ecclesia reformata semper reformanda

WELCOME

Selamat datang
All of you are invited!!!

blog ini berisikan tentang renungan saya dalam kehidupan sehari-hari
selain itu ada beberapa karya ilmiah saya pada saat saya studi di sekolah teologi.

Semoga mendapatkan berkat melalui blog ini
Tuhan memberkati
HI FRIENDS, WELCOME TO MY BLOG.. I HOPE YOU LIKE IT..GBU ALWAYS

Sabtu, 28 Agustus 2010

Teologi Pembebasan Sebagai Usaha Kontekstualisasi




I.  Pendahuluan
Pembebasan! Kata ini mempunyai makana yang sangat dalam jika dihubungkan dengan masyarakat.  Mengapa?  Karena kata ini merupakan suatu usaha untuk membebaskan atau melepaskan diri dari suatu kukungan sehingga seseorang dapat mandiri.  Kata ini sering dihubungkan dengan Teologi di mana Teologi Pembebasan merupakan cara yang ditempuh orang-orang terpinggirkan untuk membebaskan diri dari cengkeraman penguasa.
Teologi Pembebasan merupakan usaha kontekstualisasi orang-orang Kristen terhadap lingkungannya.  Usaha kontekstualisasi melalui teologi pembebasan sering dianggap sebagai suatu upaya pembangkangan orang-orang terhadap pihak berkuasa, sehingga banyak terjadi musibah seperti pembunuhan enam dosen di El Salvador.  Padahal,  teologi pembebsan membuat masyarakat mengerti siapa mereka dan apa yang harus dilakukan mereka untuk mencapai hak-haknya sebagai manusia. 

II.  Apa itu Teologi Pembebasan
Apa itu Teologi Pembebasan yang membuat banyak perhatian bukan hanya dari kalangan Kristen saja tetapi mencakup segala bidang.  Teologi ini mulai berkembang sejak tahun 1960an di Amerika Latin, di mana terjadi pemahaman akan konteks mereka saat itu yaitu kemiskinan.  Teologi Pembebasan sebagai batang tubuh dari karya-karya tulis dihasilkan oleh tokoh-tokoh teologi pembebasan sejak tahun 1970 diantaranya adalah Gustavo Guiterrez (Peru), Jon Sobrino, Ignacio Ellacuria, dll.
Beberapa ajaran dasar yang terdapat dalam suatu Teologi Pembebasan yang terpenting adalah:
1.      Gugatan moral dan sosial yang amat keras terhadap ketergantungan pada kapitalisme sebagai suatu sistem yang  tidak adil dan tidak beradab, sebagai suatu bentuk dosa struktural.
2.      Penggunaan alat analisis Marxisme dalam rangka memahami sebab-musabab kemiskinan, pertentangan-pertentangan dalam tubuh kapitalisme dan bentuk-bentuk perjuangan kelas.
3.      pilihan khusus bagi kaum miskin dan kesetiakawanan terhadap perjuangan mereka menuntut kebebasan.
4.      pengembangan basis-basis kelompok masyarakat Kristen di kalangan orang miskin sebagai suatu bentuk baru gereja dan sebagai suatu alternatif terhadap cara hidup individualis yang dipaksakan sistem kapitalis.
5.      suatu pembacaan baru terhadap Alkitab memberikan perhatian penting pada bagian Kitab Keluaran sebagai paradigma perjuangan pembebasan rakyat yang diperbudak.
6.      Perlawanan menentang pemberhalaan sebagai musuh utama agama (jadi bukan ateisme)
7.      sejarah pembebasan manusia adalah antisipasi akhir dari keselamatan Kristus, kerajaan Tuhan.
8.      kecaman terhadap teologi tradisional yang bermuka ganda dimana sejarah kemanusiaan dan ketuhanan memang berbeda tetapi tak dapat dipisahkan satu sama lain.

