ecclesia reformata semper reformanda

WELCOME

Selamat datang
All of you are invited!!!

blog ini berisikan tentang renungan saya dalam kehidupan sehari-hari
selain itu ada beberapa karya ilmiah saya pada saat saya studi di sekolah teologi.

Semoga mendapatkan berkat melalui blog ini
Tuhan memberkati
HI FRIENDS, WELCOME TO MY BLOG.. I HOPE YOU LIKE IT..GBU ALWAYS

Rabu, 15 Februari 2012

20 BERKAT


1. Mengapa saya berkata "Saya tidak bisa" jika Alkitab mengatakan bahwa saya bisa melakukan segala sesuatu di dalam Dia yang memberi kekuatan kepada saya (Fil 4:13)?

2. Mengapa saya merasa kurang jika saya tahu bahwa Allah akan memenuhi segala keperluan saya menurut kekayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus (Fil 4:19)?

3. Mengapa saya harus merasa takut jika Alkitab berkata bahwa Tuhan tidak memberi saya roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, ketertiban (2 Tim 1:7)?

4. Mengapa saya harus merasa kurang iman jika saya tahu bahwa Allah telah mengaruniakan kepada saya ukuran iman tertentu (Rom12:3)?

5. Mengapa saya menjadi lemah jika Alkitab berkata bahwa Allah adalah terang dan keselamatan saya dan bahwa saya akan tetap kuat dan akan bertindak (Maz 27:1, Dan 11:32)?

6. Mengapa saya harus membiarkan iblis menang atas hidup saya jika Roh yang ada di dalam saya lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia (1 Yoh 4:4)?

7. Mengapa saya harus pasrah kalah jika Alkitab berkata bahwa Allah dalam Kristus selalu membawa kita di jalan kemenanganNya (2 Kor 2:14)?

8. Mengapa saya harus kekurangan hikmat jika Kristus sendiri telah menjadi hikmat bagi saya dan Allah akan memberi hikmat jika saya minta padaNya (1 Kor 1:30; Yak 1:5)?

9. Mengapa saya harus depresi jika saya dapat mengingat bahwa saya dapat berharap pada Allah yang kasih setiaNya tidak habis-habisNya setiap pagi (Rat 3:21-23)?

10. Mengapa saya harus kuatir, resah, dan rewel jika saya dapat menyerahkan segala kekuatiran saya pada Tuhan yang memelihara saya (1 Pet 5:7)?

11. Mengapa saya harus selalu hidup dalam beban jika saya tahu bahwa di mana ada Roh Allah, ada kemerdekaan, dan Kristus telah memerdekakan kita (2 Kor 3:17; Gal 5:1) ?

12. Mengapa saya harus merasa terhukum jika Alkitab berkata bahwa saya tidak ada lagi di bawah penghukuman sebab saya di dalam Kristus (Rom 8:1) ?

13. Mengapa saya harus merasa sendirian jika Yesus berkata Ia akan selalu menyertai saya, tidak akan membiarkan dan tak akan meninggalkan saya (Mat 28:20; Ibr 13:5)?

14. Mengapa saya harus merasa terkutuk atau merasa saya menjadi korban nasib sial jika Alkitab berkata bahwa Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum taurat sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu (Gal 3:13-14) ?

15. Mengapa saya harus merasa tidak puas dalam hidup ini jika saya,seperti Paulus, bisa belajar untuk menjadi puas dalam segala keadaan (Fil 4:11) ?

16. Mengapa saya harus merasa tidak layak jika Kristus telah dibuat menjadi dosa karena kita, supaya di dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah (2 Kor 5:21) ?

17. Mengapa saya merasa takut disiksa orang jika saya tahu bahwa jika Allah di pihak saya tidak ada yang akan melawan saya (Rom8:31) ?

18. Mengapa saya harus bingung jika Allah adalah Raja Damai dan Ia memberi saya pengetahuan melalui RohNya yang diam di dalam kita (1 Kor 14:33;2:12)

19. Mengapa saya harus terus-menerus gagal dan jatuh jika Alkitab berkata bahwa sebagai anak Allah saya lebih daripada orang-orang yang menang dalam segala hal, oleh Dia yang telah mengasihi saya (Rom8:37)?

