dianggap biasa saja? Saya ambil contoh kecilnya adalah penggunaan kata absen atau absensi.  Kata ini kita serap dari bahasa Belanda absentie yang maknanya ketidakhadiran. Lawan katanya adalah presentie yang bermakna kehadiran. Dalam bahasa Inggris dia disebut dengan absence dan lawan katanya adalah attendance.[1] Namun entah bagaimana jalan ceritanya, di negeri kita absensi malah dimaknai dengan kehadiran.  Kelirumologi ini menjadi sebuah kebiasaan sehingga kita tidak merasakan itu sebuah kesalahan bahkan dianggap kebenaran.  Contoh yang kedua adalah penggunaan kata acuh, apakah makna dari kata ini? Seringkali orang berpikir bahwa acuh itu adalah cuek.  Kelirumologi ini juga menjadi sebuah kebiasaan yang terjadi di tengah kita, padahal menurut kamus besar bahasa Indonesia kata acuh ini berarti peduli.  Namun entah mengapa kata ini mengalami perubahan makna menjadi tidak peduli.  Kedua contoh di atas adalah sebuah kesalahan yang menjadi sebuah kebiasaan sehingga kita seringkali tidak menyadari kesalahan yang ada atau bahkan tidak tahu bahwa itu adalah sebuah kesalahan.

Umat yang terkasih dalam Yesus Kristus, keterikatan akan dosa yang menjadi sebuah kebiasaan dapat membuat kita sebagai umat berman tidak menyadari kesalahan kita.  Kita begitu terikat erat dengan dosa, sehingga saat ada orang lain menegur kita ataupun memperingatkan kita, kita tidak menyadari kesalahan tersebut dan menganggap dosa tersebut sebagai hal yang lumrah atau menjadi sebuah kebenaran.  Oleh karena itu, tema minggu ini seharusnya membuat kita dapat menyadari dosa yang membuat kita terikat dan menjadi batu sandungan bagi orang-orang di sekeliling kita.  Melepaskan diri dari yang jahat berarti kita tidak mau lagi terikat akan kuasa kegelapan yang membuat diri kita tidak lagi hidup bersama dengan Tuhan.

Paulus di dalam Korintus mengingatkan tentang bagaimana keadaan jemaat di Korintus yang ingin membebaskan diri dari keterikatan mengenai makan makanan persembahan berhala.  Paulus mengajarkan bagaimana untuk melepaskan diri dari keterikatan tersebut harus dilakukan dalam sebuah komunitas bukan hanya diri sendiri saja.  Mengapa? Karena Paulus melihat ada orang-orang yang dapat dengan mudah membebaskan diri dari keterikatan tersebut, namun ada juga golongan yang dikatakan “lemah hati nurani” sehingga mereka kesulitan untuk melepaskan diri dari keterikatan tersebut.  Paulus di dalam Korintus menginginkan umat agar dapat saling menghargai perbedaan tersebut dan menginginkan agar keterikatan tersebut dihilangkan bersama-sama dalam komunitas.  Ini berart, keterikatan terhadap dosa diharapkan jemaat di Korintus saling membantu untuk membebaskan diri dari keterikatan antar satu dengan yang lain.

Umat yang terkasih dalam Yesus Kristus, semua orang dapat terjerat dengan roh yang cemar tanpa terkecuali.  Keterikatan terhadap kemarahan, dendam, harta benda, ketamakan, kenikmatan diri, nafsu seksual, narkoba, kesombongan rohani, dan narkoba, kesemua hal ini dapat membuat kita jauh dari Tuhan.  Orang-orang yang terikat akan hal tersebut akan perlahan-lahan menolak kehadiran Tuhan dalam kehidupannya, karena keterikatan itu membuat kita menjadi egois dan tidak peduli terhadap yang lainnya.