Di dalam Teologi Pembebasan, gereja-gereja diajak untuk “bersuara.”  Dulu gereja-gereja hanya bungkam terhadap ketidakadilan yang terjadi terhadap rakyat kecil. Sekarang, Gereja-gereja semakin membela kepentingan kaum-kaum marginal melawan kesewenang-wenangan pemerintah.
Pada tahun 1971, dengan terbitnya karya Guiterrez, seorang Yesuit dari Peru, teologi pembebasan benar-benar lahir.  Dalam bukunya Liberation Theology-Perspectives, Guiterrez mengajukan berbagai gagasan anti-kemapanan.  Guiterrez melihat bahwa penyelamatan bukanlah suatu upaya pribadi melainkan komunal atau publik.  Baginya kaum miskin bukan menjadi sasaran belas kasihan melainkan harus menjadi subjek yang memperjuangkan kebebasan mereka.  Gustavo Giterrez melihat bahwa kaum miskin dimiliki oleh setiap kelompok, Ras, Kelas, Budaya, dll. Kaum miskin merupakan produk dari sistem kekuasaan yang berlaku untuk kepentingan pribadi. Kaum miskin merupakan orang-orang yang terbuang di tanahnya sendiri.
Teologi Pembebasan telah memakan banyak martir seperti Monsinyor Romero yang menentang junta militer di El Salvador.  Beliau dibunuh oleh pasukan pemerintah akibat seruannya kepada masyarakat untuk ikut serta menghentikan penindasan yang dibuat oleh pemerintah pada saat itu.  Jon Sobrino pun mendukung Romero dengan mengatakan bahwa Gereja harus menjadi saksi di dalam sejarah kehidupan dalam segala situasi.

III.  Kemiskinan sebagai Konteks Teologi Pembebasan
Tidak dapat disangkal lagi bahwa kemiskinan menjadi konteks teologi pembebasan.  Menurut Banawiratma, teologi pembebasan adalah sebuah teologi yang berorientasikan kerakyatan.  Menurut beliau, arah dasar teologi pembebasan adalah pembebasan kaum miskin dan tertindas.  Pembebasan ini berarti secara menyeluruh baik di bidang sosial, ekonomi, dan politik.
Kemiskinan terjadi di mana-mana terutama pada dunia ketiga yang seringkali menjadi objek sistem kapitalisme.  Kemiskinan ini terjadi akibat pemerintah yang tidak dapat melindungi rakyatnya dari sistem kapitalisme, bahkan pemerintah mendukung sistem tersebut.  Kemiskinan dalam dunia ketiga seringkali diterima dengan sikap fatalistis dan seringkali didukung oleh keyakinan-keyakinan agama tertentu.  Selain itu, fakta menyatakan bahwa akibat kolonialisasi, negara-negara yang dijajah masyarakatnya menjadi miskin baik mental maupun materi.
Kemiskinan seringkali merupakan masalah fundamental, namun pemerintah tidak pernah memberantasnya.  Pemerintah seringkali bertindak arogan dengan mengusir paksa kaum miskin dari daerah tempat tinggalnya untuk mendirikan bangunan atau mal yang mendatangkan keuntungan bagi pejabat-pejabat teras.  Pemerintah menciptakan kemiskinan struktural di mana orang yang telah berada dalam lingkungan tersebut sulit untuk keluar dan bebas dari kemiskinan itu.
Keprihatinan sosial telah menjadi titik tolak teologi dan komitmen pelaku refleksi iman. Kemiskinan merupakan masalah sosial, maka teologi pembebasan telah menjadikan kemiskinan sebagai keprihatinan sosial dan harus dilakukan secara bersama-sama.  Teologi pembebasan yang berusaha membebaskan manusia dari konteks kemiskinan yang dilakukan dari pihak profesional hingga yang awam akhirnya menjadi fides quaerens intellectum dan sekaligus fides quaerens liberationem yaitu refleksi iman yang menuntut penalaran yang masuk akal dan sekaligus menuntut tindakan pembebasan yang konkret.  Oleh karena itu konteks kemiskinan haruslah menjadi keprihatinan sosial dan iman dalam usaha untuk memanusiakan manusia yang terpinggirkan agar mau menjadi subjek. 
Menurut Ignacio Ellacuria, salah satu cara pemecahan masalah kemiskinan dan penindasan ini adalah:
1.      tindakan mempertimbangkan dengan serius pemikiran dan pendekatan yang diusulkan oleh gerakan teologi pembebasan tentang masalah itu.
2.      Diperlukannya suatu usaha istilah dan uraian teologis baru untuk mendiskusikannya secara mendalam dan menyeluruh.