20. Mengapa saya harus membiarkan tekanan hidup mengganggu saya jika saya dapat punya keberanian karena tahu Tuhan Yesus telah menang atas dunia dan penderitaan (Yoh 16:33)? " Diamlah dan ketahuilah,bahwa Akulah Allah ! " (Mazmur 46:11a)

Selasa, 14 Februari 2012

Makna Rabu Abu


MAKNA RABU ABU

“pak, kok sekarang GKI mengadakan Rabu Abu, kok jadi seperti Katholik ya?”
              Pertanyaan tersebut ditanyakan oleh salah satu jemaat GKI Kebonjati kepada saya.  Mungkin ini juga menjadi pertanyaan bagi kita, apa itu Rabu Abu? Mengapa di beberapa gereja GKI diadakan perayaan Rabu Abu? Apa makna teologis dalam Rabu Abu?
                Di dalam Tata Gereja GKI Pasal.13, di dalamnya tercakup Kebaktian Rabu Abu yang dikelompokkan dalam kebaktian hari raya gerejawi.  Selaku jemaat, kita mengenal masa Pra-Paska selama 6 minggu. Dahulu masa Pra-Paska dilaksanakan selama 7 minggu. Perubahan ini sering membingungkan jemaat. Mengapa dari yang semula 7 minggu kemudian berubah menjadi 6 minggu? Penyebab perubahan adalah karena beberapa gereja Protestan di Indonesia belum mengenal Rabu Abu. Masa Pra-Paska yang seharusnya dimulai pada hari Rabu digeser ke hari Minggu yang terdekat, sehingga Pra-Paska menjadi 7 minggu.
                Masa Pra Paska di GKI kini mengikuti jejak gereja-gereja lainnya, yaitu dengan memeringatinya selama enam minggu, atau tepatnya empat puluh hari. Perhitungan ini tidak termasuk hari Minggu, sebab umat Tuhan tidak pernah berpuasa pada hari Minggu. Tiap hari Minggu adalah peringatan hari kebangkitan Tuhan. Dengan demikian, masa Pra Paska berjumlah 6 minggu (6 x 6 = 36 hari) ditambah empat hari. Jadi hari pertama masa Pra Paskah jatuh pada hari Rabu. Inilah yang diperingati sebagai Rabu Abu.  Menurut kalender gereja secara ekumenis, Rabu Abu sebagai pembuka masa Pra-Paska, untuk tahun ini jatuh pada tanggal 22 Februari 2012.
                Bapa Pius Parsch, dalam bukunya “The Church’s Year of Grace” menyatakan bahwa “Rabu Abu Pertama” terjadi di Taman Eden setelah Adam dan Hawa berbuat dosa. Tuhan mengingatkan mereka bahwa mereka berasal dari debu tanah dan akan kembali menjadi debu. Biasanya pemberian tanda tersebut disertai dengan ucapan, “Ingatlah, kita ini abu dan akan kembali menjadi abu” (Kej. 3:19) atau “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil”.
                Gereja-gereja Tuhan di dunia dalam berbagai denominasi umumnya kini melaksanakan kebaktian Rabu Abu, sebab selain Rabu Abu sebagai pembuka masa Pra-Paska, juga karena makna teologisnya. Makna teologis yang terdalam dari rabu Abu adalah umat percaya mengungkapkan sikap penyesalan dan pertobatannya (2 Samuel 13:19, Yunus 3:5-6, Ratapan 2:10, Daniel 9:3-6). Sikap Penyesalan dan pertobatan umat didasarkan kepada kesadaran akan kefanaannya sebagai makhluk. Itu sebabnya pada hari Rabu Abu, gereja menggunakan abu untuk menyatakan hakikat manusia yang fana dan lemah (Mazmur 103:14, bdgk.Kejadian 2:7). Sehingga jelaslah bahwa Rabu Abu dan Pra-Paska merupakan masa di mana gereja menyadari keberdosaan dan kefanaan diri serta kebergantungannya pada rahmat Tuhan.
                Penggunaan abu dalam liturgi berasal dari jaman Perjanjian Lama. Abu melambangkan perkabungan, ketidakabadian, dan sesal/tobat. Mordekhai mengenakan kain kabung dan abu ketika ia mendengar perintah Raja berniat membunuh semua orang Yahudi (Est 4: 1). Ayub menyatakan sesalnya dengan duduk dalam debu dan abu (Ayb 42: 6). Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu (Dan 9: 3). Sesudah Yunus menyerukan agar orang berbalik kepada Tuhan dan bertobat, kota Niniwe memaklumkan puasa dan mengenakan kain kabung, dan raja menyelubungi diri dengan kain kabung lalu duduk di atas abu (Yun 3: 5-6).