Marilah umat yang terkasih dalam Yesus Kristus pada minggu ini:
1.      Lepaskanlah kami dari yang jahat sebagai langkah kita untuk membebaskan diri dari keterikatan dosa yang membuat kita hidup jauh dari Tuhan. 
2.      Lepaskanlah kami dari yang jahat sebagai langkah untuk membebaskan diri kita dari dosa yang mungkin tidak kita sadari
3.      Lepaskanlah kami dari yang jahat sebagai cara kita saling mengingatkan satu dengan yang lain untuk membantu orang lain terbebas dari dosa yang mengikat
4.      Lepaskanlah kami dari yang jahat sebagai cara kita untuk menjadikan otoritas Tuhan sebagai pedoman dalam kehidupan kita

Soli deo Gloria
Pdt. David Roestandi Surya Sutanto



[1] https://www.kompasiana.com/gustaafkusno/absensi-maknanya-kehadiran-atau-ketidakhadiran-sih_552ff6ce6ea8344d768b4588

Sabtu, 16 Desember 2017

Kitab Tawarikh


Latar Belakang Kitab Tawarikh
Penulis dari kitab Tawarikh ini adalah Ezra, dimana konteks dan zaman kitab Tawarikh adalah pada masa sesudah pembuangan atau kembalinya bangsa Israel dari Babilonia.  Bangsa Israel dapat kembali ke tanah perjanjian dikarenakan pada masa itu Raja Kores dari Persia menaklukan bangsa Babel
2 Tawarikh 36:23  "Beginilah perintah Koresh, raja Persia: Segala kerajaan di bumi telah dikaruniakan kepadaku oleh TUHAN, Allah semesta langit. Ia menugaskan aku untuk mendirikan rumah bagi-Nya di Yerusalem, yang terletak di Yehuda. Siapa di antara kamu termasuk umat-Nya, TUHAN, Allahnya, menyertainya, dan biarlah ia berangkat pulang!"
Kerajaan Persia mempunyai ketetapan khusus kepada negara jajahannya yaitu memberikan kebebasan beragama bagi penduduknya.  Hal inilah yang dimanfaatkan Ezra dan Nehemia dalam memulihkan kultus beragama di Israel. 

Isi Kitab Tawarikh
  •  Permulaan 1 Tawarikh (pasal 1–10) kebanyakan berisi daftar silsilah, termasuk keluarga Saul dan penolakan Allah terhadap Saul yang menjadi dasar munculnya raja Daud.
  • 1 Tawarikh pasal 11–29: sejarah pemerintahan Daud.
  • Permulaan 2 Tawarikh (pasal 1–9): sejarah pemerintahan raja Salomo, putra Daud.
  • 2 Tawarikh pasal 10–36: sejarah raja-raja Yehuda sampai kepada pembuangan ke Babel, ditutup dengan dekrit raja Koresh Agung mengizinkan orang-orang kembali ke tanah air mereka masing-masing.

1 Tawarikh
Kitab 1 Tawarikh ini berfokus pada pemerintahan Daud sebagai Raja Israel, banyak peristiwa dalam kehidupan Daud di kitab ini juga tercantum di 2 Samuel.  Pada 1 Tawarikh ini, kita diberikan wawasan tentang karakter Daud yang tidak terdapat dalam kitab 1 Samuel.  Kita belajar bahwa Daud memberikan perintah kepada para imam dan orang Lewi dalam kelompok yang berbeda dengan tugas-tugas khusus dalam mengatur kemah suci (1 Tawarikh 23:2-26:32).  Ia pun telah mengumpulkan bahan bangunan untuk membangun bait Allah yang akan diwujudkan oleh Salomo (1 Tawarikh 28:9-29:19).  Ada perbedaan sudut pandang dari 1 Tawarikh dengan 2 Samuel, yaitu tentang permasalahan citra Daud.  Di dalam Kitab 1 Tawarikh ini Daud sangat positif citranya, kekuatan dan kecakapan Daud sangat menonjol serta kepercayaan dan kesetiaan Daud kepada Allah sebagai teladan bagi para pemimpin Israel. Kisah mengenai perzinahannya dengan Batsyeba, perencanaan pembunuhan terhadap Uzia, peringatan keras Nabi Natan kepada Daud (2 Samuel 11:12) tidak dimunculkan sama sekali.