IV.  Teologi Pembebasan Sebagai Jalan Kontekstualisasi Masa Sekarang
Kemiskinan dan Teologi Pembebasan saling terkait.  Teologi Pembebasan merupakan keprihatinan sosial dari sekelompok orang tentang masalah-masalah kaum marginal.  Kemiskinan terjadi di mana-mana dan hampir setiap negara dunia ketiga mempunyai masalah ini.  Selain karena fatalitas dari orangnya, sistem yang dibentuk dalam masyarakat ikut mempengaruhi pengertian mengenai kemiskinan.  S.A.E Nababan mengatakan bahwa kemiskinan di Indonesia merupakan “kekurangan dalam segala hal.” Kemiskinan adalah akibat dari ketergantungan pada suatu lingkungan ketidaksanggupan dan ketidakmampuan, dan lingkungan keterbelakangan, kebutaan dan kelumpuhan.  Oleh karena itulah, manusia yang terkungkung dalam kemiskinan struktural memerlukan sang pembebas.  Untuk itulah Teologi Pembebasan dikembangkan.
Teologi Pembebasan yang menitikberatkan pada kaum miskin (Banawiratma) telah menjadi suatu usaha untuk membebaskan manusia.  Teologi Pembebasan perlu menjadi sebuah identitas kebudayaan dalam dunia ketiga di mana pemribumian teologi pembebasan berdasarkan pengalaman manusia. Sebagai salah satu contoh kontekstualisasi, teologi pembebasan juga harus memperhatikan Tradisi juga perubahan sosial. 
Teologi Pembebasan adalah satu jalan untuk mebebaskan manusia, selainitu orang-orang diberikan rasa untuk peka terhadap sesama manusia.  Setiap orang merasa saling menghargai dan mau untuk membebaskan orang-orang dari kemiskinan struktural.  Teologi pembebasan merupakan jalan yang harus ditempuh untuk membebaskan manusia yang tertindas, namun bukan dengan cara anarkis melainkan dengan cara melakukan dialog dengan pihak penguasa.  Selain itu gereja-gereja juga mampu untuk kritis terhadap keadaan di luar.  Gereja harus berani bersuara jika melihat bentuk ketidakadilan dalam lingkungan sekitar.

V. Simpulan dan Refleksi
Teologi pembebasan merupakan sarana yang baik sebagai usaha kita untuk mngkontekstualisasikan diri kita dengan lingkungan.  Di dalam teologi Pembebasan kita diajarkan bagaimana kita harus ikut prihatin terhadap sesama kita yang tersisihkan.  Teologi pembebasan merupakan cara agar kaum miskin tidak hanya menjadi objek melainkan sebagai pelaku yang membuat mereka dapat keluar dan menyadari arti kehadiran mereka di dunia ini.
Yesus datang ke dunia bukan untuk menolong orang-orang kaya melainkan untuk menjadi berarti bagi sesama.  Dalam kehidupanNya Yesus-lah yang meletakkan dasar-dasar Teologi Pembebasan dimana Dia menentang sistem yang berlaku pada saat itu yang menyisihkan kaum marginal.  Yesus datang untuk memanusiakan manusia,  Dia berkorban untuk manusia agar manusia juga mau berkorban demi orang lain.  Melalui Teologi Pembebasan inilah kita diuji bagaimana menjadi manusia yang “care” terhadap sesama kita.
Gereja-gereja yang selama ini diam harus berani mengangkat suara, walaupun keberanian angkat suara itu mempunyai resiko.  Namun, Yesus telah menunjukkan bahwa Dia berani berkorban dan bersuara untuk orang-orang tertindas.  Seharusnya Gereja sebagai saksi Allah di dunia, mengikuti keteladanan Yesus yang taat sampai mati.  Jangan sampai Gereja memihak penguasa yang melakukan tindakan sewenang-wenang terhadap rakyatnya.


SUMBER BACAAN
Banairatma, J. B dan J. Muller. Berteologi Sosial Lintas Ilmu: Kemiskinan Sebagai Tantangan Hidup Beriman. Yogyakarta: Kanisius, 2004.
Budi,Hartono. Teologi, Pendidikan & Pembebasan. Yogyakarta: Kanisius, 2007.
Evans, Stephen B. Models of Contextual Theology. New York: Orbis Books, 1992.
Lowy, Michael. Teologi Pembebasan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000.
Torres, Sergio and John Eagleson (ed.). The Challenge of Basic Christian Communities. New York: ORBIS BOOKS, 1982.
Yewangoe, A. A. Theologia Crucis di Asia. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004.

