ecclesia reformata semper reformanda

WELCOME

Selamat datang
All of you are invited!!!

blog ini berisikan tentang renungan saya dalam kehidupan sehari-hari
selain itu ada beberapa karya ilmiah saya pada saat saya studi di sekolah teologi.

Semoga mendapatkan berkat melalui blog ini
Tuhan memberkati
HI FRIENDS, WELCOME TO MY BLOG.. I HOPE YOU LIKE IT..GBU ALWAYS

Sabtu, 27 Oktober 2012

DIM SUM UNTUK KELUARGA



Dim Sum Untuk Keluarga.  Pasti saat kita melihat kata dim sum yang pertama kali dipikirkan oleh kita adalah siomay, hakaw, ceker ayam, dsb.  Itu tidak salah bahkan memang benar kalau makanan yang disebutkan tadi adalah bagian dari menu dim sum.  Namun apakah kita mengetahui arti dim sum secara filosofis? 

Dim Sum (dalam dialek Cantonese) atau Dianxin (dalam bahasa Mandarin) secara harafiah berarti sedikit dari hati atau menyentuh hatimu. Kata ini disunting dan frasa yi dian xin yi yang artinya sedikit tanda mata. Kemudian secara umum kemudian digunakan sebagai istilah untuk menyebut camilan ringan. Dim sum sudah dikenai sebagai makanan popular sejak ribuan tahun lalu. Kebiasaan makan dim sum konon bermula pada periode Jalur Sutra (Asia Tengah ke Cina) dan Dinasti Han (206 SM) hingga Dinasti Yuan (Abad 14 M). Ketika itu para petani, buruh dan pedagang yang berbisnis di sepanjang jalur sutra kerap mampir di kedai teh pinggir jalan untuk minum teh di sore hari.

Sejak abad 10 telah dikenal sekitar 2.000 jenis macam dim sum. Di masa sekarang sebuah restoran besar dim sum biasanya menyajikan sekitar 100 jenis dim sum. Dim sum kemudian menjadi sarapan pagi khas Hong Kong (Hong Kong terletak tepat di seberang Propinsi Guangdong, Cina, sehingga masyarakatnya mengikuti kebiasaan di Guangdong). Dim sum sengaja dibuat kecil agar mudah disantap dalam satu kali suapan Bentuknya harus indah agar enak dinikmati bersama teh. Restoran biasa menghidangkan dim sum sejak pagi hingga siang hari. Di Hong Kong dan provinsi Cina lainnya seperti Guangdong, beberapa resto menyajikan dim sum sejak pukul 5 pagi.

Keluarga pun senang berkumpul untuk menikmati dim sum bersama di hari Minggu. Biasanya orangtua akan mengajak anak serta untuk berkumpul bersama kakek dan nenek.  Terutama di hari raya seperti Hari Ibu dan Imlek. Di Indonesia, dim sum mulai dikenal sebagai panganan dan makanan utama yang dihidangkan sepanjang hari

Mengapa Dim Sum untuk Keluarga?      
Jika kita berpergian ke restoran dim sum apakah kita pergi dengan teman-teman dan keluarga atau kita sendirian saja? sangatlah jarang seseorang pergi makan di restoran dim sum.  Di dalam restoran dim sum rasa kekeluargaan haruslah terjalin.  Mengapa? Karena pada saat makan dim sum berarti kita makan di satu meja dan komunikasi antar pribadi haruslah terjalin.  Pertanyaan berikutnya adalah “Seberapa sering kita makan bersama dengan keluarga kita?” 

Di dalam visi dan misi GKI Kebonjati Komunitas Kristen yang bersinergi, berbagi, dan ,membarui dalam mewujudkan Kerajaan Allah, untuk membentuk sebuah komunitas yang seperti itu haruslah dimulai dari keluarga.  Mengapa? Karena gereja pada dasarnya dibentuk oleh kumpulan-kumpulan keluarga yang mau melayani Tuhan.  jika di dalam komunitas kecil yaitu keluarga visi dan misi tersebut dapat dilakukan maka akan lebih mudah diejawantahkan dalam komunitas yang lebih besar yaitu gereja.