                 Gereja Perdana mewariskan penggunaan abu untuk alasan simbolik yang sama. Dalam bukunya "De Poenitentia", Tertulianus (sekitar 160-220) menulis bahwa pendosa yang bertobat haruslah "hidup tanpa bersenang-senang dengan mengenakan kain kabung dan abu." Eusebius (260-340), sejarawan Gereja perdana menceritakan dalam bukunya "Sejarah Gereja" bagaimana seorang murtad bernama Natalis datang kepada Paus Zephyrinus dengan mengenakan kain kabung dan abu untuk memohon pengampunan
                Dalam perayaan Rabu Abu, digunakan abu yang berasal dari hasil menyangrai daun-daun palma kering yang ditumbuk halus yang telah diberkati pada tahun sebelumnya. Menurut  sejarah tradisinya, dalam ibadah Rabu Abu dilaksanakan upacara khusus pembubuhan abu di kepala sebagai simbol ungkapan pertobatan dan tanda penyesalan akan dosa-dosa. Pembubuhan abu di dahi dilakukan oleh Pendeta atau umat sendiri sebelum prosesi keluar. Abu dibubuhkan di dahi dengan bentuk salib.. Dari hari Rabu Abu, minggu-minggu Pra-Paska sampai hari raya Paska ada waktu 40 hari, dipakai oleh umat untuk berpuasa secara khusus. Angka 40 hari ini diambil dari 40 hari Tuhan Yesus berpuasa. Sebagai milik Kristus (serupa dengan Kristus), maka jemaat diajak untuk memahami makna tersebut.
              Tradisi puasa umat Protestan juga bukan sekedar ibadah yang “ikut-ikutan” dengan saudara-saudara kita umat Katolik atau agama lainnya. Kita melaksanakan puasa karena sesungguhnya puasa dipakai oleh Tuhan untuk melatih rohani kita agar spiritualitas kita semakin terbuka untuk menghayati pertobatan sebagai sikap hidup. Pertobatan yang dimaksud adalah agar kehidupan kita makin berkenan di hati Tuhan dan setia memelihara kekudusan hidup. Itulah sebabnya makna pertobatan bukan terletak pada upacara lahiriah dan kebiasaan keagamaan, melainkan pada pertobatan hati. Yoel 2:13 berkata: “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu”. Jadi yang dikehendaki oleh Tuhan dalam ibadah puasa adalah “hati yang mau dikoyakkan” sehingga kita dengan sungguh-sungguh menyesali semua kesalahan dan dosa kita.
                Sering kali makna puasa hanya dihayati sebagai bentuk kesalehan pribadi. Padahal Tuhan menghendaki agar kita selaku pribadi dan selaku persekutuan umat konsisten dalam memberlakukan kekudusan hidup. Itulah sebabnya sejak dahulu, selama masa Pra Paskah, gereja-gereja Tuhan senantiasa memotivasi dan memberlakukan puasa kepada seluruh anggota jemaat agar mereka, selaku persekutuan yang telah ditebus oleh Kristus, sungguh-sungguh mau setia untuk memelihara hidup kudus dengan sikap bertobat. Kita sungguh-sungguh berdamai dengan Allah yang akan memampukan kita untuk berdamai dengan diri sendiri dan berdamai dengan sesama
                  Bentuk puasa yang diusulkan adalah sikap menyangkal diri terhadap hal-hal yang begitu digemari oleh umat. Sehingga umat mulai Rabu Abu sampai menjelang Paska dapat menghindari hal-hal yang selama ini mengikat atau menjadi ketergantungan, misalnya terhadap kebiasaan merokok, minum anggur, makan makanan lezat, sikap yang konsumtif. Juga umat belajar menyangkal diri secara intensif terhadap kebiasaan buruk seperti marah, iri hati, sombong, tamak, malas, nafsu syahwat, dan pelahap. Semua tindakan puasa tersebut diharapkan menghasilkan sikap pembaruan hidup. Karena ciri utama dari pengikut Tuhan Yesus adalah sikap pertobatan yang dinyatakan dalam pembaruan hidup.