Kamis, 26 Agustus 2010

IMAN DALAM PERKATAAN DAN PERBUATAN

             Di dalam Alkitab istilah iman mengacu pada dua hal:
  1.    Sikap percaya kepada Allah
  2.    Sejumlah keyakinan atau gagasan keagamaan
Percaya kepada Allah adalah sikap yang sangat penting, yaitu sama seperti Abraham yang percaya kepada janji Allah.  Janji itu tidak didasarkan pada hal yang telah dikerjakan oleh Abraham, melainkan sikap percaya Abraham terhadap janji Allah.  Inilah yang menjadi panggilan umat Allah yaitu percaya pada janji Allah meskipun ada begitu banyak masalah dan kesulitan yang menghalangi mereka.
Di dalam Ibrani 11:1 ini menegaskan pada kita yaitu bahwa iman yang konsisten adalah iman yang menang dalam situasi yang paling buruk sekalipun.  Ini berarti sebuah iman berarti kita harus memberikan yang terbaik dalam kehidupan kita.  iman yang tidak hanya dengan menjalankan ritus-ritus keagamaan.  Iman yang benar berarti saat kita mengimani berarti kita juga mengamini apa yang kita imani.  Inilah yang disebutkan sebagai orang yang berspiritual, yaitu iman yang diyakini sejalan dengan perkataan dan perbuatan.  Spiritualitas seseorang tidak dapat kita lihat dalam ritual-ritual keagamaan melainkan dalam kehidupan sehari-hari orang tersebut
Iman berarti kita tidak bertindak eksklusif atau merasa diri paling benar sehingga kita mengabaikan apa yang terjadi dalam lingkungan sekitar kita.  jika kita ingat tentang cerita orang Samaria yang baik hati, yang berani menolong orang yang sedang sekarat dibandingkan dengan imam, dan juga orang Lewi, bagi Yesus orang samaria inilah yang menunjukkan imannya bukan hanya di mulut saja melainkan dengan perbuatannya.
Percaya berarti bertekun dalam memercayai dan yakin dengan menyatakan kesetiaan yang bersifat taat.  Iman itu bukanlah instant.  Apalagi budaya instant yang terjadi dalam kehidupan modern saat ini
}Kesembuhan tiba-tiba
}  Kaya mendadak
}  Rumah yang dibetulkan secara cuma-cuma
}Mendadak terkenal
}Perubahan cepat

Iman itu harus diusahakan dan diasah untuk menjadi iman yang berkualitas. Salah satunya adalah hidup dekat dengan Tuhan. Sama seperti cerita tentang Maria dan Marta, dimana Marta yang sibuk dengan kesibukannya sendiri dan lupa untuk mendekatkan diri kepada Firman Allah.  Iman yang berkualitas dapat digapai apabila kehidupan kita juga dekat kepada Kristus.  Namun sering kali pada saat keadaan mendesak kita melupakan iman kita dan mendasarkan pada kekuatan kita sendiri dan melupakan Tuhan bahkan kita menolak Tuhan.
Iman yang berkualitas berarti:
} Melihat segala sesuatu dalam sudut pandang yang positif
} Mampu melewati segala tantangan dan hambatan
}Tetap berpengharapan kepada Tuhan sama seperti Abraham

Di dalam kehidupan kita menjadi orang beriman bukan berarti lepas dari masalah melainkan bagaimana kita menjadikan masalah itu menjadi batu loncatan untuk menjadi suatu keberhasilan dalam hidup.  Masalah bukanlah suatu penghambat TOTAL dalam kehidupan kita melainkan membuat kita merenungkan sesaat apa yang telah kita lakukan dalam hidup, dan mencari jalan keluar dalam menyelesaikan permasalahan tersebut.  Apabila kita berhasil dengan tetap berpengharapan pada Tuhan dengan melewati tantangan dan hambatan, ini berarti kita telah beriman secara perkataan dan perbuatan.
Menjadi orang beriman yang berkualitas adalah menjadikan segala masalah adalah batu asah dalam kehidupan kita untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Menjadi iman yang berkualitas bukan hanya rajin dalam ritual-ritual keagamaan melainkan bagaimana kita mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari

kadal ohh kadal

Cerita Bijak
Ini sebuah kisah nyata yang terjadi di Jepang. Ketika sedang merenovasi sebuah rumah, seseorang mencoba merontokan tembok.