Masalah di dalam keluarga pada saat ini adalah karena kesibukan masing-masing pribadi dalam keluarga sehingga mengakibatkan kualitas pertemuan menjadi berkurang.  Di dalam pertemuan di meja makan, diharapkan komunikasi antara anggota keluarga dapat terjalin sehingga hubungan antar anggota keluarga menjadi lekat.  Bagaimana kita dapat bersinergi, berbagi, dan membarui jika kita tidak dapat menyentuh hati dengan suami atau istri , saudara sekandung, dan anak-anak?    Dim sum untuk keluarga adalah pada saat anggota keluarga dapat menyentuh hati setiap anggota keluarga dan memberikan yang terbaik dalam memuliakan Tuhan di dalam keluarga, gereja, dan masyarakat.
  
Tuhan memberkati kita semua


Sumber bacaan
John Ng, Dim Sum untuk Keluarga (Gloria Graffa:Yogyakarta, 2011)

INDOMIE ISTIMEWA



“Davidddddddd....makannnnn!!!!!”

Teringat memori saya ketika berusia sembilan tahun tentang kata-kata yang diucapkan oleh oma saya untuk makan bersama di meja makan. Padahal saat itu saya sedang menonton program televisi favorit saya ksatria baja hitam. 

“Daviddddddd, cepat kesiniii...makanan sudah disiapkan!!”

Kembali kata-kata itu diucapkan kedua kalinya, dan saya tahu jika sampai kata-kata itu diucapkan sampai ketiga kalinya maka saya tidak akan diberi makan.  Beranjaklah saya menuju ke tempat makan dan hendak mengambil makanan itu untuk makan di depan televisi lalu terjadilah dialog antara saya dengan oma saya

“Oma, saya mau makannya sambil nonton baja hitam” kataku kepada oma
“Tidak boleh, kamu harus makan bersama oma di meja makan ini” jawab oma
(dengan kesal)”saya tidak mau, saya mau makan bersama Ksatria Baja Hitam”
(menghela nafas)”baik jika kamu mau makan bersama baja hitam, kamu minta dimasaki saja sama baja hitam sana, ini masakan oma” dengan lembut oma menjawabku
“ga mungkin dong oma, kan baja hitam di televisi mana bisa disuruh masak”
“kalau begitu ayo makan bersama oma di sini sekalian temani oma ngobrol”
“Ga mau, saya mau nonton baja hitam!!!...”
“baik kalau kamu mau menonton baja hitam, kamu tidak dapat makan hari ini” Tegas oma kepadaku
“oma jahattt...baja hitamnya kan sebentar lagi”
“kamu belum makan dari pulang sekolah, nanti kamu sakit...ayo makan dulu nanti nontonnya dilanjutkan” nasehat oma kepadaku
“iya, iyaa....” kataku kepada oma

Hampir enambelas tahun silam oma telah meninggalkan dunia ini di usianya yang ke 74 tahun.  Namun kenangan bersamanya masih terasa dalam ingatan saya.  Memang masakan yang dibuat oleh oma saya hanya berupa indomie.  Namun entah mengapa terasa berbeda jika beliau yang memasak indomie tersebut.  Saya tidak bisa lagi merasakan indomie istimewa tersebut dengan adanya telur yang spesial dan bawang goreng buatannya yang sangat gurih. 

Kenangan makan bersama dengan oma saya begitu terasa karena harus makan bersama dengannya di meja makan, dengan beliau bertanya bagaimana pelajaran saya di sekolah, sudah mengerjakan PR atau belum, sudah cuci tangan atau belum.  Hal-hal yang kecil yang seringkali saya jawab dengan kata-kata “oma bawel yaa” namun selalu ditanggapinya dengan senyuman sambil mencium pipi saya.  Hal-hal yang kecil yang begitu indah membuat saya tidak bisa melupakan hal tersebut.