Susunan kitab 1 Tawarikh
1.      Dari Adam sampai pembuangan (1:1-9:34)
Dari Adam sampai Yakub (1:1-54)
Yehuda, Daud, dan keturunannya (2:1-4:23)
Suku-suku Israel yang lainnya (4:24-8:40)
Daftar keturunan yang kembali ke Yerusalem (9:1-34)

2.      Daud, pendiri Bait Allah (9:35-29:30)
Pengantar: kematian Saul (9:35-10:14)
Daud memerintah di Yerusalem (11:1-17:27)
Pertempuran-pertempuran Daud (18:1-20:8)
Daud berencana mendirikan Bait Allah (21:1-29:30)

2 Tawarikh
Kitab 2 Tawarikh adalah sejarah pemerintahan Salomo hingga sampai terjadinya era pembuangan ke Babel.  Kitab 2 Tawarikh ini mencakup periode 1 dan 2 Raja-raja.  Perbedaan mendasar dari kitab tersebut adalah

1.     Raja-raja Israel hanya sedikit mendapat perhatian dalam kitab 2 Tawarikh
2.   Peran Elia dan Elisa (bahkan tidak disebutkan sama sekali) tidak terlihat sama sekali di kitab ini.  Ini dikarenakan banyak nubuat Elia dan Elisa ditujukan kepada raja-raja israel (kerajaan utara)
3.     Kitab 2 Tawarikh berfokus pada kerajaan Yehuda.

Penulis Kitab 2 Tawarikh hendak berfokus bahwa kegagalan umat Israel sehingga dibuang ke Kerajaan Babel adalah karena ketidaktaatannya kepada Allah.  Adapun isi kitab 2 Tawarikh:

1.      Salomo, Pembangunan Bait Allah (1:1-9:31)
Hikmat dan kekayaan Salomo (1:1-17)
Salomo membangun Bait Allah (2:1-5:1)
Salomo menahbiskan Bait Allah (5:2-7:22)
Masa pemerintahan Salomo yang panjang (8:1-9:31)
2.      Kerajaan terbagi (10:1-28:27)
Pendahuluan: suku-suku utara memberontak (10:1-11:4)
Raja-raja Yehuda (11:5-28:27)
3.      Akhir Kerajaan yang terbagi (29:1-36:23)
Pembaruan Hizkia (29:1-32:33)
Manasye dan Amon (33:1-25)
Pembaruan Yosia (34:1-25:27)
Kejatuhan, pembuangan, dan kembalinya Yehuda (36:1-23)

Maksud penulisan Kitab Tawarikh
Tujuan utama penulis kitab Tawarikh ini bukanlah hendak menuliskan kitab sejarah, melainkan menulis suatu teologi sejarah.  Waktu penulisan kitab Tawarikh adalah sesudah masa pembuangan, dimana bangsa Israel yang dulunya adalah bangsa yang besar dan berkuasa tetapi luluh lantak,  oleh karena itu Ezra menulis kitab ini dengan maksud memberi sebuah harapan kepada Bangsa Israel bahwa Allah tetap menyertai mereka.  Janji-Nya bahwa keturunan Daud akan selalu memerintah atas umatNya ( 2 Samuel 7:1-17) belum dilupakannya.
Penulis Tawarikh lebih menekankan perhatian kepada Bait Allah dan peribadatan terkhususnya tugas-tugas orang Lewi.  Setiap peristiwa diuraikan menurut teori pahala-hukuman.  Siapa yang bersalah atau berdosa akan mendapatkan hukuman sedangkan yang benar akan mendapatkan pahala.
Penulis Tawarikh memusatkan pada teologi iman bahwa ketika manusia percaya dan memuji Allah maka semuanya akan beres. Pemikiran ini sangatlah sesuai dengan keadaan bangsa Israel pada saat itu yang memang terpukul setelah mengalami masa pembuangan.  Mereka meyakini bahwa pembuangan itu adalah hukuman Allah karena ketidaktaatan mereka.  Oleh karena itu penulis Tawarikh mengajak Bangsa Israel untuk percaya, beribadah, dan memuji dalam segala hal.