Rumah di Jepang biasanya memiliki ruang kosong diantara tembok yang terbuat dari kayu. Ketika tembok mulai rontok, dia menemukan seekor kadal terperangkap diantara ruang kosong itu karena kakinya melekat pada sebuah paku. Dia merasa kasihan sekaligus penasaran. Lalu ketika dia mengecek paku itu, ternyata paku tersebut telah ada disitu 10 tahun lalu ketika rumah itu pertama kali dibangun.

Apa yang terjadi? Bagaimana kadal itu dapat bertahan dengan kondisi terperangkap selama 10 tahun?

Dalam keadaan gelap selama 10 tahun, tanpa bergerak sedikitpun, itu adalah sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal. Orang itu lalu berpikir, bagaimana kadal itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun tanpa berpindah dari tempatnya sejak kakinya melekat pada paku itu!

Orang itu lalu menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan kadal itu, apa yang dilakukan dan apa yang dimakannya hingga dapat bertahan. kemudian, tidak tahu darimana datangnya, seekor kadal lain muncul dengan makanan di mulutnya …. astaga!!

Orang itu merasa terharu melihat hal itu. Ternyata ada seekor kadal lain yang selalu memperhatikan kadal yang terperangkap itu selama 10 tahun. Sungguh ini sebuah cinta…cinta yang indah. Cinta dapat terjadi bahkan pada hewan yang kecil seperti dua ekor kadal itu. apa yang dapat dilakukan oleh cinta? tentu saja sebuah keajaiban. Bayangkan, kadal itu tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti memperhatikan pasangannya selama 10 tahun. bayangkan bagaimana hewan yang kecil itu dapat memiliki karunia yang begitu menganggumkan.

Saya tersentuh ketika mendengar cerita ini. Lalu saya mulai berpikir tentang hubungan yang terjalin antara keluarga, teman, saudara lelaki, saudara perempuan…..Berusahalah semampumu untuk tetap
dekat dengan orang-orang yang kita kasihi.

Jangan Pernah Mengabaikan Orang Yang Anda Kasihi!

Pengabdian yang Abdi

Tema: “ Pengabdian yang Abadi”

Bacaan I         :Yesaya 40:21-31
Antar Bacaan: Mazmur 147:1-11
Bacaan II       : I Korintus 9:16-23
Bacaan III      : Markus 1:29-39

KHOTBAH
               
Abdi Rajamin Saragih! Atau yang lebih akrab disapa dengan Bang Abdi, adalah salah seorang rekan saya di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta. Ia adalah salah seorang bersuku Batak yang berasal dari Gereja Methodis Indonesia (GMI). Abdi Rajamin Saragih! Sebuah nama yang menurut saya sangat unik. Mengapa? Karena di dalam nama itu saya menemukan sebuah kata yang penting, yang tentu saja memiliki makna yang tidak kalah pentingnya, yaitu kata ‘abdi’. Suatu kali saya pernah iseng menanyakan apa arti nama itu, atau mengapa orangtuanya memberi nama itu? Bang Abdi ini kemudian menjawab bahwa nama tersebut memang diambil dari sebuah kata ‘eved’ yang dalam bahasa Ibrani berarti pelayan atau hamba.  Jadi, konon…ketika dulu dilahirkan, orangtua dari Bang Abdi ini juga sangat berharap agar ia dapat menjadi seorang pelayan atau hamba, tentu saja pelayan atau hamba yang dimaksud adalah pelayan Tuhan. Demikian diungkapkan oleh rekan saya Bang Abdi dalam sebuah percakapan informal yang kami lakukan.

            Mungkin saudara/I bertanya mengapa kisah ini saya ceritakan di awal perenungan khotbah pada kebaktian mInggu ini? Hal ini karena pada hari ini kita hendak diajak untuk melihat dan merenungkan arti sebuah pengabdian….atau secara spesifik mengutip tema kita, melalui kebaktian Minggu ini kita diajak untuk merenungkan makna sebuah “pengabdian yang abadi”.