Umat yang terkasih dalam Yesus Kristus, sebuah kenangan berharga menandakan bahwa orang tersebut telah mengikat hati kita sehingga kita selalu bersyukur Tuhan telah memberikan anugerah terindah kita dapat hidup bersama-sama dengan orang yang kita cintai.  Di dalam Kolose 3:14  “Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan”  Marilah kita mengikatkan hati kita dengan keluarga dan orang-orang yang kita sayangi dengan mengikatkan kasih satu dengan yang lain.  Hal-hal kecil begitu berharga, ciptakanlah kenangan indah dalam setiap waktu yang Tuhan berikan.

Tuhan Yesus berkati kita semua



                

Jumat, 05 Oktober 2012

The Strangers


Ini adalah kisah saya sekitar tahun 2006 dimana saya masih menjadi mahasiswa tingkat tiga di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta.  Pada Senin pagi yang cerah dimana saya akan pergi menuju ke kampus.   Saya seperti biasanya menunggu bis Patas 67 di halte Gunung Sahari.  Pada pagi hari itu, saya melihat banyak sekali orang-orang yang mulai beraktivitas untuk pergi ke kantor, sekolah, dan pedagang yang mulai menjajakan barang dagangannya.

“Rokok, rokok, aqua-aqua, mizone..mizone”  kata-kata yang sudah biasa saya dengar di pagi hari

Kemudian terdengarlah suara bis yang mendekat secara perlahan menuju halte di mana saya berada. Bis ini berwarna putih kusam, cat yang sudah mengelupas di mana-mana, dan kaca jendela yang sudah mulai hilang tidak berada di tempatnya

“Senen-Blok M, Senen Blok M”  teriak seorang kenek bis tersebut.

Itulah pertanda bis yang saya tunggu sudah tiba. Kemudian saya melangkahkan kaki saya untuk menaiki bis tersebut dan menuju kampus saya.
Saat itu kondisi bus dalam keadaan penuh dan hanya tersisa satu tempat saja di bagian depan.  Kemudian saya menuju ke tempat duduk yang saya tuju.  Saya melihat sekeliling saya, ada seorang pria yang duduk sambil menatap kosong ke luar jendela, ada seorang bapak yang sibuk dengan kertas-kertas kerjanya, dan ada anak-anak sekolah yang berbincang menegenai pelajaran sekolah pada hari ini.  Tepat di belakang tempat duduk saya duduklah seorang wanita yang cantik, bau parfumnya mungkin dapat dicium dari sepuluh
meter.

Tibalah saya di tempat duduk yang saya tuju.  Saya melihat di sebelah tempat duduk tersebut ada seorang ibu berjilbab.“Aduuhhhh...duduk deket ibu-ibu berjilbab lagi, seandainya di sebelah wanita cantik itu” gumam saya dalam hati.  Ibu itu tersenyum kepada saya dan saya tidak membalasnya.  Saya hanya duduk menatap ke depan sambil mendegarkan lagu dari mp3 player seakan ibu tersebut hanyalah angin lalu.
Sekitar setengah jam bus ini berjalan, naiklah seorang pengamen yang berbadan kurus, lusuh, rambutnya panjang tidak teratur, berjenggotan, dan bau.  Pengamen itu berdiri di dekat kursi saya dan saya mulai tidak menyukai keberadaan pengamen itu.  *jrennggg..jrengggg* suara gitar mulai dimainkan,
“Akulah arjunaaaaaa...aaaaa.” 
“Gilaaaa.....”kataku dalam hati.
 Saya terkejut dengan suara nyanyiannya. Terkejut bukan karena terkesima akan suaranya yang seperi Frank Sinatra melainkan suaranya laksana suara bajaj yang sedang dipacu kencang dan  meraung-raung yang luar biasa mengganggu pendengaran manusia.

“Hawa tercipta di duniaaaaaaaaaaa........” kembali dinyanyikan oleh pengamen tersebut.

Suara itu terus menerus saya dengar sehingga suara musik yang saya dengar di MP3 player kalah suaranya.  Sekitar limabelas menit kemudian pengamen itu turun setelah meminta uang kepada penumpang-penumpang dan tentu saja saya tidak memberikan uang kepada pengamen tersebut.   