Sumber bacaan

Pdt. David Roestandi Surya Sutanto

Selasa, 13 Desember 2011


“All my life I try to be honest. Today is no different.”

Beberapa tahun yang lalu ada seorang bapak dari negara Bangladesh yang mayoritas beragama Islam, bernama Usman Chudori. Dia iseng-iseng coba membuat application ke USA. Tiap tahun Amerika menerima sekitar 50.000 warga dari seluruh dunia untuk menjadi PR di sana. Ternyata bapak ini keterima. Bersama dengan keluarganya dia pindah menjadi imigran di sana. Dia tinggal di kota New York bekerja sebagai supir taksi. Penghasilannya hanya pas-pasan untuk menghidupi keluarganya dan dia termasuk orang yang relatif miskin di tengah-tengah kota yang begitu besar dan cosmopolitan itu. Selama bertahun-tahun dia hidup sederhana, pas-pasan sebagai supir taksi. Sampai suatu hari tiba-tiba dia dikenal di seluruh Amerika Serikat. Dia masuk channel televise, majalah, surat kabar. Apa yang terjadi? Kejadiannya sederhana saja. Suatu hari dia menunggu seorang penumpang di airport JFK, seorang wanita muda yang kaya. Dan betul saja, dia minta diantar ke salah satu tempat pemukiman elite. Setelah wanita ini sampai, dia turun dan bapak Usman pergi mengambil penumpang yang lain. Pada waktu penumpang lain hendak menaruh bagasinya ternyata wanita kaya tadi ketinggalan tasnya di sana. Bapak Usman ini kemudian memeriksa tas pertama, isinya sebuah laptop yang terbaru dan mahal. Kalau sdr menemukan barang seperti ini, diambil atau dikembalikan? Lalu dia membuka tas yang kedua. Isinya jauh lebih mahal daripada tas yang pertama sebab tas yang kedua isinya 31 biji cincin berlian. Kalau sdr menemukan barang ini, diambil atau tidak? Jangan-jangan ada yang bilang separuhnya saya ambil, separuh saya sumbangkan ke gereja. Maksudnya supaya hati nuraninya lebih tenang setelah mengambil barang orang lain. Bapak Usman membawa kedua tas ini ke kantor polisi. Polisi melacak wanita yang tadi turun dan singkatnya dia berhasil ditemukan. Tas itu dikembalikan kepada dia secara utuh. Karena senang, perempuan itu kasih uang $100 sebagai tanda terima kasih. Padahal perempuan itu sewaktu naik taksi pak Usman hanya memberi tips 30 sen saja. Begitu wartawan mengetahui peristiwa ini, malamnya pak Usman langsung diajak ke stasiun televisi untuk diwawancara. Salah satu pertanyaan yang diberikan kepadanya, “Kenapa bapak tidak ambil saja kedua tas itu?” Bapak Usman menjawab demikian, “All my life I try to be honest. Today is no different.” Sepanjang hidup saya berusaha menjadi orang jujur, hari ini tidak berbeda dengan hari sebelumnya.

[Sumber: Khotbah Danel Lukas Lukito/ http://www.griisydney.org/ringkasan-khotbah/2007/2007/12/02/benarkah-kita-adalah-pengikut-yesus-yang-sejati].



Kekayaan, Kesuksesan dan Kasih Sayang



Suatu ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang ke rumah dari perjalanannya keluar rumah, dan ia melihat ada 3 orang pria berjanggut yang duduk di halaman depan. Wanita itu tidak mengenal mereka semua.
Wanita itu berkata dengan senyumnya yang khas: “Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti orang baik-baik yang sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut”.
Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, “Apakah suamimu sudah pulang?”
Wanita itu menjawab, “Belum, dia sedang keluar”.
“Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suamimu kembali”, kata pria itu.
Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya, “Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini”.
Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam.
“Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama”, kata pria itu hampir bersamaan.
“Lho, kenapa? tanya wanita itu karena merasa heran.
Salah seseorang pria itu berkata, “Nama dia Kekayaan,” katanya sambil menunjuk seorang pria berjanggut di sebelahnya, “sedangkan yang ini bernama Kesuksesan, sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya. Sedangkan aku sendiri bernama Kasih-Sayang. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk ke rumahmu.”
Wanita itu kembali masuk kedalam, dan memberitahu pesan pria di luar. Suaminya pun merasa heran. “Ohho…menyenangkan sekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan.”
Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, “sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen ladang pertanian kita.”
Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah. “Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Kasih-sayang yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Kasih-sayang.”
Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. “Baiklah, ajak masuk si Kasih-sayang ini ke dalam. Dan malam ini, Si Kasih-sayang menjadi teman santap malam kita.”
Wanita itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 pria itu. “Siapa diantara Anda yang bernama Kasih-sayang? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini.”
Si Kasih-sayang berdiri, dan berjalan menuju beranda rumah. Ohho.. ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta. Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan.
“Aku hanya mengundang si Kasih-sayang yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu ikut juga?”
Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. “Kalau Anda mengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si Kasih-sayang, maka, kemana pun Kasih sayang pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Dimana ada Kasih-sayang, maka kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami berdua ini buta. Dan hanya si Kasih-sayang yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami menjalani hidup ini.” [Sumber cerita Tadeus Tamar- http://sumberkristen.com]
“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Matius 6:33