            Pengabdian! Jelas ini merupakan sebuah kata kerja aktif. Ada sesuatu yang dilakukan dan dalam hal ini kata kerja tersebut adalah mengabdi. Mari kita lihat sekilas istilah ‘pengabdian’. Istilah ini berasal dari sebuah kata ‘abdi’. Secara definisi, kata ‘abdi’ ternyata memiliki beberapa arti : (1) pelayan; (2) hamba, (3) orang bawahan, (4) budak tebusan. Tentu saja saudara/i, jika kemudian kita melihat definisi-definisi in, maka kata ‘abdi’ cenderung diarahkan atau dikonotasikan pada mereka yang memiliki status rendah, bawahan, atau mereka yang sehari-harinya menjadi pelayan yang melayani. Hal-hal inilah yang ada dalam pola pikir dan pemahaman setiap kita. Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah mudahkah kita melakukan sebuah pengabdian itu saudara? Jawabannya jelas tidak! Karena apa? Karena dibutuhkan sebuah kesiapan..kesediaan..bahkan juga penghayatan dalam proses pelaksanaannya.

            Bacaan Alkitab kita hari juga hendak memberikan sorotan pada dua tokoh yang memberikan dirinya untuk melaksanakan sebuah pengabdian. Tokoh yang pertama adalah Paulus. Apa yang ditekankan dalam bacaan II kita dari Surat Paulus kepada Jemaat di Korintus (I Kor 9:16-23) menjadi sebuah hal menarik. Kalau kita mencermati bagian perikop yang kita baca ini, kita dapat belajar dari sosok seorang Paulus dalam keberadaannya sebagai seorang hamba atau seorang abdi.
           
Apa yang menarik dari sosok seorang Paulus? Saya mencatat bahwa yang menarik dari sosok seorang Paulus adalah perihal sikap dan pilihan hidup yang ia pilih. Sikap dan pilihan hidup yang bagaimana? Jelas bahwa sikap hidup yang Paulus pilih adalah sikap hidup yang ‘mengabdi’. Kalau sejenak kita memperhatikan bagian awal perikop kita, kita dibawa pada suatu pemaparan mengenai pelayanan Paulus sebagai seorang Rasul. Apa yang dituliskan Alkitab? Alkitab menuliskan bahwa kendati sebagai seorang Rasul, ia sebenarnya memiliki hak untuk mendapat makanan dan minuman, upah, bahkan juga mempunyai hak untuk membawa keluarga dalam pelayanan, namun apa yang dinyatakan dan dilakukan oleh Paulus? Paulus ternyata tidak menggunakan hak-hak itu. Mengapa? Jawabannya seperti yang telah saya utarakan sebelumnya, karena ini adalah sikap dan pilihan hidup Paulus. Bagi Paulus, yang utama adalah sikap hidup yang mengabdi…pengabdian kepada Tuhan, dan pengabdian ini dilakukan secara total, tidak setengah-setengah. Lalu pertanyaan selanjutnya adalah: apa wujud nyata pengabdian yang Paulus lakukan?
1.      Kesediaan untuk terus memberitakan Injil Tuhan dengan melepaskan yang sesungguhnya menjadi hak Paulus
2.      Kesediaan diri Paulus untuk menjadi hamba dari semua orang yang terus melayani.
      


Itulah tokoh yang pertama. Tokoh berikutnya yang juga hendak kita lihat
memberikan diri dalam melaksanakan sebuah pengabdian adalah Yesus Kristus. Dalam bacaan III kita yaitu Injil Tuhan kita Yesus Kristus menurut Markus dalam Markus 1:29-39, kita dapat melihat sebuah deskripsi terhadap sosok Yesus sebagai seorang Hamba, khususnya di sini Hamba Allah. Sebagai seorang Hamba, atau kalau meminjam tema kita hari ini, sebagai seorang Abdi Allah ini berarti bahwa apa yag dilakukan oleh Yesus, semuanya semata-mata ditujukan dan ditujukan pada satu hal yaitu mewujudnyatakan kehendak Allah… (point penting)…orientasi/fokus karya dan pelayanan Yesus semuanya ditujukan pada Allah sendiri. Ada sebuah ketaatan yang tampak di sini….dan ini menjadi sebuah hal yang essensial dalam kehidupan Yesus.