Kemudian  saya bergumam kecil “masih muda saja sudah malas, dasar miskin.”
Gumaman kecil ini ternyata terdengar oleh ibu berjilbab di sebelah saya. 
Lalu dia menegur saya

“Mas, jika tidak mau memberi uang kepada pengamen tadi, lebih baik diam saja tanpa harus menghakiminya.”

Teguran ini membuat saya terkejut dan menunduk malu. 
Belum sempat untuk memikirkan maksud kata-kata dari ibu yang tidak saya kenal itu terdengarlah suara

“Proklamasi proklamasi....” teriak kenek bis,

Pada saat itu saya menyadari bahwa saya telah tiba di dekat kampus saya.  Setelah turun dari bis tersebut dan menuju ke kampus, akhirnya saya dapat merenungkan setiap teguran yang diberikan oleh ibu yang tidak saya kenal itu, dan anehnya saya tidak marah terhadap beliau melainkan mengucapkan syukur kepada Tuhan bahwa telah ditegur olehnya yang tadinya saya anggap remeh.  “Terima kasih Tuhan akan teguranMu kepadaku... saya harus menghargai setiap manusia dari ibu yang berjilbab sampai seorang pengamen”  ucapanku saat memasuki gerbang STT Jakarta.

Minggu, 05 Agustus 2012

"Gendong Aku Sampai Ajalku Tiba"


Suatu malam ketika aku kembali ke rumah, istriku menghidangkan makan malam untukku. Sambil memegang tangannya aku berkata, "Saya ingin mengatakan sesuatu kepadamu." Istriku lalu duduk di samping sambil menemaniku menikmati makan malam dengan tenang. Tiba-tiba aku tidak tahu harus memulai percakapan dari mana. Kata-kata rasanya berat keluar dari mulutku.

Aku ingin sebuah perceraian di antara kami, karena itu aku beranikan diriku. Nampaknya dia tidak terganggu sama sekali dengan pembicaraanku, dia malah balik bertanya kepadaku dengan tenang, "Mengapa?" Aku menolak menjawabnya, ini membuatnya sungguh marah kepadaku. Malam itu kami tidak saling bertegur sapa. Dia terus menangis dan menangis. Aku tahu bahwa dia ingin tahu alasan di balik keinginanku untuk bercerai.

Dengan sebuah rasa bersalah yang dalam, aku membuat sebuah pernyataan persetujuan untuk bercerai dan dia dapat memiliki rumah kami, mobil, dan 30% dari keuntungan perusahaan kami. Dia sungguh marah dan merobek kertas itu. Wanita yang telah menghabiskan 10 tahun hidupnya bersamaku itu telah menjadi orang yang asing di hatiku. Aku minta maaf kepadanya karena dia telah membuang waktunya 10 tahun bersamaku, untuk semua usaha dan energi yang diberikan kepadaku, tapi aku tidak dapat menarik kembali apa yang telah kukatakan kepada Jane, wanita simpananku, bahwa aku sungguh mencintainya. Istriku menangis lagi. Bagiku tangisannya sekarang tidak berarti apa-apa lagi. Keinginanku untuk bercerai telah bulat.

Hari berikutnya, ketika aku kembali ke rumah sedikit larut, kutemukan dia sedang menulis sesuatu di atas meja di ruang tidur kami. Aku tidak makan malam tapi langsung pergi tidur karena ngantuk yang tak tertahankan akibat rasa capai sesudah seharian bertemu dengan Jane. Ketika terbangun, kulihat dia masih duduk di samping meja itu sambil melanjutkan tulisannya. Aku tidak menghiraukannya dan kembali meneruskan tidurku.

Pagi harinya, dia menyerahkan syarat-syarat perceraian yang telah ditulisnya sejak semalam kepadaku. Dia tidak menginginkan sesuatupun dariku, tetapi hanya membutuhkan waktu sebulan sebelum perceraian. Dia memintaku dalam sebulan itu, kami berdua harus berjuang untuk hidup normal layaknya suami istri. Alasannya sangat sederhana. Putra kami akan menjalani ujian dalam bulan itu sehingga dia tidak ingin mengganggunya dengan rencana perceraian kami. Selain itu, dia juga meminta agar aku harus menggendongnya sambil mengenang kembali saat pesta pernikahan kami. Dia memintaku untuk menggendongnya selama sebulan itu dari kamar tidur sampai muka depan pintu setiap pagi.