Daftar Bacaan
David L Baker dan John J. Bimson "Mari Mengenal Arkeologi Alkitab"
George W. Knight "Adat Istiadat Alkitab dan Keunikannya dalam Gambar"
Philip J King dan Lawrence E. Stager "Kehidupan orang Israel Alkitabiah"
S. Wismoady Wahono "Disini Kutemukan"
Robert B. Coote "Kuasa Politik dan Proses Pembuatan Alkitab"
John Rogerson "Studi Perjanjian Lama bagi Pemula"
Alkitab Edisi Studi dari LAI





Selasa, 21 November 2017

Gereja berbagi dan peduli

Keadaan dunia pada saat ini mengarah kepada sikap saling tidak peduli terhadap yang lain.  Individualisme seakan menjadi sebuah gaya hidup dan ini pun masuk dalam lingkungan gereja.  Gereja-gereja mulai tidak memperhatikan sesamanya ataupun kalau memperhatikan hanya ala kadarnya saja.  Pada saat ini gereja terjebak pada pietisme pribadi tanpa mengingat bahwa seorang pietis tidak seharusnya memikirkan egonya sendiri melainkan harus melakukan sebuah tindakan sebagai dasar spiritualitasnya.

Dunia yang rakus menjadi sebuah slogan bagi kita semua yang melihat bahwa seperti yang dikatakan oleh seorang Max Webber bahwa protestantisme membuat seorang kristen menjadi seorang yang menumbuhkan sikap kerakusan dalam dirinya tanpa disadari.  Sikap protestantisme yang mengagungkan kesuksesan diri sendiri membawa dampak yang buruk, seorang kristen mulai tidak memperhatikan keadaan lingkungannya dan mulai mengejar kesuksesan untuk membuktikan bahwa dirinya adalah pilihan Tuhan.  Hal inilah yang ditentang oleh Marx sehingga dia mengkritik sikap seorang yang beragama di dalam bukunya Das Kapital.  Marx, menginginkan seseorang untuk lebih sosialis dan hidup berkeadilan dalam lingkungannya.

Gereja sebagai tubuh Kristus seharusnya menjadi gereja yang tidak hanya memperhatikan diri sendiri melainkan mulai memperhatikan keadaan sesamanya.  Hal berbagi sebenarnya sudah menjadi bagian dalam kehidupan gereja yaitu di dalam Perjamuan Kudus. Di dalam meja Perjamuan Tuhan, semua manusia diundang untuk mendapatkan anugerah keselamatan.  Oleh karena itu, makna perjamuan kudus mempunyai aspek diakonat (pelayanan terhadap sesama)[1] dan mengingatkan kita bahwa masih ada orang yang menderita yang berada di bawah tekanan kemiskinan, mengalami ketidakadilan, dan tersingkirkan. Perjamuan Kudus bukan hanya sekedar mengingat pengurbanan Kristus, namun memiliki aspek sosialnya yaitu mau berbagi kepada sesamanya tanpa memandang status dan golongan.

CONCUPISCENCIA dan UGAHARI
Kami ingin mengaku bahwa satu milliar orang dalam penderitaan bertahan hidup dengan 1,4 % sumber-sumber daya dunia, sementara 20% populasi dunia memusatkan 82% sumber-sumber daya dunia di tangan mereka (doa pengakuan dosa dalam World Communion Of Reformed Churches). 

Concupiscencia sebuah kata yang seringkali dihubungkan dengan dosa asali.  Concupiscence is understood as an effect of original sin that remains after baptism. The waters of baptism cleanse us of original sin itself, but concupiscence remains as a lingering effect. The Catechism of the Catholic Church teaches that “certain temporal consequences of sin remain in the baptized, such as suffering, illness, death … as well as an inclination to sin that Tradition calls concupiscence” (No. 1264, emphasis in original).  Concupiscencia bisa dikatakan adalah sebuah hasrat atau nafsu yang berlebihan atau tidak dapat dikontrol pada hal-hal duniawi yang berlebih.  Di sini bukan godaanya yang berupa dosa melainkan respon manusia terhadap godaan tersebut. Hal ini juga dikatakan di dalam Konsili Trente (1545-1563):
concupiscence “comes from sin and induces to sin.” Yet, concupiscence is not itself sin. Concupiscence makes us vulnerable to sin, but susceptibility to temptation is not sin. How we act in response to the temptation determines the rightness or wrongness — the sin. With constant attention, or more accurately with the acceptance of God’s constant outpouring of grace, the human person can be unaffected by this tendency to drift off course.

Seseorang berdosa bukan karena godaannya melainkan respon terhadap godaan tersebut.  keberdosaan gereja dapat terjadi pada saat mereka mengabaikan panggilannya terhadap lingkungannya.  Gereja pada saat ini dapat terjebak pada pementingan diri sendiri dibandingkan sebuah usaha untuk berbagi terhadap sesamanya.