            Injil Markus saudara-saudara…dikenal sebagai Injil yang alur ceritanya banyak sekali menguraikan tentang kisah dan aktivitas pelayanan Yesus. Seperti dalam bacaan kita hari ini, Yesus dikisahkan menyembuhkan ibu mertua Petrus..lalu ada pula yang menderita sakit dan kerasukan setan…semuanya sebenarnya hendak berbicara tentang sebuah hal yaitu tentang karya dan pelayanan Yesus. Inilah yang Yesus lakukan tatkala Ia berada di dunia ini. Hidup Yesus diabdikan sebagai seorang Hamba yang mau melayani..untuk apa? Jawabannya jelas yaitu untuk mewujudnyatakan kehendak Allah di tengah dunia ini.

            Hari ini…dalam khotbah ini kita sama-sama hendak belajar tentang makna sebuah pengabdian. Belajar dari Paulus dan Yesus, kita diingatkan bahwa seorang abdi, atau seorang hamba harus memiliki ketulusan hati dan kesediaan untuk berkorban. Hal ketulusan hati menjadi sebuah hal yang penting saudara…Mengapa? Karena dalam realitas hidup yang kita jalani, ada orang yang bersedia untuk mengabdi…bersedia untuk melayani…namun itu semua dilakukan dengan tujuan atau agar ia memperoleh sesuatu yang menguntungkan dirinya… ambil saja sebagai contoh… “saya mau mengabdi kepada dia agar nantinya dia baik kepada saya….agar dia memberikan yang saya butuhkan…agar dia mau menolong saya kalau sedang mengalami kesulitan, dlsb”.  Kalau kita berada dalam situasi dan pola pikir demikian, itu berarti bahwa sebenarnya kita tidak memiliki ketulusan hati. Kita tidak punya kerelaan hati untuk mengabdi. Sungguh disayangkan kalau demikian yang terjadi. Namun sekali lagi saya tegaskan bahwa ini kenyataannya..sangatlah penting bagi seorang abdi untuk memiliki ketulusan hati dalam dirinya…dan ditambahkan pula dengan kesediaan untuk berkorban. Berkorban!!! Ini juga merupakan hal yang tidak mudah. Mengorbankan diri, waktu, tenaga, pikiran dan segala hal dalam hidup kita, dalam praktiknya sangat tidak mudah. Akan tetapi perlu ditegaskan, tentu saja ini bukan berarti tidak mungkin jika kita tetap mengupayakan dalam pelaksanaannya.    

            Saya teringat dengan apa yang dituliskan oleh J.B Banawiratma mengenai jati diri seorang pelayan. Dalam salah satu tulisannya, beliau pernah membedakan 2 jenis karakteristik pelayan dalam kehidupan sehari-hari dan kehidupan pelayanan secara khusus:
a.      Pelayan yang dengan kesungguhan dan ketulusan hati mau melayani dan dalam hal ini mengarah pada melayani Tuhan dan sesama (ia memiliki keikhlasan untuk tidak mempertahankan kemuliaan, kedudukan, jabatan, atau bahkan keuntungan pribadinya).
b.      Pelayan yang kedua adalah kebalikan dari yang pertama. Karakteristik pelayan kedua tentu saja lebih mengutamakan kedudukan, kekuasaan, yang ada pada mereka. Tak jarangm mereka melakukan sesuatu dengan embel-embel lain di balik pelayanan mereka. Jenis ini tentu bukanlah jenis pelayanan dengan ketulusan hati, bukanlah dengan kerelaan hati, dan ini menjadi sebuah hal yang harus dihindari dalam kehidupan kita.  

Apa yang diungkapkan oleh J.B Banawiratma ini menjadi sebuah perenungan dan  
refleksi bagi kita dalam memahami makna sebuah pengabdian..khususnya pengabdian kepada Tuhan... pertanyaan refleksti bagi kita adalah: kita berada pada karakteristik yang mana? Apakah jenis pelayan yang pertama, atau sebaliknya? Hanya kita yang dapat menjawab hal tersebut secara pribadi. Tuhan memberkati. AMIN

Gloria.Tesalonika.S.Si (Teol)