Aku pikir dia sudah gila. Akan tetapi, biarlah kucoba untuk membuat hari-hari terakhir kami menjadi indah demi perceraian yang kuinginkan, aku pun menyetujui syarat-syarat yang dia berikan. Aku menceritakan kepada Jane tentang hal itu. Jane tertawa terbahak-bahak mendengarnya. "Terserah saja apa yang menjadi tuntutannya tapi yang pasti dia akan menghadapi perceraian yang telah kita rencanakan," kata Jane.

Ada rasa kaku saat menggendongnya untuk pertama kali, karena kami memang tak pernah lagi melakukan hubungan suami istri belakangan ini. Putra kami melihatnya dan bertepuk tangan di belakang kami. "Wow, papa sedang menggendong mama." Sambil memelukku dengan erat, istriku berkata, "Jangan beritahukan perceraian ini kepada putra kita." Aku menurunkannya di depan pintu. Dia lalu pergi ke depan rumah untuk menunggu bus yang akan membawanya ke tempat kerjanya, sedangkan aku mengendarai mobil sendirian ke kantorku.

Pada hari kedua, kami berdua melakukannya dengan lebih mudah. Dia merapat melekat erat di dadaku. Aku dapat mencium dan merasakan keharuman tubuhnya. Aku menyadari bahwa aku tidak memperhatikan wanita ini dengan seksama untuk waktu yang agak lama. Aku menyadari bahwa dia tidak muda seperti dulu lagi, ada bintik-bintik kecil di wajahnya, rambutnya pun sudah mulai beruban. Namun entah kenapa, hal itu membuatku mengingat bagaimana pernikahan kami dulu.

Pada hari keempat, ketika aku menggendongnya, aku mulai merasakan kedekatan. Inilah wanita yang telah memberi dan mengorbankan 10 tahun kehidupannya untukku. Pada hari keenam dan ketujuh, aku mulai menyadari bahwa kedekatan kami sebagai suami istri mulai tumbuh kembali di hatiku. Aku tentu tidak mengatakan perasaan ini kepada Jane.

Suatu hari, aku memperhatikan dia sedang memilih pakaian yang hendak dia kenakan. Dia mencoba beberapa darinya tapi tidak menemukan satu pun yang cocok untuknya. Dia sedikit mengeluh, "Semua pakaianku terasa terlalu besar untuk tubuhku sekarang." Aku mulai menyadari bahwa dia semakin kurus dan itulah sebabnya kenapa aku dapat dengan mudah menggendongnya. Aku menyadari bahwa dia telah memendam banyak luka dan kepahitan hidup di hatinya. Aku lalu mengulurkan tanganku dan menyentuh kepalanya.

Tiba-tiba putra kami muncul dan berkata," Papa, sekarang saatnya untuk menggendong dan membawa mama." Bagi putraku, melihatku menggendong dan membawa mamanya menjadi peristiwa yang penting dalam hidupnya. Istriku mendekati putra kami dan memeluk erat tubuhnya penuh keharuan. Aku memalingkan wajahku dari peristiwa yang bisa mempengaruhi dan mengubah keputusanku untuk bercerai.

Aku lalu mengangkatnya dengan kedua tanganku, berjalan dari kamar tidur kami, melalui ruang santai sampai ke pintu depan. Tangannya melingkar erat di leherku dengan lembut dan sangat romantis layaknya suami istri yang harmonis. Aku pun memeluk erat tubuhnya, seperti momen hari pernikahan kami 10 tahun yang lalu. Akan tetapi tubuhnya yang sekarang ringan membuatku sedih.