Martin Luther King Jr mengatakan bahwa gereja janganlah merasa cukup dengan hanya menjadi seorang Samaria.  Dia mengatakan bahwa menjadi seorang Samaria adalah hal yang baik namun gereja harus melampaui hal itu.  Gereja  haruslah menjadi gereja yang dapat membuat perjalanan dari Yerikho hingga Yerusalem aman tanpa terjadinya perampokkan lagi.  Untuk mewujudkan hal ini diperlukan yang namanya keadilan sosial bagi seluruh manusia.  Gereja harus menjadi gereja yang berbagi dan peduli terhadap sesamanya.  Gereja haruslah berugahari terhadap lingkungannya

Apa itu Ugahari? Di dalam KBBI ugahari/uga·ha·ri/ kl a 1 sedang; pertengahan; 2 sederhana;keugaharian/ke·u·ga·ha·ri·an/ kl n kesederhanaan; kesahajaan: walaupun hartanya melimpah ruah,ia hidup dalam ~ dan sangat dicintai oleh rakyatnya.  Gereja haruslah menjadi gereja yang penuh kesahajaan yang tidak menonjolkan kelebihannya untuk dipertontonkan melainkan gereja haruslah sederhana dengan melakukan sikap peduli dan berbagi terhadap orang-orang di sekelilingnya.  Berikanlah kami makanan kami yang secukupnya adalah sebuah kalimat doa yang menunjukkan sikap kita terhadap concupiscence dan lebih memilih menjadi seorang yang berugahari dalam kehidupan.

Sikap yang berugahari di dalam gereja adalah salah satu langkah awal gereja untuk dapat berbagi.  Mengapa? Di dalam dasar Alkitab dikatakan bahwa sikap hidup jemaat mula-mula yang menjadi awal mengapa banyak orang yang tertarik menjadi orang Kristen.  Bahkan Kristus pun mengidentikkan sikap seorang muridNya adalah saat mereka saling BERBAGI Kasih.  Oleh sebab itu gereja pun harus bersama-sama memikirkan konsep berbagi ini dalam setiap program-program yang direncanakan. Soli Deo Gloria




                [1] Henri Veldhuis, Kutahu yang Kupercaya (Jakarta: BPK Gunung Mulia,2010), hal 254)

Jumat, 03 November 2017

Jamur Enoki yang Uenak Pol

Kehidupan bagi anak kos berat ya, penuh dengan perjuangan sehingga apapun kalau bisa dibuat dengan cepat dan murah.  Ya betul murah, karena biasanya anak kos itu kaya di awal bulan dan seret di akhir bulan (curcol nih hehehe). Nah biasanya anak kos itu identik dengan indomie, ya betul indomie seringkali menjadi penyelamat perut dari anak-anak kos. Indomie memang paling enak bahkan seluruh dunia mengakui indomie adalah ramen terlezat dan dirindukan.  Namun, bayangkan kalau semua mahasiswa makan indomie tentu tidak sehat.  Nah, Tuhan tuh baik, banyak sayur-sayuran yang Dia ciptakan itu mudah untuk dimasak. Salah satunya itu jamur enoki, tahu ga jamur enoki? Nih saya tunjukkan
Jamur Enoki
Mahasiswa butuh cepat kan kalau mau buat masakan, murah dan bergizi. Saya berikan resepnya dan ini sangat mudah bahkan menurut salah satu teman saya yang juga suka memasak resep ini dipakai oleh cheff terkenal untuk jadi menunya di restorannya.  
Ini salah satu resepnya

  1. Beli jamur enoki 100 gram lebih kurang Rp 6500 per/pak
  2. Sediakan mentega secukupnya
  3. Kecap asin

Cara memasaknya

  1.  Potong jamur bagian bawahnya lalu disuir-suir jamurnya
  2. Panaskan mentega di penggorengan
  3.  Masukkan jamur
  4.  Kasih kecap asin secukupnya
  5. Aduk sampai merata

SELESAI. Kok cepet banget? Benar kan cepat masaknya tidak sampai satu jam kalau masak ini.  Murah, bergizi, instant jadinya bro dan sis bisa masak yang cepat secepat memasak indomie heheheh

Selamat memasak ya, hidup mahasiswa :D:D:D