Pada hari terakhir, aku menggendongnya dengan kedua lenganku. Aku susah bergerak meski cuma selangkah ke depan. Putra kami telah pergi ke sekolah. Aku memeluknya erat sambil berkata, "Aku tidak pernah memperhatikan selama ini hidup pernikahan kita telah kehilangan keintiman satu dengan yang lain."

Aku mengendarai sendiri kendaraan ke kantorku, mampir ke tempat Jane. Melompat keluar dari mobilku tanpa mengunci pintunya. Begitu cepatnya karena aku takut jangan sampai ada sesuatu yang membuatku mengubah pikiranku. Aku naik ke lantai atas. Jane membuka pintu dan aku langsung berkata padanya. "Maaf Jane, aku tidak ingin menceraikan istriku."

Jane memandangku penuh tanda tanya bercampur keheranan dan kemudian menyentuh dahiku dengan jarinya. Aku mengelak dan berkata, "Maaf Jane, aku tidak akan bercerai. Hidup perkawinanku terasa membosankan karena dia dan aku tidak memaknai setiap momen kehidupan kami, bukan karena kami tidak saling mencintai satu sama lain. Sekarang aku menyadari sejak aku menggendongnya sebagai syaratnya itu, aku ingin terus menggendongnya sampai hari kematian kami."

Jane sangat kaget mendengar jawabanku. Dia menamparku dan kemudian membanting pintu dengan keras. Aku tidak menghiraukannya. Aku menuruni tangga dan mengendarai mobilku pergi menjauhinya. Aku singgah di sebuah toko bunga di sepanjang jalan itu, aku memesan bunga untuk istriku. Gadis penjual bunga bertanya apa yang harus kutulis di kartunya. Aku tersenyum dan menulis, "Aku akan menggendongmu setiap pagi sampai kematian menjemput."

Petang hari ketika aku tiba di rumah, dengan bunga di tanganku, sebuah senyum menghias wajahku. Aku berlari hanya untuk bertemu dengan istriku dan menyerahkan bunga itu sambil merangkulnya untuk memulai sesuatu yang baru dalam perkawinan kami. Tapi apa yang kutemukan? Istriku telah meninggal di atas tempat tidur yang telah kami tempati bersama 10 tahun pernikahan kami.

Aku baru tahu kalau istriku selama ini berjuang melawan kanker ganas yang telah menyerangnya berbulan-bulan tanpa pengetahuanku karena kesibukanku menjalin hubungan asmara dengan Jane. Istriku tahu bahwa dia akan meninggal dalam waktu yang relatif singkat. Meskipun begitu, dia ingin menyelamatkanku dari pandangan negatif yang mungkin lahir dari putra kami karena aku menginginkan perceraian, karena reaksi kebodohanku sebagai seorang suami dan ayah, untuk menceraikan wanita yang telah berkorban selama sepuluh tahun yang mempertahankan pernikahan kami dan demi putra kami.

Refleksi
Pasangan yang terkasih dalam Yesus Kristus, Tuhan memberkati pernikahan setiap manusia bukan untuk dihancurkan oleh keinginan ego kita masing-masing. Tuhan memberkati pernikahan untuk menjadikan kehidupan pernikahan sebagai tempat di mana pasangan memberi kasih satu dengan yang lain.  Kita belajar melalui kisah ini Betapa berharganya sebuah pernikahan saat kita bisa melihat atau mengingat apa yang membuatnya berharga. Ingat ketika dulu perjuangan yang harus dilakukan, ingat tentang kejadian-kejadian yang telah terjadi di antara kalian, ingat juga tentang janji pernikahan yang telah dikatakan. Semuanya itu harusnya hanya berakhir saat maut memisahkan.

Sekecil apapun dari peristiwa atau hal dalam hidup sangat mempengaruhi hubungan kita. Itu bukan tergantung pada uang di bank, mobil atau kekayaan apapun namanya. Semuanya ini bisa menciptakan peluang untuk menggapai kebahagiaan tapi sangat pasti bahwa mereka tidak bisa memberikan kebahagiaan itu dari diri mereka sendiri. Suami-istrilah yang harus saling memberi demi kebahagiaan itu. Amin